Secuil Harap di Negeri Atas Awan

Inilah festival yang sudah saya idam-idamkan sejak SMA. Inilah negeri tinggi dengan pemandangan awan di sekelilingnya. Inilah daerah yang terkenal dengan golden sunrise-nya. Dan inilah pemberhentian pertama saya dalam #JalanBarengDewi.

Foto oleh: Jalu. Dieng Culture Festival, festival penuh tradisi yang memikat di dataran tinggi Dieng.

Saat itu libur perkuliahan selama kurang lebih tiga bulan. Sekitar dua minggu waktu itu saya habiskan menelusuri sedikit tanah Jawa hingga Lombok. Sedikit, ya hanya sedikit. Menjalani kisah kehidupan banyak orang di perjalanan hampir selalu sendiri. Memahami makna perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dieng menjadi tujuan pertama saya sebelum menginjak pulau seberang lainnya.

Jakarta Keras

Jakarta keras, pun saya. Saya keras dan kekeh pergi walau tak terbuka secara keseluruhan kepada orang rumah. Saya pergi dan memulai perjalanan dengan kekhawatiran (mungkin) mereka yang tak benar-benar tahu keadaan dan rencana saya ke depan. Keras hati pergi tanpa kepastian kapan pulang dan lainnya.

Bawa carier 65L dan tas selempang dengan menumpang ojek online dari ujung ke ujung Jakarta. Rasanya otot-otot leher sudah mulai mengeras sedari Jakarta. Stasiun Pasar Senen menjadi pintu pertama dan perlahan-lahan hilang tertutup gelap dalam perjalanan menuju timur pada pukul 21.00. Di gerbong 1 kursi 17 C kereta Serayu Malam saya mencoba saling bercengkrama dan menaklukan kerasnya kantuk dengan kawanan penumpang hingga Purwokerto.

Serayu Malam 226

Selama berjalan ke sana-ke mari, kereta menjadi transportasi yang saya favoritkan. Lewat sekat-sekat gerbong dan keterbatasan ruang gerak, di kereta kelas ekonomi saya bisa mengulik cerita-cerita kehidupan banyak orang. Hal itulah yang hadir selama kurang lebih 10 jam 30 menit menuju Stasiun Purwokerto.

Serayu Malam 226 yang penuh cerita terkait Unpad dan Jatinangor.

Perempuan-perempuan seberang saya adalah kawanan dengan sederet kisah perjalanan yang tidak sedikit. Beragam tempat dalam dan luar negeri telah mereka datangi dengan berasaskan backpakker. Kali ini tujuan mereka sama dengan saya, yakni Dieng Culture Festival.

Saat itu masih Kamis, 4 Agustus 2016 pelan-pelan gemerlap lampu hadir di tepian jendela kereta. Tasikmalaya. Lama-lama keindahan lampu jauh itu hilang dalam gelap, tapi tergantikan indah cerita para penumpang di kereta. Suatu kebetulan, satu di antara mereka satu almamater kuliah dengan saya. Alih-alih membuka kenangan perkuliahan, ia dan juga kawanan penumpang lain antusias mendengar saya bercerita tentang Unpad dan Jatinangor saat ini.

Dingin menyeruak dan menembus jaket tebal saya. Tidur kian gusar. Dini hari datang dengan cahaya matahari mulai menyilaukan mata. Purwokerto kian dekat, perjalanan kian jauh dari rumah. Tinggal selangkah lagi saya hadir di festival yang sudah saya idam-idamkan sejak SMA. Selangkah lagi saya akan berpamitan dengan Serayu Malam 226 dengan segala hingar bingar cerita perjalanan, khususnya tentang kenangan tempo dulu Jatinangor.

Desak Sampai Atas Awan

Saya turun dari kereta dengan tatapan heran para penumpang kereta. Seorang perempuan sendiri berjalan dengan karier besar. Beberapa kenalan kawan baru membuntuti di belakang. Serempak kami sepakat naik angkutan umum untuk menuju terminal dan melanjutkan perjalan ke Dieng dengan bis mini.

Teknik tawar menawar dilancarkan sebelum naik ke berbagai transportasi umum. Mula-mula setengah dari harga yang ditawarkan, naik, naik, naik, ditinggal, diam, pergi, hingga sepakat. Seingat saya tarif angkutan umum waktu itu Rp5000,00 untuk perjalanan yang ternyata cukup jauh. Sedangkan tarif bis mini dengan jalur meliuk-liuk dan mendaki ke setengah perjalanan Dieng Rp25.000,00. Bis selanjutnya dengan jalur makin curam menuju Dieng ialah Rp15.000,00

Pepet-pepet dan desak-desakan rasanya adalah tipikal angkutan umum di berbagai daerah untuk para backpakker, termasuk di Purwokerto ini. Dalam berjubelnya angkutan umum dengan orang dan barang, saya berusaha menikmati perjalanan. Obroan khas wisatawan pun mulai terbangun dengan diawali: “Sabar, ya, Mbak sempit.”

Sempitnya angkutan umum berwarna merah untungnya tidak terulang di bis mini. Sesampainya di terminal berbondong kenek, calo, dan orang antah berantah lain menawari angkutan ke Dieng. Mulai dari bis mini, travel mobil pribadi, ojek, dan lain sebagainya. Tengok sana-sini, berbincang dengan banyak orang, akhirnya saya dan beberapa kenalan baru lagi sepakat naik bis mini secara kolektif dengan biaya yang lebih murah.

Bis mini yang mengantar saya menuju Wonosobo dan lanjut ke Dieng. Penuh sesak tak hanya orang, tapi juga unggas dan sayur mayur bawaan penumpang.

Bis mini itu seperti layaknya Metromini versi kecil kalau di Jakarta. Dari interiornya terlihat sudah cukup usang. Beberapa bagiannya sudah bolong dan asapnya kian hitam pekat dengan bau menyengat membuat orang terbatuk-batuk saat menghirupnya. Saya duduk dekat, lebih tepatnya di belakang supir. Karier berusaha saya pepet di bawah kaki. Di samping saya duduk seorang lelaki yang saya taksir umurnya sekitar 40tahunan. Sepanjang perjalanan yang berkelok saya dan penumpang sebelah bicara banyak tentang perjalanan dan petuah hidup.

Sayangnya saya lupa namanya, padahal saya ingat menyimpan nomor bapak itu di telepon genggam. Obrolan kami berdua diawali dengan pertanyaan seputar tujuan masing-masing. Ia lantas cerita banyak tentang perjalanan-perjalanannya yang telah ia lalui semasa muda. Ia juga tak segan membagi nomor telepon teman-temannya yang menjadi guide di berbagai tempat untuk saya simpan kali-kali akan berkunjung ke tempat itu. Banyak kisah yang ia utarakan, termasuk kesan-kesannya melayani tamu di Dieng karena ia dan keluarganya memiliki penginapan di sana. Mulai dari pagi-pagi buta harus menggoreng tempe atau pisang untuk sarapan, siapkan air panas untuk mandi, mengantar ke sana ke mari, dan lain sebagainya. Obrolan pun mulai berlanjut tentang pemaknaan dari perjalanan itu sendiri dan kerinduannya akan bepergian jauh. Ia banyak beri pesan kepada saya yang pergi jauh seorang diri. “Kan kalau perginya sama pacar atau suami lebih enak,” tutupnya sebelum saya tertidur pulas menunggu perjalanan yang tak kunjung berakhir.

Dalam sebuah persimpangan saya dan beberapa rombongan menuju Dieng turun dan berganti bis. Di bis kecil atau elf berikutnya ini tidak ada lagi ayam, burung, sayur mayur, atau barang bawaan overload lain seperti bis mini sebelumnya. Kali ini 100% penumpang menuju satu tujuan: Dieng Culture Festival. Elf ini lebih bagus, setidaknya perawakannya terlihat lebih remaja ketimbang bis mini sebelumnya.

Jalan kian menanjak tajam dan curam. Angin dingin kian berhembus lewat sela-sela jendela dan pintu bis. Penumpang kian berjubel memaksa masuk dalam elf agar tak terlalu lama sampai di festival. Beragam orang dan latar belakang duduk serta berdiri di bis. Di kursi depan berdampingan dengan supir ada keluarga kecil yang membawa bayi mungil. Di belakang ada kawanan ABG yang hahahihi ketawa girang tak sabar dengan Dieng Culture Festival. Ada pula saya yang tengah menjalin komunikasi dengan teman sepertendaan saya untuk dua malam ke depan. Kami semua, bahkan barang-barang di atas elf menjadi padu berdesakkan sampai atas awan.

Dieng Culture Festival

Beragam kendaraan dan manusia tumpah ruah dalam gerbang Dieng Culture Festival. Lalu lintas kian padat, bahkan untuk berjalan pun cukup sulit, terlebih bagi saya dan teman-teman baru lain yang membawa karier besar. Kami para rombongan elf pun mulai berpisah sedikit demi sedikit dan melambai tangan satu sama lain.

Saya pada akhirnya berjalan seorang sendiri menyusuri kerumunan orang. Terus berjalan hingga berpapasan dengan wajah yang asing, tapi cukup untuk bisa saya kenali. Ialah teman sepertendaan sekaligus teman Dieng saya, Jalu.

Asalnya dari Salatiga. Umurnya tidak jauh dari saya. Namun, ia angkatan 2015. Kuliahnya juga sama dengan saya dalam bidang komunikasi. Kami kenal lewat dunia maya karena saya yang kekeh mau nenda ketimbang menyewa kamar di home stay. Tadinya ia tak sendiri, tapi kawanannya batal, alhasil saya hanya berdua dengannya menyusuri perjalanan Dieng Culture Festival 2016.

Tenda saya dan tenda-tenda tetangga.

Sebertemunya saya dengan Jalu, kami lantas mencari tempat tenda. Setelahnya mengatasi kelaparan perut. Setelahnya lagi beristirahat sejenak dan lihat-lihat Dieng. Lalu menikmati Dieng Culture Festival lebih jauh.

Saya terbiasa dengan banyak orang, termasuk laki-laki. Mungkin sebagian orang menganggap seram atau kekhawatiran lainnya untuk tidur berdua dalam tenda selama dua malam dengan pria asing. Namun, bagi saya biasa saja. Mungkin saya terlalu berani, mungkin juga terlalu mudah percaya dengan orang. Toh saya dan dia tidak ngapa-ngapain.

Lebih dari sekadar teman tenda dan festival, Jalu, bagi saya menjadi sumber ilmu. Mulai dari mendirikan tenda yang benar, mengakali panas dan teriknya cuaca dengan sisa kain, dan lainnya. Kami bersama lantas menyusuri tiap waktu dalam agenda Dieng Culture Festival 2016.

Bagi saya, Dieng Culture Festival agak mengecewakan. Mungkin itu terlahir dari ekspetasi saya yang tinggi terhadap festival ini. Beberapa acara menurut saya kurang jelas dan rapi. Banyak kekosongan waktu yang saya rasa karena acara yang kurang berarti dan menarik keseluruhan wisatawan. Namun, Dieng Culture Festival tetap menarik, terutama di acara puncak, yakni pemotongan rambut gimbal atau disebut “Ruwatan”.

Terlepas dari beberapa ekspetasi yang tidak terbayar, rasa penasaran saya dengan festival ini akhirnya terjawab. Akhirnya saya menyaksikan langsung bocah-bocah rambut gimbal dipotong oleh sang tetua atau juri kunci. Dalam kembali desak-desakan dengan mungkin ribuan orang, saya berusaha menikmati prosesi adat sakral itu dengan khitmat. Menarik bagi saya bagaimana para anak-anak yang akan dipotong rambutnya itu disebutkan permintaanya oleh moderator acara. Dari mulai yang paling mahal perhiasan, sapi, sepeda, hingga karet gelang menjadi keinginan para anak-anak yang disebut “anak gembel” dipercaya titipan Kyai Kolo Lete itu. Tak jarang tawa girang dari pengunjung bergema keras di bawah cerahnya cuaca hari itu sekitar Komplek Candi Arjuna.

Prosesi sebenarnya dimulai dengan arak-arakan para anak gembel keliling kampung. Lalu, ada berbagai kegiatan lain ke candi-candi atau tempat khusus sekitar Dieng. Perjalanan dari satu tempat ke tempat itu bagi wisatawan tidak mudah. Bukan soal jarak, tapi ramainya orang. Bahkan banyak orang berlarian, adu tempat terdepan demi menyaksikan dan mengabadikan momen ruwatan tersebut. Tentu sulitnya menembus masa tidak dirasakan berbagai kalangan penting undangan yang hadir, seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, anggota-anggota DPR, pihak-pihak berwajib dengan jabatan tinggi, dan lain-lain.

Foto oleh: Jalu. Satu lampion dipegan dan diterbangkan bersama oleh beberapa orang buat langit menjadi gemerlap cahaya lampion.

Dieng Culture Festival juga menyimpan keindahan lain dalam suguhan acaranya, yakni pelepasan lampion. Acara musik digelar dengan beragam bintang tamu, termasuk Anji. Suasana malam gelap dan dingin terhangatkan oleh obrolan dengan kawan-kawan baru sekaligus santapan berupa kentang dan jagung rebus khas Dieng. Walau sederhana, dua makanan itu begitu nikmat dan berbeda dengan yang saya santap biasanya di tempat lain. Kami semua para peserta atau penonton Dieng Culture Festival serempak bersamaan duduk-duduk santai di rerumputan lapang luas dan mulai berdiri beriringan untuk melepas lampion ke langit luas.

Sebenarnya banyak agenda lain dalam festival ini, seperti menonton pemutaran film dokumenter. Ada pula semacam ceramah oleh Cak Nun. Namun, saya memilik untuk sekadar jalan-jalan di sekitar Dieng atau ngobrol-ngobrol.

Ngobrol-ngobrol itu bahkan sudah saya lakukan sejak pagi-pagi sekali, saat embun-embun kristal masih beku di rerumputan sekitar tenda. Bersama petugas festival, saya dan pengunjung lain merapat ke tungku kayu bakar untuk menghangatkan diri sekaligus bercengkerama satu sama lain. Dari obrolan itulah saya tahu betapa masyarakat Dieng bergotong royong untuk festival ini. Jauh-jauh hari, tua maupun muda semua masyarakat sudah membentuk kepanitaan matang dan bekerja sama dengan berbagai pihak mengatur kelancaran acara. Tiket bahkan mulai dijual dari beberapa bulan sebelum acara. Pada 2016 itu saya membeli tiket seharga Rp250.000,00 dengan akses VIP. Dari tiket yang cukup mahal itu saya mendapat akses gratis ke beberapa tempat di Dieng, tas serut, kain batik, kaos, lampion, id card, dan booklet panduan. Sedangkan untuk tenda bawa sendiri dan hanya membayar lahan untuk camping.

Ngobrol dengan tetangga tenda. Mereka disebut “Mbak Dua Pengembara”.

Dalam suatu ngobrol-ngobrol saat pagi menjelang siang, saya dan lainnya dikagetkan oleh segerombol mahasiswa dari Jakarta yang tendanya terbakar. Sebenarnya antara kasian dan lucu. Kasian karena susah payah mereka dibantu tetangga tenda lain untuk memadamkan api agar tak membakar tenda. Beberapa barangnya juga sudah hangus. Lucunya adalah kebakaran itu agak konyol karena gas bocor beberapa kali saat mau masak dan tetap kekeh menyalakan api di tempat yang sama. Alhasil pertemuan antara gas bocor yang bertabung-tabung dengan percikan api timbulkan kobaran. Mereka pun berteriak panik berkeliaran keluar tenda.

Dataran Dieng sendiri merupakan wilayah vulkanik dengan ketinggian rata-rata 2000mdpl di Jawa Tengah. Dari ketinggian kita dapat melihat pemandangan gagahnya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Pada beberapa waktu, suhunya dapat minus. Dengan dingin yang berhembus buat saya dan pengunjung lain menjadi sering ke toilet. Untungnya kamar mandi cukup bersih termasuk untuk mandi, walau kadang sulit air. Namun, karena seringnya ke toilet berbayar, terasa juga uang banyak hanya untuk kebutuhan kamar mandi tersebut.

Malam-malam di Dieng begitu indah. Walau dingin menusuk, gemerlap bintang cukup terlihat di angkasa. Alunan musik terdengar dari tenda saya. Inilah negeri di atas awan, pagi-pagi golden sunrise itu hadir menjadi sebuah keindahan kuasa Tuhan. Dieng Culture Festival dengan segala kekurangan dan kelebihannya membuat saya terpesona dengan dataran di atas awan.

Pergi untuk Kembali

Tidak terasa rangkaian Dieng Culture Festival selama tiga hari dua malam berakhir. Pagi menjelang siang saya mulai pamit ke beberapa tetangga tenda. Saya dan Jalu mulai kemasi tenda dan barang bawaan. Kami telah bersiap pergi dari Dieng menuju destinasi kami masing-masing. Saya ke Semarang, sedangkan Jalu ke Salatiga lewat Ambarawa.

Penuhnya orang pun kembali saat perjalanan pulang. Berbondong-bondong manusia merangsek memadati jalan utama untuk turun ke Wonosobo. Lalu lintas macet total. Saya, Jalu, pun yang lain terpaksa jalan kali dari tempat festival sampai basecamp Desa Kalilembu Gunung Prau sejauh sekitar 6km.


Ada secuil harap di Dieng, negeri atas awan ini. Harap untuk kembali dalam langkah pergi ini. Masih banyak pesona Dieng yang belum saya jelajahi. Masih banyak sinar mentari emas pagi yang belum saya saksikan dari berbagai angle. Beragam sejalah dan kultur budaya masyarakat Dieng belum saya dengar. Banyak pula cerita-cerita yang menanti dalam tiap perjalanan, termasuk di Dieng dalam langkah #JalanBarengDewi selanjutnya.

)
Dewi Rachmanita Syiam

Written by

Tentang perjalanan, musik, dan cerita. Saya di Instagram: #JalanBarengDewi

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade