Ratusan Wajah Affandi di Jogja

Bangunan-bangunannya gelap dan lusuh dengan sebuah gapura besar. Letaknya di pinggir kali dan jalan raya. Terdapat sebuah lahan kosong pula di atas salah satu bangunannya. Pintu masuknya dipenuhi tanaman rambat. Kok Museum Affandi Yogyakarta ini seperti tidak terurus, ya?

Itulah pandangan pertama saya saat lewat Museum Affandi yang terletak di Jalan L. Adisucipto 167 yang menghubungkan Yogyakarta dengan Solo. Letaknya memang benar-benar di tepi barat sungai Gajahwong. Walaupun terdapat plang penunjuk nama museum, pintu masuknya dihiasi banyak tanaman rambat dan agak condong ke dalam membuat museum ini agak tersamarkan keberadaannya. Selain itu, meskipun lokasinya di pinggir jalan raya, tapi bangunannya kurang terlihat sebagai museum apabila tidak dengan sekasama mengamatinya.

Dani-Saya-Irfan-Ashari. Semua sudah lulus kuliah, kecuali saya.

Saya bersama beberapa rekan dari Youcan Indonesia pun mencoba curi-curi waktu menelusuri Museum Affandi dalam tagar #JalanBarengDewi. Tidak sulit nampaknya untuk menuju museum ini. Dari brosur yang saya dapat, dari pusat kota hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit (jarak 5km). Waktu bukanya sendiri setiap hari dari pukul 09.00–16.00 WIB dan tutup pada hari-hari libur nasional serta permintaan khusus.

Museum Affandi terdiri dari beberapa bangunan yang memang merupakan kediaman Affandi semasa hidup. Memiliki luas sekitar 3.500 m2, bangunan-bangunan ini memang dirancang sendiri oleh Affandi. Di museum ini pula setidaknya terdiri dari tiga galeri studio dan bangunan pelengkap lain, seperti kamar tidur untuk Affandi dan istri-istrinya, ruang dapur, dan malah terdapat makam Affandi dan istrinya pula sebagai tempat peristirahatan terkahirnya.

Saat pertama kali masuk ke museum ini, saya dan rekan-rekan langsung menuju loket tiket. Harga tiket untuk turis lokal sebesar Rp10.000,00 untuk anak, Rp20.000,00 untuk dewasa, dan mancanegara Rp50.000,00. Selain itu, ada biaya tambahan pula untuk kamera sebesar Rp20.000,00 dan kamera ponsel Rp10.000,00. Harga tersebut sudah termasuk minuman dingin yang akan didapat pada akhir perjalanan keliling museum.

Tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang di Museum Affandi saat saya datang. Suasana penuh estetika mulai terasa dan rasa lusuh sebelum masuk museum mulai pudar saat menapaki kaki ke dalamnya. Banyak tumbuhan di sudut-sudut bangunan bersama patung buatan Affandi. Bentuk-bentuk bangunannya pun jarang ditemui di tempat lain. Para pengunjung tidak semena-mena masuk ke sana ke mari, tapi digiring mengikuti tahapan kunjungan ke spot-spot yang ada.

Saya di Galeri I

Galeri I sebagai spot pertama pengunjung berbentuk seperti daun pisang. Di bangunan yang memiliki luas 314.6 m2 dan diresmikan Direktur Jenderal Kebusayaan Prof. Ida Bagus Mantra pada 1974 ini berisi lukisan-lukisan karya Affandi. Setidaknya ada sekitar 300 lukisan dari awal hingga akhir masa hidup Affandi di museum ini. Padahal, Affandi sendiri sudah melukis lebih dari 300 karya. Sisa karyanya menurut guide tersebar di banyak kolektor dan tempat-tempat lain. Tak hanya lukisan dari cat minyak dan cat air, di Galeri I ini terdapat pula dua patung potret diri dari tanah liat dan semen, kursi-kursi kayu yang masih asli sejak dulu, serta patung Affandi bersama seorang putrinya, Kartika. Di sudut ruangan terpampang pula mobil kesukaan Affandi semasa hidupnya yang telah dimodifikasi menyerupai ikan. Berbagai penghargaan dan benda-benda milik Affandi lainnya terpampang pula di lemari dalam Galeri I ini. Contohnya, terdapat sisa-sisa cat, baju, dan cerutu.

Suasana di Galeri I

Saat masuk Galeri I saya dan rekan-rekan langsung disambut seorang bapak tua sebagai guide Galeri I. Ia menjelaskan lukisan-lukisan Affandi secara lengkap dan dalam. Mulai dari perkembangan lukisan Affandi hingga menjadi aliran ekspresionis sampai kebiasaanya untuk selalu merokok saat melukis. Terdapat tiga pembagian dalam salah satu dinding yang penuh lukisan. Di sisi lain terdapat sebuah balkon untuk melihat lukisan yang berada di dinding bagian atas. Galeri I ini memang memiliki atap yang tinggi dengan dindingnya yang berwana hijau tosca.

Suasana di Galeri II

Setelah dari Galeri I, kami diarahkan guide ke Galeri II. Di sini masih berisi karya-karya Affandi, tapi kebanyakan berisi sketsa-sketsa di kertas. Karya-karya tersebut dibuat Affandi saat kondisi-kondisi yang tidak memungkinkannya membawa kanvas dan peralatan lukis lainnya. Tak hanya berisi sketsa saja, di Galeri II ini terdapat lukisan termahal karya Affandi seharga 7 miliar rupiah berjudul “Wajah-wajah Putra Irian”.

Kami di depan lukisan termahal Affandi “Wajah-wajah Putra Irian”

Galeri II memiliki luas 351.5 m2 dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk pameran bagi masyarakat umum, sedangkan lantai dua perpustakaan bagi orang tertentu.

Beralih ke Galeri III, susasana bangunan modern dan pencahayaan yang banyak lebih terasa. Saat masuk langsung disambut tangga kecil melingkar menuju ruangan di atas galeri. Sayangnya masyarakat umum tidak bisa naik ke sana. Galeri III ini sendiri memang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk pameran karya, lantai dua untuk perawatan atau perbaikan lukisan, dan ruang bawah tanah untuk penyimpanan lukisan.

Di spot ini pengunjung tidak hanya dapat menemukan lukisan karya Affandi, tapi juga anak dan istrinya. Terdapat pula hasil sulaman dari salah satu istri Affandi, yakni Maryati. Selain itu, ada sebuah televisi dan dvd player bersama kursi-kursi untuk menonton film dokumenter tentang Affandi. Pengunjung juga dapat melihat beberapa patung kecil.

Setelah keluar dari Galeri III barulah pengunjung bebas ke spot-spot lain. Salah satunya adalah sebuah menara yang apabila kita naik ke atas akan terlihat pemandangan jalan dan sungai Gajahwong. Di salah satu sudut bangunan terdapat sebuah taman kecil yang dihiasi banyak tumbuhan indah. Area terbuka ini ternyata makam Affandi dan istrinya. Tidak ada kesan seram sama sekali, malah keindahan karena terpampang pula bersama sebuah pahatan yang menggantung di dinding.

Museum Affandi juga berfungsi sebagai rumah dulunya. Tidak heran ada bangunan-bangunan lain penunjang rumah tangga. Tempat tinggal Affandi berbentuk rumah panggung dengan tiang utamanya dari beton dan kayu serta atapnya dari sirap berbentuk pelepah daun pisang. Bagian atasnya merupakan kamar pribadi Affandi dan bawahnya adalah ruang tamu serta garasi mobil. Terdapat pula sebuah bangunan dari gerobak yang disulap menjadi sebuah kamar disertai dapur dan toilet. Bangunan itu merupakan tempat salah satu istri Affandi, Maryati untuk istirahat pada siang hari dan menyulam karya-karyanya. Bentuk bangunannya menyerupai “caravan” orang Amerika dari ide Affandi sendiri yang kini dialihfungsikan menjadi Musola.

Selain bangunan-bangunan tersebut, ada spot lain yang acap kali jadi swafoto pengunjung. Contohnya sebuah lahan kecil dengan pahatan wajah Affandi dan istri-istrinya di dinding, kafe Loteng, toko sovenir, perpustakaan, Studio Gajahwong I, dan Studio Gajahwong II. Kedua Studio Gajahwong itu ditujukan untuk pameran dan sarana belajar melukis anak-anak.

Museum Affandi menampilkan banyak karya dari banyak orang pula. Affandi masih terasa hidup dalam wajahnya yang tervisualisasikan oleh banyak media seni, seperti lukisan, pahatan, dan patung. Lewat Museum Affandi, ratusan wajah Affandi hadir di Yogyakarta. #JalanBarengDewi

Video Museum Affandi oleh YouTube Museum Yogyakarta
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dewi Rachmanita Syiam’s story.