
Kukira Beranda Saja
Kukira yang basah hanya halaman rumahku dan rumahmu saja saat selepas hujan. Bau tanah basah ternyata juga memuat kalimat-kalimat gundah, dan kesalahan mampu menciptakan resah.
Aku dan kamu mengulangi lagi putaran yang sama. Waktu yang acapkali bersengketa dan melahirkan pikiran-pikiran kalah, ancaman, dan bahaya buat kita berdua. Seketika air tak mampu lagi dibendung oleh mata.
Saat ini kita dijangkiti penyesalan, dan rasa takutmu menakuti keberanianku. Semesta ternyata bisa menjadi hakim yang adil dan menyuguhkan beberapa kesedihan, kesedihan yang mekar dari kesalahan-kesalahan kita.
"Maafkan aku sayang, jika malam itu membawa kita pada sebuah kesalahan dan penyesalan. Semoga hal itu menyadarkan kita bahwa perihal baik tak mampu disatukan dengan kegiatan buruk." "Jangan lagi takut kekasihku, kau tak menanggungnya sendirian, ada aku laki-laki yang mampu bertanggung jawab atas perbuatanku." Mungkin secercah kalimat itu mampu menenangkan kondisi kita.
Hidup masih berlanjut, kita sepakat untuk tidak takut pada kenyataan juga kesalahan, dipikiran kita menilai bahwa kenyataan akan melahirkan kesadaran, dan kesalahan adalah motivator terbaik untuk berbuat jauh lebih baik lagi. Yang segera kita lakukan sekarang yaitu; berbenah diri, agar semesta yang maha cair ini memberi restu untuk kita.
Biar saja beranda yang selalu digenangi air dan percikan hujan, tak perlu takut lagi pada hujan, bukan kah hujan selalu mengilhami disetiap jatuhnya? Bahkan disetiap butirannya, hujan pasti memberi kebaikan pada tanah? Begitulah kesalahan dan kekhilafan yang kita lakukan, ia datang untuk menyadarkan dan memberi pelajaran. Semua yang terjadi senantiasa melahirkan arti.
Maafkan aku, maafkan dirimu, semesta punya cara sendiri untuk melingkari kebaikan-kebaikan dipergelangan kita. Tak salah manusia lalai, sebab diujung senja--temaram lampu kota pasti memberi cahaya sebelum malam memainkan perannya.