Menepi ke Lombok

Lombok kian di depan mata. #JalanBarengDewi kian menuju akhir. Bersama beberapa kawan baru, saya menyebrang dari satu pulau ke pulau lain hingga seberang Pulau Dewata.

Saya menyebrang dari Banyuwangi ke Lombok dengan kapal ferry. Bersama seorang wanita yang baru saya kenal, saya melintasi lautan lepas hingga Bali selama kurang lebih 30 menit. Di atas deck atas luar kapal, banyak cerita yang terbagi antara saya dengan perempuan yang saya lupa namanya itu. Walau tak ingat siapa namanya, saya yakini punya kontaknya, karena beberapa waktu selepas perpisahan di terminal, ia sapa saya di Line. Apa yang kami obrolkan sewaktu di kapal? Kebanyakan tentang jalan hidup kami masing-masing. Mulai dari curhatannya yang sedang kuliah keperawatan di Bali hingga rasa penasarannya tentang jurnalistik sekaligus pertanyaan-pertanyaan saya tentang perkuliahan di Bali.

Tawar Menawar di Bali

Saya ingat betapa wajahnya penuh ragu dan takut saat baru masuk ke kapal, sebelum kami berkenalan. Setelahnya saya tahu, ia memang takut karena baru kali pertama nyebrang sendiri. Dengan membawa helm hitam, ia menapaki tangga naik ke atas deck duduk di sebelah saya. Basa basi pertanyaan dasar terkait tujuan, lama-lama mulai ungkap tentang diri.

Saya ditemaninya sampai terminal Ubung. Selepas dari pelabuhan kami lekas-lekas cari elf yang akan antar ke Ubung. Tawar menawar sadis. Bagi saya ini salah satu pengalaman yang kurang mengenakan. Bukan terkait tawar menawarnya, tapi sikap orang-orang di terminalnya. Akhirnya sepakat Rp35.000 seingat saya sampai Ubung. Ternyata, pengalaman buruk saya soal terminal di Bali makin menjadi saat sampai di Ubung. Selisik punya selisik, kata teman-teman saya orang Bali dan cari-cari referensi terminal ini memang perlu diwaspadai karena banyak preman dan calo yang nekat. Di Ubung ini saya berpisah dengan perempuan yang menemani perjalanan panjang saya pada awal kehadiran saat itu di Bali. Perjalanan yang sepi dengan pemandangan kanan kiri hutan. Sesajen khas masyarakat Hindu hiasi elf. Beragam orang hilir mudik naik dengan tawar menawar yang tak kalah sadis pula seperti saya.

Di Ubung saya tertinggal bis yang akan langsung mengantar saya ke Pelabuhan Padang Bai untuk menyeberang ke Pelabuhan Lembar. Alhasil cari-cari kendaraan lain sebagai alternatif. Ada ojek dengan tarif yang meroket. Ada pula semacam travel dengan mobil APV yang akhirnya saya pilih. Kenapa? Karena nggak ada kendaraan lain! Inilah sebuah pelajaran, lain kali kalau mau ke Lombok lebih baik ikut rombongan yang mau summit ke Rinjani. Biasanya mereka akan menyewa pick up, bahkan langsung dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Lembar. Untuk deal dengan travel ini pun saya harus bolak balik tawar menawar harga sekaligus minta dikasihani sebagai backpakker perempuan seorang diri menuju Lombok. Akhirnya ibu-ibu pemilik mobil luluh dan mobil baru berangkat berjam-jam setelah deal harga karena harus menunggu mobil terisi penuh. Berjam-jam.

Di mobil yang dibawa pengemudi dengan cukup ugal-ugalan itu didominasi penumpang laki-laki. Beberapa dari mereka muntah-muntah tak sanggup menahan goyangan mobil. Saya yang sudah prepare bawa perlengkapan, seperti plastik dan obat-obatan pun memberi itu semua pada mereka. Heran saya, mengapa tidak menyalakan AC? Kaca mobil dibuka lebar-lebar. Suara radio lokal Bali diperdengarkan kencang-kencang. Di tengah kemacetan Denpasar hingga Padang Bai saya mencoba tidur walau dalam keadaan was-was.

Sebelah saya duduk seorang lelaki yang berasal dari Lombok. Sialnya, saat ini saya lagi-lagi lupa namanya, padahal jasanya sangat berarti bagi saya. Ia cerita banyak tentang Bali dan Lombok. Sesekali ia mengobrol dengan penumpang lain dengan bahasa Bali maupun bahasa khas daerah Lombok. Umurnya mungkin sekitar 27 tahun dengan tubuh yang kurus. Saya dan lelaki itu sama-sama turun di Pelabuhan Padang Bai dan memang berencana menuju Lombok. Bedanya, dia ke Lombok dalam rangka kerja, sedangkan saya untuk jalan-jalan mencari makan dari perjalanan dan hidup.

Pelabuhan Lembar dan Sekitarnya

Lelaki itu temani saya sampai malam hari di Lombok. Sedari di mobil travel, masuk pelabuhan, di kapal, dan menunggu teman di sekitar Pelabuhan Lembar ia memaksa untuk temani saya. Katanya kasihan dan rawan bagi perempuan, apalagi penyeberangan dari Bali waktu itu malam hari dan baru sampai Lombok malam.

Berjasa. Bagi saya orang ini berjasa sekali dalam penyeberangan menuju Lombok. Ia beri saran duduk di mana saat di kapal ferry. Cerita ini dan itu. Bahkan belikan saya pop mie yang harganya mahal saat di kapal. Bahkan, ia rela menunda lanjutan perjalanannya ke tempat kerja di Lombok demi menunggu saya sampai dijemput kawan di sekitar pelabuhan. Padahal saya sudah memaksanya untuk tidak menunggu saya. Sebenarnya agak merasa was-was juga. Namun, baiklah saya sudah siap kalau-kalau kejadian buruk menimpa. Untungnya tidak ada yang aneh-aneh.

Saat mulai menepi ke Lombok, saya sudah kontak-kontakan dengan kawan satu jurusan saya, Rahma untuk dijemput. Sebenarnya nggak enak karena itu sudah larut malam. Makin nggak enak lagi saat tahu ternyata saat menjemput saya, Rahma bersama kawan-kawan SMA-nya!

Sumpah, menepi ke Lombok di Pelabuhan Lembar agak was-was. Mengapa? Mungkin karena waktu itu malam, jadi sepi. Gelap pula alias minim pencahayaan. Beberapa bagian jalannya waktu itu rusak dan becek. Banyak orang-orang iseng. Keluar pelabuhan juga sepi. Alfamart dan Indomart sama saja. Warung makan bisa dihitung jari. Jalanannya memang mulus dan lurus, tapi tak banyak kendaraan yang lewat selain truk besar.

Di tengah kewaspadaan itu, akhirnya cahaya-cahaya lampu motor semakin terang dan dekat ke tempat saya duduk di Alfamart. Akhirnya Rahma dan kawan-kawannya datang menjemput saya. Saya pun berpamitan sekaligus ucapkan terima kasih kepada pria berjasa yang temani saya dalam perjalanan menepi ke Lombok itu.

Malam Pertama di Lombok

Menebeng Rahma dengan motor, saya susuri jalan-jalan pinggir Lombok di tengah cahaya bulan. Obrolan dibuka dengan tanya kabar karena saat itu musim liburan dan sudah lama tak berjumpa dengannya. Dalam obrolan yang kian seru itu, angin semilir berhembus membelah malam. Makin lama makin menuju keramaian Lombok. Akhirnya Lombok! Kota Seribu Masjid.

Kanan kiri sekeliling bertebaran masjid. Tak kecil, ukuran masjid-masjid yang jarak satu sama lainnya tidak jauh itu besar-besar. Indah pula dengan beragam ornamen dan arsitekturnya. Samar-samar dalam gelap malam saya lewat pula di depan Islamic Center. Ternyata memang kata Rahma, ada gengsi antar kampung kalau tidak punya masjid yang besar.

Saya dan Rahma mula-mula menuju kontrakan teman untuk konfirmasi kehadiran teman saya yang lain setelah turun summit Rinjani. Saya pun kenalan dengan beberapa di antaranya. Eh, kata Rahma saat di motor setelah pergi dari kontrakan itu ada yang mau kontak saya. Ya gimana ya, saya sih santai saja, Rahma yang bersih kukuh menolak.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah kawan Rahma lain. Di jalan sudah mulai ada rasa nggak enak. Bensin habis! Kok bisa-bisanya musibah yang seharusnya nggak jadi musibah itu datang pada tengah malam nan sepi begitu. Belum lagi bon motor bocor. Ada-ada saja sampai ada-ada saja ibu penjual bensin eceran baik hati memberi dagangannya secara cuma-cuma ke motor kami. Nyasar. Ada-ada saja lagi malam itu. Untungnya kawan Rahma, Elok siap datang menjemput kami.

Malam pertama di Lombok saya menumpang nginap di rumah Elok. Baru datang sudah disambut baik dan disuguhi beragam makanan. Hingga sekarang saya masih berhubungan dengan Elok. Belum lama ini ia baru lulus dari perkuliahannya. Terimakasih Elok dan keluarga atas jamuannya!

Malam pertama di Lombok yang sungguh berkesan dengan beragam kisah. Ini baru malam pertama, masih ada sekitar tujuh malam lagi yang akan saya lalui di daerah yang jadi salah satu destinasi wisata halal terbaik di dunia!