Per-Travel-an di Kutojaya Selatan

Ada yang berbeda dengan perjalanan menuju Jogja kali ini, yakni kereta yang saya naiki. Bukan lagi Kahuripan berbiaya Rp82rb, tapi Kutojaya Selatan dan sambung lagi dengan kereta lokal Prambanan Express. Di bangku 19–20 malam menjadi hidup dengan obrolan dunia travelling.

Saya duduk di 20D gerbong 2. Letaknya pojok dekat jendela. Dalam kursi 2–2 ini saya dikelilingi bapak-bapak bertumbuh gempal yang akan turun di Kebumen dan Maos. Dua di depan saya asalnya dari daratan Jawa, sedangkan sebelah saya dari sebrang yakni Bengkulu. Ketiganya memiliki keperluan masing-masing di tempat tujuan, ada yang urusan kerja, bertemu orang tua, dan menghadiri acara syukuran pernikahan. Namun, terdapat kesamaan dari ketiganya: fasih dunia travelling.

Di depan saya terlihat betul sudah hatam jalan-jalan dengan kereta. Sebelahnya bekerja sebagai agen wisata di Bandung. Sedangkan kanan saya sering bepergian ke banyak tempat, termasuk luar negri. Perjalanan pertama ke Jogja lewat Kutoarjo ini saya lalui dengan percakapan dunia wisata tanah air, mulai dari akses ke tempat-tempat kesukaan turis, pengalaman tingkah laku para wisatawan, hingga rekomendasi destinasi wisata di kampung mereka masing-masing.

Saya tertarik sekaligus sejalan dengan obrolan para laki-laki tua ini. Bukan hanya memang senang jalan-jalan, tapi juga karena orang tua saya kerja dalam ranah pariwisata. Ada kecocokan obrolan di antara kami di kereta yang berangkat dari Stasiun Kiaracondong pukul 21.00 ini.

Mula-mula tentu basa-basi stasiun tujuan, asal, dan hal dasar lain. Lalu berlanjut tentang pekerjaan yang membawa masing-masing dari mereka jalan ke sana ke mari. Banyak cerita menarik, khususnya tentang para bule yang berwisata di Bandung. Tiap bule memiliki karakternya masing-masing, seperti pelit, bawel, dan lain sebagainya. Ada pula cerita tentang pengalaman naik kapal dari Tanjung Priok ke Samarinda. Bahkan cerita tentang perceraian rumah tangga yang membawa ke berbagai destinasi wisata baru di kampung istri kedua.

Selalu ada hal menarik dan baru dalam perjalanan panjang kereta. Selalu ada cahaya lampu-lampu di antara gelap samar pemandangan luar jendela kereta. Cerita ini saya tulis saat kereta sedang berhenti di Stasiun Tasikmalaya sembari diam-diam menyimpan kerinduan dengan orang yang akhirnya kembali.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.