Ritual Akhir Tahun

Image for post
Image for post

Gambar: Kirana Padma Kinanthi

Siapa sih yang nggak punya acara di akhir tahun? Mau itu vacation ke Bali, luar negeri, staycation di vila, hotel, atau kumpul-kumpul di rumah bareng saudara dan teman, sekadar bakar-bakar jagung atau ikan, sebagian orang tentu sangat menantikannya. Bahkan, banyak juga yang merencanakannya jauh-jauh hari. Mulai dari pesan tiket, hotel, pergi belanja, memasak, dan sebagainya, adalah kegiatan-kegiatan yang jamak saya temui di sekitar saya. Hari-hari setelah Natal dan menjelang tanggal 31 Desember, status dan foto-foto teman-teman saya selalu berkutat seputar acara malam tahun baru. Beli kembang api, beli arang untuk bakar-bakar, belanja ini dan itu untuk kumpul keluarga, ahhh… senangnya yang punya rencana.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Tentu saya punya ritual akhir tahun juga. Bukan staycation, vacation, atau makan-makan seperti orang-orang pada umumnya, saya di rumah saja bersama anak-anak tanpa suami.

Iya tanpa suami, karena setiap akhir tahun beliau selalu lembur hingga dini hari, sehingga selama saya menikah dengan beliau, tak pernah sekalipun kami bermalam tahun baruan bersama. Suami saya kerja di salah satu bank swasta, dimana akhir tahun selalu dituntut untuk menyelesaikan laporan akhir tahun. Beberapa tahun yang lalu, setiap pergantian malam, suami saya selalu video call kami yang ada di rumah, tepat pukul 24.00 sekadar untuk menunjukkan betapa riuh dan meriahnya acara malam tahun baruan di jalanan utama kota Surabaya. Kembang api yang tiada henti bergantian menyala di langit, suara terompet yang bising di sana-sini, suara teriakan orang-orang, dan tentu saja suara knalpot motor jalanan. Kedua anak saya sudah girang sekali melihat itu semua dari video ayahnya. Alhamdulillah, begitu saja sudah bahagia.

Sekitar pukul 1–2 dini hari, ketika keramaian sudah mulai terurai, baru suami saya bisa pulang. Maklum, meskipun laporan sudah selesai sebelum pukul 24.00, beliau belum bisa pulang karena kantornya berada di jalan utama kota Surabaya yang selalu dipenuhi para pejalan kaki, kadang juga diberlakukan sistem buka-tutup lalu lintas sejak Bu Risma menjabat sebagai Walikota, sebagai upaya perayaan tahun baru yang lebih tertib. Alhasil, suami saya baru bisa terbebas dari keramaian dan pulang dengan tenang di atas tengah malam. Lalu apa yang saya dan kedua anak saya lakukan di rumah? Sudah sejak lama kami punya acara tahunan rutin yaitu menonton film secara marathon. Dulu ketika anak pertama saya masih kecil, saya selalu menonton film sendirian, sambil menunggu suami pulang. Film-film yang saya tonton selalu tipikal: film-film epic seperti trilogi Lord of The Rings dan Hobbits, atau film biografi seperti Bohemian Rhapsody, I, Tonya, atau 12 Years of Slave. Saya memang penggemar film-film lama dan biografi.

Kini ketika anak-anak makin besar, mereka sudah mulai memilih sendiri film mana yang akan mereka tonton, bergantian. Jika si kakak sudah memilih film pertama, maka adik akan memilih film kedua. Begitu seterusnya sampai jumlahnya mencapai belasan film, meski di film ke-4 atau 5 mereka sudah ketiduran. Sudah sejak 6–7 tahun terakhir sejak menggandrungi film-film animasi dari Studio Ghibli, film-film pilihan anak-anak tidak jauh dari menonton ulang Spirited Away, My Neighbour Totoro, Ponyo, Tales of Princess Kaguya, Porco Rosso, dan sebagainya. Karena si kakak sudah memasuki usia menjelang remaja, saya perhatian selera filmnya juga mulai berubah. Meski masih sangat menggemari animasi Ghibli, namun pilihan filmnya sudah mulai mengarah ke cerita remaja seperti From Up On Poppy Hill, Ocean Waves, Only Yesterday atau Kimi No Nawa, dan Wheatering With You karya Makoto Shinkai. Oh ya, sesekali dia juga mencari referensi film horor seperti Train To Busan, Danur, dan baru kemarin malam dia bilang ingin nonton The Call dan Alive, film horor Korea. Kalau sudah waktunya film horor diputar, si adik pasti minta ditemani di kamar, kami ngobrol-ngobrol sebentar, lalu dia pasti ketiduran.

Rencananya sih memang mau nonton sampai pagi, saya selalu mengizinkan mereka untuk nonton film sekuatnya. Tapi kenyataannya, lewat tengah malam, kakak-beradik ini pasti sudah pada KO. Dan saatnya film Mamak dinyalakan, nonton film sampai suami pulang. Lalu tidur deh.

Jadi, begitulah ritual tahun baru saya yang lalu-lalu. Namun sepertinya tahun ini sedikit berbeda, karena suami saya libur hingga awal tahun nanti. Jadi kami ingin merencakan sesuatu yang berbeda untuk nanti malam. Horeee… senangnya.

Apa ya? Tentu saja nonton film berempat, yang tidak kami lalukan di tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, atau tahun-tahun sebelumnya lagi.

Selamat tahun baru semuanya, semoga tahun 2021 lebih cerah untuk kita semua.

*d

Written by

A storyteller

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store