Jatuh Cinta Itu Sulit

Terhitung nyaris dua tahun saya sendiri. Awalnya sih biasa aja, lama-lama nggak munafik rasa sepi dan rindu menghantui.

Pengalaman terindah sekaligus terburuk memang terjadi pada pacaran terakhir. Nggak heran, kenangan manis sekaligus pahit masih terekam jelas sampai saat ini. Masih cinta? Nggak sama sekali. Malah seogah itu mau berhubungan lagi, pun sebagai teman. Ini pertama kalinya saya nggak berteman lagi dengan mantan. Biasanya seusai putus santai aja.

Terlepas dari itu semua, selama nyaris dua tahun ini saya sendiri dalam artian cinta-cintaan dengan lawan jenis. Awalnya sih santai aja. Sesantai itu. Saking santainya mungkin sampai nggak peka beberapa orang berusaha datang dan masuk ke hati.

Ya, tapi mau bagaimana lagi. Dulu saya masih semacam trauma. Malas aja meladeni flirting basa basi nggak berfaedah yang modusnya hanya sekadar pertanyaan keseharian. Contohnya udah makan belum? Kuliah nggak hari ini? fak. Ya sebenernya sekali dua kali gapapa. Kalo melulu tiap waktu enek.

Jujur, sejak mantan terakhir saya heran dengan diri saya sendiri. Kok saya sebelagu dan sesenga ini ya. Sok-sokan semacam punya standardisasi tinggi atau tembok tebal buat yang mau masuk ke hati saya. Saya nggak ingin sebenarnya, tapi ini terjadi begitu saja.

Misal A deketin saya. Kalau dari gelagat awal sudah ada bibit-bibit posesif langsung saya cut. Misal B deketin saya. Kalau lama kelamaan obrolannya gitu-gitu aja saya cut. Suka ilfeel aja gitu sama cowok yang gas banget dari awal. Kenapa sih nggak kayak jadi temen aja dulu gitu. Ngobrol apa gitu yang berfaedah atau apa lah ya diskusi dan hal menarik lainnya.

Kok saya kepedean alias kegeeran banget gini ya?

Kadang, bahkan sering saya mikir kok saya sok cakep amat ya? Sok jual mahal. Padahal muka juga KKM. Biasa-biasa aja. Rasanya udah ada yang mau deketin juga harusnya bersyukur.

Saya udah berusaha melawan diri saya sendiri kok untuk coba dulu aja Dew. Namun, saya memang nggak mau bohongin diri untuk terus lanjutin demi semata-mata punya pacar.

Tapi, ya bagaimana lagi. Bagi saya cinta nggak semudah itu hanya jadi teman ke kondangan atau foto lalu pamer di Instagram atau biar status berubah di profil Line. Lebih dari itu. Bagaimana bisa berkembang satu sama lain. Takaran ke depan gimana. Dan lain sebagainya. Ah terlalu banyak alasan kan?

Sudah nggak terhitung berapa kali teman-teman ngomelin saya soal sulitnya yaudah dulu aja coba sama A, B, C, dan lainnya. Nggak terhitung juga diomelin atau berujung yaudah terserah saya dan berusaha memaklumi sembari mengiyakan apa prinsip saya. Ya, bagaimana lagi, jatuh cinta itu sulit.

Selama dua tahun ini saya memang berusaha memulihkan diri, terutama hati dengan beragam hal. Ikut ini itu. Coba ini itu. Eksplorasi diri lebih jauh dan dalam. Apa-apa sendiri bisa kok. Buat apa? Awalnya emang mau nunjukin ke mantan kalau hey gue bisa jauh lebih baik tanpa lo ya, njxxx. Makin lama ya hanyut oleh kesibukan dalam rangka membangun diri. Sampai-sampai lupa kalau ternyata saya nggak sekuat itu nahan nggak cerita ke orang spesial (bukan sahabat atau teman) tentang hal remeh temeh sampai luar biasa serius.

Saya sih nggak munafik ya. Tentu ada hal berbeda kalau cerita ke orang, termasuk orang yang dirasa spesial soal cinta. Apalagi dalam masalah-masalah berat atau krusial. Dan itu saya landa selama 2017 sampai sekarang sebagai salah satu fase hidup paling berat dan dinamis.

Saya dari dulu memang berkawan banyak dengan cowok. Berbagai status sosial, umur, tingkat, dan lainnya. Jadi, hal biasa bagi saya untuk nonton berdua, jalan berdua, foto berdua, atau apa berdua. Ya karena saya biasa aja nggak jatuh cinta ke mereka. Apa karena ini ya jatuh cinta jadi sebegitu sulitnya bagi saya? Belum ada yang bagi saya spesial.

Dan belakangan saya kok makin merasa sepi. Saat saya mesti fokus ke beberapa hal dan nggak bisa seleluasa dulu. Belum lagi teman-teman juga makin sibuk dengan urusannya masing-masing. Scroll medsos kok kayaknya gitu-gitu aja. Malah banyak chat orang atau grup enggan saya balas.

Makin ke sini, permasalahan saya kok makin menjadi juga ya. Stress, panik, over thinking kian menjadi. Dari sisi sini situ sana sono semua memenuhi pikiran dan hati. Semua itu pun mesti saya tahan dan pendam seorang diri. Paling-paling kebawa mimpi atau nangis begitu saja sendiri. Kadang cerita ala kadarnya ke teman.

Saya yakin sih pasti ada netizen yang bilang kenapa nggak curhat ke Tuhan, ortu, keluarga, sahabat, dll. Ya orang yang pernah jatuh cinta pasti nggak bakal ngomong gitu sih. Feel-nya beda.

Selama dua tahun ini, sebenarnya saya nyaris jatuh cinta ke dua orang. Satu masih nyaris, satunya lagi hm mungkin sudah jatuh walau ragu.

Tapi, jatuh cinta itu sulit. Banyak hal berkecamuk dalam diri. Kadang mikir sih, jir kenapa ya giliran gue mau suka sama orang, dianya tuh susah didapat. Tapi, giliran ada yang deketin, gue ogah. Duh kok pelik ya urusan hati?

Soal pria 1 itu satu kampus dengan saya. Punya rumpun ilmu yang beda. Tarik ulur ampe putus dah nih sekarang. Awalnya yaudah aja selowlah ya tarik ulur. Lama-lama kok anying, gih deh kalau mau pergi. Saya pun memutuskan nggak mau jatuh cinta sama dia. Padahal udah berusaha ngerti kenapa dia begini begitu dan lainnya. Tapi, saya nggak mau mengulang hal yang sama karena ngerasa ada tanggung jawab ke orang karena beberapa hal, terutama soal cerita-cerita menyayat yang sudah ia pernah bagi ke saya.

Pria dua lebih unik dan menarik. Nggak pernah nyangka sih kok bisa sampe beneran. Ya sebenarnya saya harusnya dari awal sudah bisa sangka. Rasanya apa yang saya mau ada di dia semua. Tapi, gimana ya. Saya sesegan itu sama dia. Bahkan mau chat aja takut setakut itu. Nggak, dia nggak galak. Dia nyaris jadi cowok paling sempurna yang pernah saya temui sejauh ini (tentu selain bokap dan orang-orang yang beda klasifikasi). Mau chat aja saya takut dibilang caper dan ganggu. Tapi, serius deh yang ini tuh benar-benar semenarik itu. Satu hal: selalu bikin penasaran.

Tapi, ya pria 2 ini yaudah aja. Saya juga nggak berani memulai jauh. Setakut itu. Nggak mau rusak hubungan baik yang sudah terjalin. Dia juga kayaknya biasa saja sama saya.

Jatuh cinta itu sulit ya?

Selalu aja ada alasan atau hal yang menggagalkan saya jatuh cinta. Baik dari diri saya maupun orang itu. Utamanya sih memang dari saya sendiri. Banyak ketakutan? Banyak alasan? Banyak tapi?

Pupus saja nonton berdua, ngobrol dari pagi ketemu pagi, atau hal hahahihihi taikucing lainnya yang menjijikan tapi bikin rindu. Hal-hal yang kadang kita munafik mengakui bahwa pengen merasakannya lagi. Kangen soal kepercayaan buat berbagi kisah.

Belakangan memang saya mikir, hidup kok gini aja terus ya. Hambar amat, padahal banyak hal yang perlu diselesaikan (contohnya skripsi dan sederet kerjaan lain). Ada teman-teman juga sebenarnya. Toh juga selama ini saya fine-fine aja dengan beragam kesibukan. Saya jadi mikir lagi, kayaknya saya butuh sesuatu yang baru deh dalam hidup ini. Bukan aktivitas lagi tentunya, karena bisa-bisa saya keteteran.

Apa itu? Kamu tentu sudah bisa tebak apa itu.

Like what you read? Give Dewi Rachmanita Syiam a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.