Anak Aneh

Foto: animasi Charlie and Lola

Tujuh tahun yang lalu, ketika anak pertama saya berusia dua tahun, ia dianggap “aneh” oleh keluarga besar kami. Lebih tepatnya, gaya bicara anak kami yang dianggap aneh oleh mereka. Jadi begini ceritanya. Pada suatu akhir pekan, kami bertiga, saya, suami, dan anak kami, yang tinggal di Surabaya waktu itu, ditelpon oleh mertua saya (kakek dan nenek) yang tinggal di kota kecil yang berada perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka bilang, sedang kumpul keluarga besar di sana (rumah mertua saya), dan mereka ingin tahu kabar kami sekeluarga yang jarang pulang ini. Pembicaraan melalui telepon berlangsung normal, hingga anak saya yang tadinya malu-malu, berkata, “Kakung uti, Rara rindu sekali, lho! Rara ingin Kakung uti ke Surabaya jenguk Rara…”

Dan reaksi keluarga besar yang suaranya terdengar riuh di belakang sana, sungguhlah mengherankan kami. Mereka tertawa! Bahkan ada Pakde dan Bude yang terdengar jelas berkomentar, “Bocah iki kok aneh men, lek ngomong nganggo rindu rindu barang. Koyok wong tuwek wae!” Ucap mereka yang disahuti dengan tertawa oleh anggota keluarga lainnya. (Anak kecil kok aneh sekali, kalau bicara pakai rindu rindu segala. Seperti orang tua saja.

Nah saya kan jadi ikut heran, anehnya dimana dari ucapan anak saya ini?

Lalu ketika telepon akan ditutup, anak saya kembali bersuara, “Semoga Rara bisa cepat bertemu kakek ya?” Dan diikuti oleh sahutan tertawa lagi di seberang sana. Saya jadi kesal. Kenapa anak saya ditertawakan sih? Untung saja anak saya tidak malu dan menjadi down karena tawaan mereka tadi.

Pada kesempatan berikutnya ketika kami pulang kampung, saya lupa momen apa saat itu, entah nikahan atau sunatan salah satu saudara, keluarga besar saya berkumpul kembali. Anak saya tiba-tiba berlari ke arah saya yang sedang bantu-bantu menyiapkan makanan bersama mertua, Bude, maupun saudara-saudara perempuan yang lain di pawon. Dia datang sambil membawa sebungkus permen.

“Bunda, bolehkan aku makan permen ini?” Saya memang membatasi konsumsi permen dan coklat pada anak saya, sehingga dia pun terbiasa untuk meminta izin terlebih dahulu ketika diberi suatu makanan oleh orang lain. Kemudian saya mengangguk.

“Hore, terima kasih, Bunda. Aku sayang sekali sama Bunda!” Teriaknya sambil berlari.

Dan terjadi lagi. Semua orang, kecuali saya dan mertua, tertawa mendengar anak saya berbicara.

“Bocah kok yo… aneh men! Nek ngomong jian koyok ndek siaran berita TV!” Kata salah seorang sepupu suami saja, sambil tertawa.

(Anak kecil ya.. aneh sekali! Kalau bicara benar-benar seperti siaran berita di TV!)

Bude ikut menimpali, “Lha iyo, Rara kuwi nek omong, persis koyok wong tuwek tho! Bocah kok aneh tenan!” Sambil ikut tertawa.

(Lha iya, Rara itu kalau bicara, persis seperti orang tua tho. Anak kecil kok aneh sekali!)

Ada lagi yang menimpali, “Omonge Rara iki kok “abot” tenan tho mbak?” sambil melihatku.

(Gaya bicara Rara ini kok “berat” sekali sih mbak?)

Aduh rasanya gemas sekali mulut ini ingin menjawab semua komentar itu. Tapi mertua saya dengan bijaksana menjawab mereka begini, “Nah yo, wong bocah ngomong nganggo boso sing bener kok malah diguyu. Aku malah seneng nek putuku ngomong ngono kuwi, ketok nek pinter”, ujarnya sambil terus mengelap daun pisang di pangkuannya.

(Nah, anak kecil bicara pakai bahasa yang benar kenapa malah ditertawakan. Saya malah senang kalau cucu saya bicara seperti ini, kelihatan pintarnya)

Dalam hati saya merasa bersyukur mertua saya membela cucunya agar tidak terus ditertawakan. Biasanya kami jarang sekali sependapat, maklum menantu perempuan dan mertua perempuan kan selalu ada intik tersembunyi, hahaha…

Jadi, mengapa anak saya ini berbicara dengan gaya bahasa yang baku begini sih? Kami memang memiliki cerita di baliknya. Seperti kehidupan keluarga milenial pada umumnya, anak saya ini. sudah “terpapar” gadget sejak sebelum lahir. Kami, ayah dan dan ibunya, merasa sangat terbantu dengan gadget dalam kehidupan parenting kami. Sejak masih di dalam kandungan, kami sering memutarkan apapun yang kami anggap mampu menstimulasi perkembangan otak janin: musik-musik klasik, lagu-lagu jazz, lantunan murrotal, bahkan rekaman pengajian Ustad yang saya idolakan di youtube. Semua dari HP atau laptop. Tentu saja, kami juga berusaha terus mengajak calon bayi kami mengobrol dan mendendangkan lagu dari suara kami sendiri. Setelah ia lahir, kami pun secara rutin memutarkan lagu-lagu dan cerita khusus anak dari HP. Maklum tidak banyak acara TV nasional yang ramah balita, sehingga kami jarang menonton TV. Ketika ia berusia enam atau tujuh bulan dan sudah mulai bisa duduk, kami menyadari dia sangat suka dengan video cerita anak-anak yang ia tonton dari HP. Kami menduga, dia tertarik dengan visualnya yang bisa bergerak, warna-warni, dan adanya suara anak-anak di dalamnya.

Sayangnya, kebanyakan video anak-anak waktu itu berbahasa Inggris. Kebanyakan kami putarkan dari youtube sih. Mencari di aplikasi? Agak susah. Zaman 7–8 tahun lalu, aplikasi untuk anak-anak yang menggunakan Bahasa Indonesia masih sangat jarang. Tidak seperti sekarang, dimana aplikasi lokal dan berbahasa Indonesia sudah sangat menjamur. Akhirnya kami berinisiatif untuk berlangganan TV kabel berbayar, karena kami tahu banyak acara TV untuk balita dan anak-anak di dalamnya. Waktu itu kami berpikir, lebih baik membayar TV kabel dimana kami bisa memilih sendiri tayangan yang kami rasa baik buat anak kami. Kalau pakai TV nasional, mohon maaf, kami kurang sreg dengan acara-acara yang ada di dalamnya. Pertimbangan berikutnya, banyak dari tayangan TV kabel yang sudah mengalami pengalihbahasaan ke Bahasa Indonesia. Beberapa jalan ceritanya juga menurut kami inspiratif dan edukatif (kami sudah melalukan riset singkat di internet). Singkat cerita, kami akhirnya berlangganan TV kabel dan sebagai orang tua kami ikut menikmati acara anak-anak di TV rumah kami, hehehe…

Kami sekeluarga pun secara rutin di jam-jam tertentu (yang sudah kami jadwalkan) menonton bersama acara-acara di Baby TV, CBeebies, dan Nick Jr seperti Barney and Friends, Jalan Sesama, Charlie and Lola, Peppa Pig, dan tentu saja Thomas and Friends yang sangat termashur itu. Kebanyakan dari acara anak yang tonton ini mengalami pengalihbahasaan dengan standar Bahasa Indoensia yang baik dan benar. Kami sekeluarga pun sering menirukan kalimat-kalimat dari acara Tv yang kami tonton itu.

“Hai Lola, apakah kau mau kubuatkan sandwich? tanya suami saya, menirukan gaya Charlie di animasi Charlie and Lola.

Anak saya menjawab, “Aku suuuuuuka sekali dengan sandwich buatanmu, Ayah. Eh salah, Charlie… ”, dengan tersenyum lebar.

Atau, “Apakah kalian menyukai masakan Bunda?” pancing saya, suatu hari.

“Tentu. Walau aku tidak suka sayur ini, tapi karena ini masakan Bunda, aku akan makan dengan lahap. Krauk krauk krauk”, jawab anak saya, menirukan Monster Cookie di Jalan Sesama.

Ternyata semua aktivitas ini membuat dampak yang sungguh luar biasa dalam kemampuan berbahasa anak kami. Ia bertutur menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar, sesuai dengan yang ia lihat dan dengar setiap hari. Oh iya, kami juga sering membacakan dongeng pada anak kami sebelum tidur, untuk menstimulasi daya imajinasi dan kemampuan berbahasanya. Waktu itu kami yang merupakan orang tua baru, tidak menyadari jika buku-buku dongeng anak Indonesia banyak yang ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Efeknya baru kami rasa setelah beberapa kali kami mendongeng, anak kami hafal ceritanya, lalu berusaha menceritakan kembali. Dia benar-benar mengingat banyak kosa kata dari buku yang kami bacakan. Awalnya mertua dan Ibu saya heran sekali mendengar pemilihan kosa kata anak saya dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, “Selamat malam. Selamat tidur. Semoga mimpi indah”, ucapnya saat kami mengajaknya masuk ke kamar untuk tidur.

Atau, “Selamat bekerja ayah, lekas pulang ya?” Setiap pagi sambil melambaikan tangan ke ayahnya yang berangkat bekerja.

Meski heran, namun rupanya para nenek dan kakek ini senang-senang saja mendengar ocehan anak kami menggunakan Bahasa Indonesia yang kelewat kaku ini, menurut mereka. Maklum, saya dan suami adalah keturunan suku Jawa, meski ayah saya berasal dari Ambon. Bahasa yang digunakan keluarga besar kami tentu kebanyakan Bahasa Jawa, dengan dialek masing-masing. Makanya kami tidak heran ketika keluarga besar kami menganggap gaya bicara anak kami berbeda.

Jujur saja, kami sebagai orang tua juga belajar banyak dari gaya bahasa tayangan TV yang kami tonton bersama. Meski saya lulusan Sastra Indonesia dan kala itu bekerja sebagai jurnalis, namun tidak ada keinginan dari saya untuk “mencetak” anak saya agar mempraktekkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-harinya.

Namun setelah beberapa lama menonton banyak acara TV anak bersama keluarga, saya dan suami pun jadi aktif mempraktekkannya di rumah karena terpengaruh dengan anak kami. Lama-lama kami nyaman menggunakan standar bahasa seperti ini.

Suami saya pun, sesuai testimoni beliau, juga merasa banyak perubahan sejak mengikuti gaya bicara anaknya sehari-hari. Suami saya makin sering menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan kerjanya, bahkan beliau mengaku makin jarang menggunakan istilah-istilah asing dalam kehidupan bekerjanya. Misalnya meeting, beliau ganti dengan rapat. On time menjadi tepat waktu, dan sebagainya. Ini kami anggap sebagai sebuah kemajuan dalam berbahasa Indonesia, dan kami bangga karenanya. Maka ketika anak saya separuh ditertawakan dan separuh dikasihani karena memakai Bahasa Indonesia (yang semestinya) lalu saya sakit hati, suami saya datang dan memberi kesejukan. Cieeeehh, kesejukan! Hahaha..

Saya ingat nasihat beliau tiap kali sakit hati karena anak kami ditertawakan, “Biarkan. Selama ajaran kita pada anak tidak menyimpang dari norma dan agama, dan kita yakin benar dan baik bagi keluarga kita, abaikan orang lain berkata apa. Ingat, dengan kita terus mempraktekkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam keseharian kita, kita juga memberi contoh pada orang lain tanpa sok mengajari”.

Nah jadi begitulah keluarga kami yang masih teguh bertahan dengan gaya bahasa kami yang “aneh” bagi orang lain. Yang membanggakan, ketika sudah memiliki adik, anak pertama kamilah yang rajin membacakan dongeng anak-anak pada adiknya. Dia bilang, “Biar adik cepat bisa bicara seperti aku, karena dulu sering dibacakan dongeng oleh Bunda”.

Membuat saya trenyuh, takjub, sekaligus terinspirasi. Ahh, biarlah orang lain berkata kami “aneh”

Namun dengan berlalunya waktu, apakah anak pertama kami masih sangat baku mempraktekkan Bahasa Indonesia?

Saya perhatikan, makin ia besar dan mengenal banyak teman di lingkungan rumah dan sekolah, gaya bicaranya mulai sedikit lebih kasual. Misalnya sudah mulai memakai kata “enggak” daripada “tidak”, mencampurkan beberapa kata dalam bahasa Jawa dalam kalimat lisannya, dan masih banyak lagi. Tapi, kemampuan berbahasanya maju pesat. Dia pandai berbicara, bercerita, dan menulis cerita. Saya bangga karenanya.

Dan anak kedua kami yang memasuki usia pra sekolah pun, mulai meneruskan jejak kakaknya. Menonton acara TV yang sama dan mendengarkan dongeng yang sama. Sore ini dia bilang, “Ini sudah hari musim dingin. Haruskah aku keluar rumah memakai mantel dan sepatu boot?”

Saya jadi penasaran, tadi pagi dia nonton acara apa ya di TV? Paddington atau Nelly and Nora?

Hahahaha…

*d

A storyteller

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store