Membumikan EDM

Hoodie hitam dengan sablonan logo Alan Walker. Lock screen handphone bergambar Marsmello. EDM kini telah makin membumi, bahkan sampai ke kenek bus Primajasa jurusan Tasik-Lb. Bulus.
Hoodie yang sama persis dengan punya kenek bis Primajasa (http://www.aleeshoponline.web.id_

Dari kursi depan bis ini saya melihat sosok pria berbaju hangat warna hitam. Samar-samar terdapat logo di belakang hoodie-nya. Nampak tak asing bagi saya. Ternyata logo pemilik lagu Faded, Alan Walker.

Tak berhenti di situ, saat sang kenek itu duduk, terpancar cahaya dari telepon genggamnya yang memancing saya menelisik sedikit lebih jauh. Handphone layar sentuh dengan lebar sekitar 4" itu memiliki lock screen yang juga tak asing di pandangan saya. Seorang DJ bertopeng yang belum lama main di salah satu klub milik ISMAYA, Marshmello terpampang dalam smart phone itu.

Bukan kali ini saja saya melihat logo Alan Walker atau sosok Marshmello di benda keseharian masyarakat. Seperti saat saya sedang makan di Gemboel, kantin 24 jam wilayah Jatinangor. Siang hari itu saya tercengang dengan salah satu pegawainya alias aa’ Gemboel kenakan baju panjang hitam dengan logo Alan Walker di lengannya. Tak segan saya menyapanya sekadar memuji bajunya dan bertanya apakah ia tahu siapa yang dimaksud logo di bajunya itu. Jawabnya? Hanya gelengan kepala disertai tawa ringan.

So, what’s the point?

EDM makin membumi, tapi tidak diimbangi dengan literasi. Apa itu EDM, siapa pelakunya, dan lain sebagainya mungkin belum dipahami oleh banyak orang, termasuk di lingakaran para pegiatnya sendiri. Then, it’s time to educate people, right?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.