Malam-malam yang Kacau

Saat ini aku masih terjaga, walau malam mulai berganti dini hari dan pagi. Aku terbaring di atas kasur dengan pikiran kacau tak menentu. Malam ini memperpanjang daftar malam-malamku yang kacau.

Bukan sekali dua kali saja malam yang kacau hadir dalam hidup ini. Selama semester enam ini, nampaknya kekacauan acap kali hinggap. Malam ini mungkin menjadi malam yang paling kacau, walau kewajiban-kewajiban perkuliahan sudah terlalui.

Aku kacau dan berantakan. Dari fisik hingga psikis. Raga dan jiwa. Rasa dan pikiran. Semua kacau balau tak tahu harus berbuat apa. Manusia ini penuh dengan keluh kesah dan cerita tertahan yang selama ini disimpan sendiri sampai-sampai menumpuk, membukit, menggunung hingga tak tertahan. Aku kehilangan diriku. Aku tak mengenal aku. Aku hanya melihat manusia tak karuan yang bingung dan tersesat menjalani hidup. Siapa aku dulu, siapa aku sekarang, dan siapa aku nanti?

Beberapa bulan ini begitu berat. Salah satu bagian terberat dalam hidup. Bukan semata-mata akademis, tapi berentet masalah lain yang silih berganti datang. Malam-malam yang kacau selalu berujung tangis tak tahu apa yang sebenarnya ditangisi. Rasa-rasanya bulir air mata itu kumpulan kepiluan beragam pikiran yang hinggap dalam diri dan letih tubuh memaksa keadaan. Terbengong saja di kasur menatap kosong langit-langit kamar sembari mendengar lagu di televisi atau belakangan ini merdunya suara imam Masjid Nabawi dalam tarawih.

Ada apa denganku?

Aku terdiam saja saat beribu pertanyaan mempertanyakan keadaanku sendiri pada malam-malam yang kacau. Aku tidak bisa menjawab. Aku seperti tenggelam dalam samudera dalam nan luas. Atau aku seperti tersesat dalam hamparan padang pasir yang mengharap adanya oase.

Apa oaseku itu? Akupun tak tahu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.