Sayang disayang Lebetawi

Sayang disayang malam ini harus pulang. Sayang disayang hati ini masih senang. Bulan dan bintang seakan menghilang, karena kita harus pulang. Sayang disayang, semua hanya untuk dikenang.

Tiba-tiba saat memutar lagu “Sayang disayang” dari Naif di album barunya itu teringat tentang salah satu pengalaman terbaik saya dalam hidup, yakni melakukan perjalanan ke Desa Lebetawi, Kota Tual, Maluku. Lirik-liriknya yang syahdu dilanjutkan dengan harap andai bisa kita semua tuk di sini selamanya seakan mewakili perasaan akan wilayah timur Indonesia tersebut menjelang kepulangan. Lebih dari 7 hari menghabiskan waktu dari di kapal-desa-kapal pulang lagi membawa kenangan tersendiri yang tak bisa terulang.

Mengarungi lautan selama lima hari membuat diri berkecamuk rasa penasaran ada apa di balik cakrawala itu. Lautan luas berbatas dengan langit megah telah terseberangi. Tanah Maluku itu akhirnya terinjak dan kini menyisakan kerinduan dengan desa 1000 malam, Desa Lebetawi.

Foto: Ginanjar M. Panggalih

Masih ingat betapa saya dan teman-teman baru mencari beragam cara untuk membunuh kebosanan di atas kapal Pelni Ngapulu. Beragam cerita menarik dalam perjalanan telah tergores indah dalam benak. KM Ngapulu itulah yang akhirnya menepi dan membawa kami dalam perjalanan yang jauh lebih indah lagi di sebuah desa.

Sekitar pukul 2 kapal bersandar di Pelabuhan Kota Tual. Barang-barang bawaan telah siap turun kapal, pun kami. Tiba-tiba segerombolan bapak-bapak bertubuh besar dan berwarna kulit gelap menghampiri saya dan teman-teman di deck paling bawah saat menanti waktu untuk turun kapal. Inilah kali pertama kami bertemu dengan warga Desa Lebetawi. Rupanya mereka menjemput kami sedari masih di atas kapal. Rupanya mereka mengantar kami dengan mobil ke desa. Rupanya mereka ini yang kemudian kami kenal keramahannya sampai saat ini, walau beberapa berprofesi sebagai body guard di club-club Jakarta.

Ramai. Tak beraturan. Minim penerangan. Itulah gambaran akan Pelabuhan Kota Tual. Buru-buru saya dan rombongan diarahkan warga desa menaruh barang di angkot dan naik ke mobil jemputan. Inilah perjalanan awal saya di Maluku dengan harap-harap cemas akan keadaan ke depan.

Menjelang pagi

Mobil keluarga merek perusahaan Jepang itu melaju cepat dalam jalanan mulus jarang berlubang. Kanan-kiri jalan jarang rumah penduduk dan didominasi pepohonan. Tak banyak penerangan berarti selama perjalanan, pun kendaraan lain. Hanya satu atau dua motor saja yang terlihat waktu lewat larut malam itu.

Dini hari tersebut saya naik mobil bersama beberapa rekan perempuan dan dua laki-laki Desa Lebetawi yang duduk di depan. Tidak terlalu banyak diam, tidak terlalu banyak bicara pula. Obrolan mulai terjalin mulai dari perkenalan singkat dan tanya-tanya terkait Desa Lebetawi atau Kota Tual. Makin ramai obrolan setelah Ima, salah satu peserta You Can yang memang asli Kota Tual bicara bahasa Kei. Walau masih dini hari, pria-pria yang saya yakini menahan rasa kantuk ini berusaha meladeni saya dan teman-teman dalam tiap pertanyaan yang kami lontarkan.

“Ini di depan sudah laut,” ujar Abang yang saya lupa namanya itu sesaat sebelum mobil berbelok ke arah kanan.

“Mana, Bang?” tanya saya yang tidak melihat lautan karena gelapnya malam.

Tak berapa lama mulai samar-samar terlihat laut gelap di samping jalan. Sepanjang jalan menuju Desa Lebetawi ialah lautan luas. Deburan ombak sayup-sayup terdengar mengiringi perjalanan saya menuju desa yang berpenduduk hampir 1000 orang itu seakan ingin segera menampakki diri untuk dijamah mesra dalam renang lepas. Rasa penasaran kian menjadi tentang hari esok dan kemudian.

Tiba-tiba klakson mobil berbunyi kencang dan berkali-kali saat memasuki wilayah desa. Semua mobil. Saya heran, pun dengan yang lainnya. Ternyata itu sinyal ke seluruh warga desa bahwa rombongan saya telah sampai di pusat desa. Serius? Ini waktu menjelang pagi dan orang-orang biasanya masih terlelap dalam mimpi panjangnya. Belakangan saya tahu, ternyata hampir semua warga desa memang terjaga dan excited menunggu kedatangan rombongan You Can ini.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah. Berwarna cukup mencolok dan hampir serupa bentuknya dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Beberapa orang menyambut sekaligus mempersilakan kami masuk ke rumah tersebut. Inilah kali pertama kami bertamu di Desa Lebetawi, langsung ke rumah kepala desa.

Menuju matahari terbit, sambutan hangat sudah terasa. Banyak orang, baik laki-laki atau perempuan menyambut dan menyalami kami serta mengucap selamat datang. Mereka suguhkan kami beragam hidangan, mulai dari camilan, teh manis hangat, hingga makanan berat berupa sayur sop, ikan, telur, dan lauk pauk lain. Nampaknya mereka memang sudah memprediksi kami yang sungguh kelaparan sedari di kapal. Akhirnya menikmati “makan” dalam definisi yang sesungguhnya setelah panganan yang menjemukan sekitar lima hari.

Menjelang pagi dengan terang bulan di angkasa, saya segerakan sholat subuh saat adzan berkumandang. Sujud pertama di tanah Maluku dalam sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Tak ada mukena atau sarung tersimpan di dalamnya. Terdapat sekat pembatas memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan yang akan bersimpuh ke Tuhan. Dua perempuan dewasa dan seorang perempuan kecil bermukena putih telah duduk tersimpu menunggu qomat. Sedangkan saya terdiam mengamati interior masjid yang didominasi putih sembari menunggu pinjaman mukena.

DWP ala Lebetawi

“Ganti sepatu sana, Wi!” ucap Mba Acha, pendamping program saat melihat saya mengenakan sandal.

Emang nggak boleh?”

“Nggak enak, orang desa rapih-rapih.”

Saya tak berpikir sambutan resmi sekaligus upacara adat akan meriah dan dihadiri hampir seluruh warga desa. Saya tak berpikir pula antusias warga sungguh membuat haru. Saya tak berpikir lagi juga bersama lainnya dijemput dari rumah bernaung ke balai desa dengan angkot bermusik khas Maluku padahal jaraknya yang tak jauh-jauh amat.

Penyambutan diawali dengan tarian adat yang dibawakan anak-anak Desa Lebetawi. Mereka kenakan kaos dalam putih dengan celana merah yang mungkin merupakan seragam mereka bersekolah. Wajah mereka tercoreng beberapa garis hitam. Panah dan ikat kepala menjadi pelengkap dalam tarian menyambut kami. Kanan-kiri jalan penuh warga menonton penari dan kami yang orang asing ini. Beberapa dari mereka sibuk mengabadikan momen, baik penari maupun kami. Beberapa melambaikan tangan sebagai tanda selamat datang dan sapaan kepada kami yang siap tidak siap mengabdi di desa.

Beberapa perwakilan dari tim You Can Social Expedition menerima kalung simbolis selamat datang sebagai tanda diterima di desa. Riuh tepuk tangan semakin kencang. Warga semakin merapat. Tua muda berdesakan, terlebih saat ada tarian kedua dari para perempuan berpakaian abu-abu. Uang-uang keluar dari saku menuju piring sebagai saweran.

Tak berhenti di situ, acara terus berjalan ke perkenalan satu per satu tiap rombongan yang menjelma menjadi ajang candaan soal jodoh. Setelahnya nunasa hiburan kembali terasa ala Djakarta Warehouse Project (DWP) khas Desa Lebetawi. Bila DWP menjadi gelaran akbar festival musik elektronik dan nomor wahid se-Asia, maka penyambutan di Desa Lebetawi ini tak kalah walau tanpa sang Disc Jockey (DJ) di atas deck.

Para wanita bak promosikan dirinya berliuk-liuk seperti penari profesional dalam alunan lagu beat kencang. Dua lagu utama yang terus terngiang sampai saat ini: Tobelo dan Nona Kai Ratu. Beat cepat dengan instrumen khas berpadu dalam lirik bahasa Kei yang tak saya pahami apa maknanya. Ada rapp di beberapa bagiannya juga yang semakin mematenkan bahwa hip hop kian meroket. Sayang, bass kurang terasa. Meskipun begitu, dua lagu itu rasanya membius diri dan kawanan saya lain untuk larut berjoget bersama.

Nona Kairatu di YouTube

Sudah memang dasarnya anak musik elektronik yang jadi hal lumrah keluar-masuk club berjoget ke sana ke mari, tak sulit bagi saya bergerak mengikuti beat yang terhentak dalam musik-musik tersebut. Rupanya ini menimbulkan petaka atau seharusnya disyukuri sekaligus. Salah seorang pemuda ingin berkenalan, kata seorang pemudi yang menjadi kawan dan terus saya jaga hubunganya-Mita. Sampai akhir perjalanan bahkan terus saja Mita tak henti ajak saya berkenalan dengan pemuda asli Lebetawi tersebut yang tak jua saya kabulkan.

“Kaka Dewi, itu yang itu orangnya yang mau kenalan. Saya kenalin ya,” tutur Mita yang meraih beasiswa jurusan Hukum di Universitas Ambon.

Difur

Oh apa yang lebih indah ketimbang berenang di lautan dengan air tenang sembari menikmati pemandangan mentari kian tenggelam di ujung cakrawala? Belum lagi gerombolan ikan kecil berlompatan renang ke sana ke mari di sekitar. Hamparan pasir halus di dasar laut dengan hiasan terumbu karang turut membuat kasih sayang itu turun dari mata ke hati.

Melewati banyak hari di desa yang punya ketua adat dan ketua desa dalam ranah administratif ini, tak jarang ritual mandi asin alias mandi sore saya lakukan di laut. Bersama beberapa kawan You Can dan kawan dari Lebetawi kami membilas diri sembari menikmati semesta milik Tuhan yang tiada duanya. Terkadang langit berwarna jingga, tak jarang agak merah muda, beberapa kali abu, semua tetap indah dan bikin jatuh cinta berkali-kali saat bertabrakan dengan birunya laut luas.

Di satu bagian, dermaga kokoh berdiri. Setapak demi setapak saya menyusuri bangunan dari kayu itu. Duduk-duduk santai berdiam diri atau berbincang dengan kawan dalam sore begitu nikmat. Belum lagi para bocah Lebetawi beraksi menyuguhkan penampilan loncat indah dari atas dermaga menyelami lautan.

Jika pantai itu letaknya hanya beberapa langkah dari pemukiman, maka ada pantai yang punya keindahan tersendiri lainnya. Letaknya cukup jauh dari pusat pemukiman Desa Lebetawi. Kebanyakan orang naik motor atau kendaraan lain untuk sampai sana, kecuali saya dan Isbram dalam beberapa waktu. Ke Difur kami berjalan sekitar 2 km menyusuri daerah-daerah terluar Desa Lebetawi yang sejatinya punya empat RT ini, menapaki sebagian jalan aspal nan mulus yang tak jarang separuh jalannya untuk menjemur ikan puri (semacam ikan asin) dengan diiringi suara para penghuni hutan yang bersautan.

Jalan menuju Pantai Difur naik-turun. Menuju pintu masuk pantai terdapat area bekas galian pasir tak terurus di kanan dan kiri jalan. Penanda masuk obyek wisata ini pun hanya sebatas portal dan ruang kecil tak bertuan penuh coretan. Begitu kontras dengan pemandangan alam yang terpampang setelah berjalan beberapa langkah lagi dari gerbang itu.

Pohon kelapa menyambut saya saat memasuki Difur. Setelahnya ada pohon-pohon di sepanjang bibir pantai yang meneduhkan suasana. Beberapa saung terbangun beragam ukuran dan warna. Hutan langsung terlihat pula berdampingan dengan lautan dengan beragam tingkatan warna biru. Ini tak seperti kebanyakan pantai lain. Setidaknya selama perjalanan saya sejauh ini.

Begitu berseri saat menginjak pasir putih di Difur dan tergerus ombak sedikit demi sedikit. Belum lagi candaan dengan para kawan You Can lain yang semakin membuat hangat suasana. Kecuali momen saat smart phone Intan yang terpaksa harus mati karena tercebur ke laut.

Bukan itu saja tentang Difur yang bikin saya jatuh cinta berkali-kali sampai sekarang. Tapi, juga soal keripik pisang dan kerang khas yang dijual di pasar masih dalam area pantai Difur. Panganan itu dijual oleh para mamak yang memasaknya langsung di sana dengan kompor minyak tanah. Usut punya usut rupanya mereka banyak yang masih takut memasak dengan kompor gas, selain harganya yang mahal. Ternyata pula kerang yang berpiring-piring saya makan dengan harga murah bahkan gratis itu punya nilai jual salah satu yang termahal dalam kancah kerang!

Saat surut, menurut penuturan warga kita bisa menyebrang ke pulau seberang dengan berjalan kaki. Tak terbayang bagi saya apa rasanya itu membelah lautan seperti Nabi Musa dengan tokat. Bedanya ini bukan karena keajaiban lewat tongkat milik nabi, tapi kuasa Tuhan terhadap alam. Saat masa surut, datanglah musim panen dan ritual memeti pun hadir. Masyarakat berbondong-bondong mengambil sumber daya alam laut dari bibir sampai tengah pantai secara manual bermodal tangan terampil dan sebuah ember sebagai wadah.

Ah, saya kembali jatuh cinta lagi saat harus membelah hutan mencari Goa 7 Putri bersama Isbram dan kawanan Komunitas Pencinta Alam (KPA) Himalaia serta para bocah yang menjelma menjadi tour guide atas nama kewajiban divisi Ekonomi sub Pariwisata. Pagi itu, saya dan Isbram entah mengapa percaya saya dengan sekitar tiga orang bocah yang hendak menunjukkan kami beragam tempat khas dari Difur. Mulai dari sarang burung, tempat di atas bukit yang katanya terdapat singgasana raja, dan gua-gua. Memang, di tepi pantai terdapat sebuah gundukan pasir besar seperti bekas sarang burung. Tak jarang telur burung itu menurut para bocah mereka makan. Beragam mitos dan kebiasaan lain juga mereka tuturkan kepada kami kemudian.

Ada satu yang bikin miris, yakni kebiasaan menangkap burung langka atau makan telur hewan langka yang mendiami wilayah hutan dan sekitar pantai. Bahkan itu dilakukan oleh para bocah dengan menjerat hewan tersebut lewat trik-trik khusus. Bukan itu saja, anggrek-anggrek langka pun dijamah. Mereka pun tak tahu itu semua dilindungi oleh hukum dan berdalih jumlahnya masih berlimpah. Betapa informasi dan pendidikan belum menyentuh dalam titik itu dan sadarkan saya soal pendidikan yang sejatinya tak melulu soal 1+1=2 atau hafalan sejarah proklamasi Indonesia, tapi lebih dari itu. Tentang kehidupan ranah dasar yang mereka jalani, juga lingkungan semesta mereka yang berpengaruh pada cara pikir.

Untungnya, KPA Himalaia berusaha menjadi jembatan informasi, khususnya soal kelestarian pantai Difur. Mereka dengan tegas menolak adanya penambangan pasir yang timbulkan efek buruk. Selain itu soal sanitasi air bersih yang berusaha mereka jaga, khususnya mata air di dalam gua-gua di tengah hutan karena khawatir serupa dengan beberapa gua lain yang tercemar septic tank. Pun soal kelangkaan biota.

Betapa indah memang gua-gua tersebut seperti surga tersembunyi di tengah hutan tepi pantai. Air tawar memenuhi dasar gua dengan kedalaman lebih dari tiga meter begitu jernih membiru menyambut saya yang dengan susah payah dan sudah belepotan tanah melakukan caving. Terdapat gua-gua yang saling terhubung, tapi memang harus ditempuh dengan diving. Ini seperti Gua Hawang yang terkenal di sudut Kepulauan Kei lain. Namun, ini versi jauh lebih bersih dan sulit terjamah. Bayangkan saja, jalan menuju lokasi gua belum jelas. Jangan harapkan plang, pemandu bahkan beberapa kali salah belok. Selain itu, acap kali perlu naik batang pohon dan pengalaman di hutan lainnya layaknya trekking pada umumnya perlu dilakoni.

Gua yang pertama kali saya dan kawan-kawan You Can lain kunjungi tidak punya kedalaman begitu fantastis. Terdapat mata air nan segar pemuas dahaga setelah berjalan. Saat mengadah ke atas, batu besar seperti menyanggah bebatuan lain di kanan-kirinya. Konon, para putri turun dari kayangan dan mandi di sini dan pancarkan tujuh warna pelangi.

Pengalaman caving lainnya terjadi seusai adanya diskusi dengan sedikit stakeholder parisiwa Desa Lebetawi. Kawan-kawan KPA bersama orang lain mengajak saya, Isbram, dan beberapa rekan You Can lain untuk menelusuri gua-gua lainnya yang berhasil mereka temukan. Masuk guanya pun perlu hati-hati dan kecerdikan. Selain licin, ruang untuk turun ke gua begitu sempit dengan sudut cukup terjal. Namun, itu semua terbayar saat sampai di dalam gua. Samar-samar dengan lampu seadanya dari handphone berusaha menikmati sensasi caving pertama saya dengan suguhan kolam gua. Mas Deni yang ikut bahkan tak kuasa menahan diri untuk tidak berenang di gua tersebut. Rasanya ingin ikut terjun, tapi tak bawa ganti. Belum lagi saya pakai jeans yang pasti akan sulit kering atau menyulitkan saat kembali pulang karena beban air yang bertambah dalam tubuh.

Jika Titania Febrianti dalam laporannya berjudul “Menyibak Keelokan Kelam Bumi” dalam National Georaphic Travel edisi Desember 2010 begitu terpesona dengan gua di Luweng Grubug, maka ini kali pertama terpesona dengan gua dan itu di Lebetawi.

Para mamak, bocah, dan seisi Lebetawi

Saya dan kawan-kawan You Can hidup dalam dua rumah terpisah. Mamak-mamak menjadi mamak kami seperti di rumah. Mereka masaki kami hidangan manjakan lidah, contohnya cumi, papeda, ikan bumbu kuning, dan lainnya. Bapak juga demikian perhatiannya kepada kami menawari rokok atau kopi di teras-teras rumahnya. Begitupun para bocah yang tak kenal waktu datang sembrono masuk rumah inginkan bermain atau bersenda gurau bersama. Warga golongan usia lain juga begitu antusias mengajak ke sana ke mari menjelajah pantai yang disinyalir jadi obyek pertama yang terkenal di Kepulauan Kei itu lebih jauh.

Para mamak, bapak, bocah, dan seisi warga Lebetawi itulah yang mewarnai hidup berhari-hari di desa dengan dua marga: Renggur dan Renleeuw. Mereka yang begitu antusias memanjat pohon kelapa, memetik buahnya, melempar ke bawah, membuka, dan menyuguhkannya ke kami. Para warga Lebetawi ini yang berbondong-bondong ke Pantai Difur dengan semangat berapi-api untuk lomba masak yang diadakan divisi Ekonomi. Begitu nikmat mencicipi makan khas Lebetawi hasil olahan laut dari para mamak di lomba masak itu.

Belum lagi para bocah-bocah bandel nan dirindukan. Terlebih lagi tentang saya yang “diceng-cengin” cengeng. Brengsek memang, tapi sungguh bikin rindu. Mereka inilah yang narsis saat penyuluhan sikat gigi yang benar oleh Mas Ozy dan Restu. Bukannya sikat gigi yang benar dalam pelataran wudhu masjid, malah sudah pasang gaya bersiap difoto.

Ada lagi para remaja yang terbagi ke dua kubu senantias mengantar kami ke mana pun kami inginkan atau tunjukkan kami beberapa fakta baru soal Lebetawi. Mereka yang menyapa kami di jalan dan tanya kami sudah makan belum. Apalagi si Mita. Si cewek berambut blonde yang sukanya nemplok ke beberapa cowo You Can penuh arti dalam hidup di Lebetawi. Sekarang jadi bertanya-tanya, apa dia sudah menikah ya? Lantaran dulu sudah bertunangan dengan seorang pria.

Ingat betul betapa beruntungnya kami untuk berkesempatan menyusuri tempat-tempat wisata di Kepulauan Kei lain, seperti Gua Hawang dan Pulau Bair. Menumpang truck terbuka dan kapal nelayan kami menjelajah tanah dan laut Maluku dengan keindahan di dalamnya. Menyusuri satu persatu keindahan alam yang patut disyukuri.

Hampir seisi warga Lebetawi ini memang pancarkan kasih sayang, sesuai dengan pepatah yang selalu mereka junjung: vangnanan atau kasih sayang. Merekalah yang kocar kacir saat saya dan lainnya terbirit-birit pulang takut ketinggalan kapal. Ditambah lagi niatan bocah-bocah SD untuk memalang jalan saat tahu rombongan You Can akan pulang. Tak lupa tangis air mata mereka menghiasi kepulangan kami dan berpesan soal kembali ke Lebetawi.

Melakukan perjalanan ke Desa Lebetawi ini tentu bukan semata-mata mendapat keindahan alam atau keramahan warga. Tapi, juga soal perjalanan hidup yang patut direnungkan. Tentang pendidikan, teknologi dan informasi, sektor pariwisata, pola pikir, kontrasnya kehidupan, dan hal lain. Tak lupa soal rasa syukur atas beragam keuntungan di kota yang secara berbarengan punya kerugian tak tinggal di desa.

Semesta seakan mengantar saya ke Lebetawi untuk menemukan diri di perjalanan. Untuk bertemu dengan banyak hal, orang maupun peristiwa yang sarat akan cerita perjalanan hidup. Beragam pelajaran sepatutnya dapat diambil dan dimaknai dalam dari sebuah “pelarian” di usia 20-an ini. Termasuk tentang hakikat perjalanan itu sendiri seperti yang ditulis Agustinus Wibowo dalam bukunya berjudul Titik Nol. Semoga perjalanan ini memang punya makna dalam dan berarti, baik bagi saya, kawan-kawan You Can, maupun Lebetawi.

“Perjalanan bisa jadi pelarian dari rasa takut, bisa pula pencarian untuk menemukan cara membunuh takut” — Agustinus Wibowo dalam Titik Nol halaman 139.

Foto: Dewi Rachmanita Syiam, Benito, Ginanjar M., Oktavia W., Audi S.