PRIMPEN

Image for post
Image for post

Foto: instagram Louis Vuitton.

Pagi ini saya mendapat pesan whatsapp dari kakak ketiga saya. Isinya mengajak kumpul keluarga karena beliau dan suaminya akan mengadakan syukuran ulang tahun, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Saya mengecek jadwal dan bertanya pada suami, beliau pun tidak ada agenda maupun janji temu . Maka saya balas pesan kakak dengan, “Insyaallah ya”. Kemudian dibalas lagi olehnya, “Kalau bisa, pakai tas tangan bahan tenun yang kubelikan dari Lombok dulu, ya? Biar seragam sama Ibu dan saudara-saudara yang lain!”

Saya langsung terdiam. Berpikir keras. Tas yang mana pula yang dimaksud. Kapan ya kakak memberi saya tas tenun? Kami, lima bersaudara memang rajin saling memberikan oleh-oleh jika masing-masing plesiran. Maklum, kami lima orang perempuan, meski sekadar membawa oleh-oleh gantungan kunci, keripik, atau coklat, senang saja rasanya saling berbagi dengan saudara perempuan.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan kakak plesiran ke Lombok dan memberi saya oleh-oleh tas tenun. Saking banyaknya tas dan oleh-lainnya dari keempat kakak saya, Lalu saya ingat sebuah momen yang mungkin menjadi puzzle penting dalam teka-teki ini. Keponakan saya Ardy, anak semata wayang kakak saya ini, pernah sekali dititipkan ke rumah Ibu saya selama beberapa hari. Sebuah kasus langka dimana kakak dan ipar saya bisa menitipkan anaknya, sebab mereka selalu teguh untuk tidak membiarkan siapapun ikut serta dalam pengasuhan anaknya. Mereka berdua anti mempercayakan anak pada orang lain. Boro-boro menitipkan anak pada pengasuh atau daycare, menitipkan sebentar pada nenek-kakeknya sendiri saja mereka ogah.

Makanya saya ingat momen ini, karena langka terjadi. Dan itu terjadi ketika keponakan saya ini kelas 1 SMA. Ya, baru setelah kelas 1 SMA, kakak dan ipar saya berani menitipkan anaknya ke rumah neneknya. Hehehe…

Sekarang dia baru saja lulus kuliah. Artinya momen plesiran kakak saya ke Lombok ini terjadi sekitar 6–7 tahun lalu. Sudah lama terjadi, rupanya. Saya cari-cari di lemari tas, tak ada sebentuk tas tangan tenun. Dimana ya?

Sambil mengubek-ubek setiap laci dan kotak-kotak penyimpan, saya jadi mengomel sendiri. Kenapa juga kakak saya ini masih mengingat barang-barang yang usiamya sudah tahunan. Meminta kami untuk memakainya pula.

Saya jadi teringat betapa kakak saya ini memiliki kelebihan yang unik. Beliau ini sangat detail dan rapi. Rumahnya super duper rapi. Lantai rumahnya, mulai teras hingga kamar mandi, selalu kinclong. Hampir tidak ada noda di potret dinding, meja, kursi, vas bunga, ataupun lemari di ruang tamunya. Belakangan saya baru tahu rutinitas bersih-bersih hariannya selalu lengkap: sapu, pel, vacuum, lap basah, lap kering, dan semprotan khusus, entah apa itu. Luar biasa bagi saya yang cenderung slebor.

Tanaman kakak ditata dengan apik, sepatu diletakkan di rak sesuai warna (kakak saya penggila sepatu), dapurnya pun selalu bersih dan berkilau, meski dia masak setiap hari. Pantat panci dan wajan yang tergantung cantik di dapur indahnya, tidak ada yang menghitam seperti punya saya di rumah. Juga, hampir tidak ada piring basah di rak dekat cuci piring, semua tertata di kabinet dapurnya. Ditumpuk, kering dan rapi! Jauh banget deh sama dapur dan wastafel cuci saya, hahaha… Seperti potret-potret dapur estetik di instagram saja memang. Sesuatu yang membuat saya iri, karena dapur saya tidak pernah rapi. Kadang saya membayangkan, berapa lama waktu yang kakak saya butuhkan untuk membuat rumahnya tak tercela seperti ini ya?

Ada lagi yang membuat saya heran, keset di depan kamar mandinya pun hampir selalu bersih dan kering. Membuat saya berpikir keras. Apa nggak pernah ada yang ke kamar mandi? Atau keset akan diganti setiap kali selesai dipakai seseorang? Hahahah …

Anaknya memang cuma satu dan sudah dewasa pula, tapi tetap saja saya selalu kagum melihat kerapihan dan kebersihan rumahnya, kapanpun saya berkunjung ke sana. Meski tanpa rencana. Semua benar-benar tertata dengan baik.

Luar biasanya lagi, beliau bisa mengingat satu per satu barangnya dan diletakkan di bagian mana. Suatu ketika, kami sekeluarga memenuhi undangan beliau untuk menghabiskan malam tahun baru di rumahnya. Ketika para lelaki sedang asyik menyiapkan bebakaran di teras, kakak kedua saya yang ada di dapur berteriak pada kakak ketiga saya, dimana letak serutan blewah. Kakak ketiga saya, yang sedang berada di lantai dua, menjawab dengan cepat, “Ada di kabinet dapur atas, paling kiri, dekat sama parutan kelapa dan keju!”

Kakak kedua saya menjawab dengan lirih, “Kok yo eling panggone ndek endi, cedek karo opo pisan, ckckckck… “. (Kok ya ingat tempatnya sih, dekat sama apa juga ingat, ckckckc…). Saya cuma bisa tersenyum.

Ada satu hal lagi yang jadi kelebihan kakak ketiga saya ini. Beliau jarang sekali membuang atau memberikan barang-barang pribadinya ke orang lain. Semua disimpannya dengan rapi di sebuah ruangan yang berisi jejeran lemari, kabinet-kabinet, dan kotak-kotak penyimpanan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika kami sekeluarga main ke sana, beliau pernah menunjukkan boneka Hello Kitty berwarna pink besar hadiah ulang tahunnya ke-17 pada anak perempuan saya. Iya benar, ulang tahun ke-17 beliau, yang artinya usia boneka itu sudah lebih dari 20 tahun! Bonekanya dibungkus plastik besar, masih bersih dan kondisinya bagus. Hanya sedikit kempis saja. Waktu itu saya merasa wajar-wajar saja, mungkin kakak saya ini sangat sayang pada barang-barang yang sifatnya penuh kenangan. Namun kemudian, pada pertemuan kami berikutnya (kami tidak tinggal sekota) di rumah Ibu, kakak saya ini datang terlambat. Rencananya kami akan berfoto sekeluarga, Ibu dan kelima anak perempuannya. Karena ayah saya sudah meninggal sepuluh tahun lalu dan sulit sekali mengajak para menantu serta mengumpulkan para cucu di luar waktu Lebaran, maka momen ini kami gunakan untuk berfoto berenam saja. Kakak saya datang dengan membawa tas tangan yang familiar sekali bagi saya. Namun saya tidak bisa mengingatnya dan memilih mengabaikan saja. Di perjalanan ke studio foto, saya mendengar kakak pertama saya berbisik pada Ibu, “Itu bukannya tas lama Ibu?” Ibu mengangguk sambil tersenyum. ibu bercerita, tas tangan model tahun 90-an dengan motif mirip merk LV itu sudah dimiliki kakak ketiga saya, sejak sembilan tahun yang lalu! Wow. Momennya begini. Sembilan tahun lalu kakak saya meminta tas-tas Ibu yang hendak dibuang ini. Katanya fashion akan kembali berulang, walau sekarang nggak mode bisa jadi sepuluh tahun akan mode lagi. Ibu saya mengiyakan saja waktu itu, daripada dibuang. Namun beliau pun sama terkejutnya dengan saya bahwa ternyata tas itu masih disimpan dengan baik dan dengan percaya diri digunakan kembali oleh kakak saya setelah sembilan tahun berselang. “Berarti, berapa usia tas itu sekarang ya, Bu?” tanya saya. “Sekitar 25 tahun lah”, jawab Ibu.

Saya cuma bisa melongo. Ibu lalu bercerita. Sejak dulu memang kakak ketiga saya ini sangat rajin dalam menyimpan barang-barang. Semua barangnya dirawat, disimpan, dan tidak akan dibuang, jika tidak rusak. Semua celana gedombrongan zaman kakak saya sekolah, dimodifikasi dan dikecilkan agar mirip dengan model celana skinny yang sempat hits beberapa tahun lalu. Celana dan baju tahun 90-an yang disimpan oleh kakak saya, dikenakan kembali dengan sedikit modifikasi dari tukang jahit. Tas-tas model lama yang disimpan dengan rapi dan jauh dari jamur, dikenakan lagi olehnya, karena seperti kata kakak saya sebelumnya, fashion selalu berputar kembali. “Begitulah prinsipnya”, kata Ibu.

Ibu saya memang dekat dengan kakak ketiga saya. Diantara kami berlima, rumah anaknya yang terdekat adalah si anak nomor tiga ini, cuma beda kelurahan saja. Kakak pertama, kedua, dan keempat saya tinggal di tengah kota. Saya sendiri paling jauh, tinggal di luar kota. Karena jarak rumahnya dekat, hampir setiap hari kakak ketiga saya mengunjungi Ibu, setelah kelasnya selesai. Beliau seorang instruktur aerobic dan yoga. Ibu saya menambahkan, hampir semua barang-barang kakak saya ini, dirawat dengan baik. Untuk tas dan sepatu, rajin diangin-anginkan, kadang dijemur sebentar, dilap, dibungkus dengan kain dan silica anti jamur, lalu diletakkan di lemari tas dengan rapi. Meski bukan barang-barang branded dan mahal, kakak saya nampaknya amat terikat dengan masing-masing barangnya.

Saya masih tak bisa berkata-kata, karena ini sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam hidup saya, menyimpan barang dalam waktu yang lama. Sampai sekarang prinsip saya dan suami saya adalah beli satu, keluarkan satu. Ini kami lakukan agar barang-barang kami tidak useless. Suatu hal yang mubadzir jika barang sudah lama tidak dipakai, tapi terus disimpan. Hanya akan memenuhi lemari dan isi rumah. Kami sendiri punya ritual tahunan, yaitu membereskan lemari dan rumah di awal tahun dan di awal Ramadhan. Kebetulan di kantor suami saya, setiap tahunnya selalu ada acara mengumpulkan barang bekas layak pakai untuk kemudian dijual murah di acara Car Free Day. Hasilnya akan disumbangkan oleh kantornya ke yayasan atau panti asuhan yang membutuhkan. Jadi setahun dua kali kami selalu mengeluarkan baju-baju, sepatu, tas, dan aksesori yang masih layak untuk kami sumbangkan di acara tahunan kantor maupun kami berikan secara pribadi ke saudara kami. Bahkan ada saudara jauh saya yang karena sudah hafal dengan ritual kami, tiap tahun selalu memesan begini, “Baju kakak Kirana yang sudah gak muat, ditunggu buat adik Via ya?”

Kami pun makin rajin menyimpan baju dan barang-barang anak-anak kami, menjaganya dengan baik, untuk diberikan pada yang memang memintanya. Jika tidak, ya akan kami kumpulkan untuk bazar amal di kantor. Kami paling tidak bisa menimbun barang banyak-banyak. Meski tidak hobi shopping, tapi kami punya pemikiran bahwa tiap tahun pun, keempat anggota keluarga kami pasti membeli sesuatu, entah baju, sepatu, tas, atau barang lainnya. Makanya dengan ketat, kami selalu menyortir isi lemari, agar jangan sampai membeli lemari baru jika tidak sangat penting.

Waktu itu Sultan, anak kakak pertama saya yang kebetulan menyetir untuk mengantar kami ke studio foto (kami tidak semobil dengan kakak ketiga saya), nyelutuk begini, “Uti, yang kayak gitu, bukannya namanya pelit ya?”

“Dia tuh nggak pelit. Emang Bulik pernah pelit ke kamu? Dia tu cuma primpen”, jawab Ibu saya.

“Iya Bulik nggak pernah pelit kalau ngasih uang. Tapi dulu waktu dik Ardy (anak kakak ketiga saya) sudah SD dan saya masih TK, mainannya bertong-tong itu kok ya nggak dikasih ke saya, Ti? Padahal saya sudah minta, tapi katanya masih mau disimpan. Itu sekarang pada kemana mainan dik Ardy yang usianya sudah 20 tahunan itu?” kejar keponakan saya.

“Eh iya, kayaknya akhirnya dibuang deh, karena banyak kecoa dan tikus di dalam tongnya”, jawab Ibu.

“Hahahahah.. itu namanya bukan primpen Ti, tapi keblinger!” Jawab keponakan saya.

“Hussshh!”, jawab Ibu tapi sambil tertawa.

Kami ikut tertawa. Tapi pembicaraan itu hanya terjadi diantara kami berempat dan pernah kami bahas lagi. Saya pun menghormati prinsipnya, meski tak sejalan dengan saya. Saya sudah melupakan kejadian itu, sampai hari ini.

Sekarang saya kembali fokus mencari dan mengingat-ingat dimana tas tenun dari Lombok itu. Capek karena tak kunjung mengingatnya, saya rebahan sambil membuka FB. Lalu ada story teman dekat saya yang lagi kondangan dan selfie sama anak dan suaminya. Memori lama kembali menguar, eh.. dulu kan dia pernah pinjam tas tangan tenun saya waktu mau kondangan bareng? Waduh alamat nih, sudah berapa tahun itu? Mau nagih juga tidak enak, sudah lama sekali.

Alasan apa ya enaknya ke kakak saya? Kalau jujur, bisa habis dicerca saya, oleh kakak saya yang primpen ini.

*d

Written by

A storyteller

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store