Sibuk Patah Hati

Normalnya, masa perkuliahan didominasi dengan kesibukan belajar, berteman, menimba ilmu, berorganisasi, atau mengumpulkan pengalaman kerja, kan?

Kalau dipikir-pikir, masa kuliah saya dan ketiga teman saya sedikit unik. Kami terlalu sibuk mengalami patah hati dan mengenal berbagai karakter laki-laki, dibandingkan rekan-rekan mahasiswa kami lainnya. Semua berawal dari salah satu teman saya, sebut saja M, yang mengenalkan semua pengetahuan dan pengalaman dunia percintaan kepada kami bertiga. Kami berempat tiba-tiba saja menjadi dekat karena pernah satu kelompok dalam mengerjakan tugas kuliah. Sejak itu, keempat sekawan ini lengket kemana-mana. Hari-hari perkuliahan kami isi dengan rutinitas normal: kuliah, belajar, diskusi, dan riset. Siang hari usai kuliah, kantin fakultas menjadi tempat nongkrong favorit kami berempat untuk makan siang yang hanya memerlukan waktu 10 menit dan berjam-jam sisanya adalah sesi curhat. Nah peran teman saya M di sini sangat besar, dimana dia sering ambil bagian sebagai narasumber kami. Maklum, diantara kami berempat, hanya dia yang selama empat tahun lebih kami bersama, selalu punya pacar. Sesuatu yang sebenarnya membuat kami, para teman dekatnya, iri, namun juga sangat tertarik dengan semua ceritanya. Si M ini sering sekali berganti pacar. Yang terlama adalah delapan bulan dan yang terpendek adalah satu bulan. Ya, sejak saya mengenalnya di semester satu, reputasi pacarannya memang wow, sering ganti pacar dengan masa yang singkat.

Sayang sekali karena seringnya berganti pacar ini, dia juga jadi sering patah hati. Jika Anda membayangkan dia adalah seorang playgirl karena sering berganti pacar, Anda salah. Dia sama sekali bukan playgirl, yang suka mempermainkan perasaan laki-laki. Justru dialah yang sering patah hati, baik karena diputuskan maupun diputuskan. Maka begitulah jalan cerita pertemanan saya dengannya. Dua bulan percintaan yang berbunga-bunga dan penuh pujian, lalu berubah menjadi 2–3 bulan yang penuh dengan kesuraman, lamunan, dan air mata.

Sungguh teman saya si M ini adalah orang yang ekspresif. Dia bukan gadis yang cantik jelita, berpenampilan wah, atau anak orang kaya. Wajahnya cukup menarik, kepribadiannya tak kalah menarik, dan dia luwes dalam bergaul. Dia juga ceria, ekspresif, punya banyak teman dan aktif berorganisasi. Si M ini cukup populer di angkatan kami waktu itu.

Kami teman-teman dekatnya, akan bisa tahu bagaimana kondisi percintaannya, hanya dengan ekspresi dan kesibukannnya sehari-hari. Pada masa-masa yang berbunga-bunga, si M ini akan sibuk dengan ponselnya, berikirim pesan dengan pacarnya, daripada ngobrol dengan kami. Tentu diselingi adegan senyum-senyum sendiri juga.

Zaman saya kuliah, ponsel hanya bisa mengirim pesan berbayar, sehingga kami terlatih untuk membuat singkatan-singkatan sehingga pesan-pesan kami isinya padat, singkat, namun kadang tak jelas. Angkatan tahun sebelum 2010 pasti bisa membayangkan nih, hehehe…

Setelah sepanjang pagi sibuk SMS-an, siang harinya si M biasanya akan sibuk bercerita betapa pacarnya begini dan begitu, betapa bahagianya dia karena ini dan itu. Tanpa diminta, sesi di kantin akan selalu didominasi oleh cerita-ceritanya. Kami bertiga yang minim pengalaman percintaan sih, dengan senang hati saja mendengarkannya. Hitung-hitung mendapat pengalaman cinta dari teman kami yang dermawan cerita ini, hahaa..

Namun bagaimana jika dia sedang putus dan patah hati? Maka hari-harinya akan diisi dengan banyak lamunan, wajah muram, kadang-kadang mata merah dan sedikit air mata. Mau pacaran lama atau singkat, masa-masa patah hati selalu berlangsung 2–3 bulan. Memang tidak enak melihat wajah murungnya, namun menurut saya, masa-masa patah hati ini membuatnya sangat produktif dan kreatif. Baik dalam bercerita (sesi makan siang di kantin selalu lebih seru di masa M sedang patah hati), maupun dalam membuat puisi berisi kutipan-kutipan cinta dari film dan tokoh-tokoh terkenal. Saya pribadi, selalu menunggu-nunggu momen-momen saat si M di fase ini (jahat sekali saya, menunggu-nunggu momen patah hati teman saya, hehehe).

Jadi setelah saya ingat-ingat kembali, ada 3 tahap ketika si M ini sedang patah hati. Tahap pertama adalah yang terberat. Pada tahap pertama ini, biasanya dia baru putus semalam atau dua hari lalu. Bisa ditebak, wajahnya jadi murung, kadang sembab (mungkin habis menangis semalam), dan banyak melamun. Ponsel yang biasanya rajin dicek dan cekikikan karenanya, diabaikan. Saat si M sedang mengalami patah hati di tahap ini, kami teman-temannya yang sudah hafal dengan kelakuannya, tidak akan mencoba bertanya atau repot-repot menghiburnya. Karena dia pasti diam saja, malas cerita, apalagi curhat. Kemana saja kami pergi, dia akan ikut di belakang tanpa banyak kata. Mengekor saja tanpa punya arah. Pernah teman saya mengajak kami jajan cilok legendaris di depan kampus kami, dan si M ikut-ikut saja jalan di belakang kami dengan diam. Kami tanya, “Mau cilok juga?” Dia hanya mengangguk. “Pedas?” Dia mengangguk lagi. “Mana uangmu? 20rb ya?” Goda temanku pada si M.

Eh dia mengangguk saja, lalu membuka dompet dan mengeluarkan uang 20 ribu yang bisa membayar semua pesanan cilok kami berempat. Entah dia sadar atau tidak akan hal ini. Hahah.. (Ya ampun jahat juga kami ternyata).

Meski berat, namun fase pertama ini biasanya hanya berlangsung 1–2 hari saja. Sepertinya si M yang ekspresif tidak tahan lama-lama bungkam akan kesedihannya. Jika di kelas dia mulai banyak omong, meski wajah masih terlihat kurang bersemangat, apalagi sudah memberi kode ke kami untuk stand by di kantin setelah kelas kuliah terakhir selesai, artinya dia sudah masuk tahap kedua. Tahap erupsi, kami bilang. Tahap patah hati kedua alias erupsi ini memang tepat sepertinya, karena sesi makan siang kami akan dimulai dengan ledakan dan luapan cerita sedih si M, yang disertai sedikit suara bergetar, kadang juga sedikit tangisan. Seringkali juga disertai dengan kutipan-kutipan nyleneh favoritnya, seperti, “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir”, dari Cu Pat Kay, tokoh babi flamboyan dari kisah Sun Go Kong (saya sudah cerita kan, kalau si M patah hati, dia jadi lebih kreatif dalam mengutip dan bercerita?)

Tahap kedua si M patah hati ini bisa terjadi dalam seminggu. Dimana dia akan mengupas hubungannya dengan si mantan dari berbagai sisi. Saya akui, M teman saya ini cerdas dan detail dalam bercerita. Saya belajar banyak hanya dari mendengarkan ceritanya selama bertahun-tahun. Misalnya, jika 2–3 hari pertama dia akan meluapkan rasa sedih dan marahnya ke kami, maka hari-hari berikutnya, sesi makan siang kami akan dipenuhi dengan jalan cerita, kronologis putusnya, atau timeline cinta mereka selama beberapa bulan bersama. Dari cerita-cerita dia sendiri, M rupanya mengambil banyak pelajaran juga. Misalnya ketika dia menceritakan pertengkaran terakhirnya dengan si mantan, dia berteriak-teriak tak tahu malu seperti orang gila. Padahal kejadian ada di pinggir kosnya. Betapa dia saat itu merasa malu ketika sadar dan bercerita kepada kami. Lalu dia berjanji tidak akan menjadi gadis gila seperti itu lagi, meski sakit hati dan kecewa.

Hari-hari berikutnya si M akan bercerita banyak mengenai tipe dan sifat-sifat jelek laki-laki. Misalnya tipe laki-laki banyak bicara dan humoris biasanya suka selingkuh, atau yang kuru buku dan pendiam biasanya malah setia dan romantis, dan sebagainya. Atau mengeluhkan sifat-sifat jelek lelaki, misalnya betapa tidak pekanya mereka, betapa tidak pengertiannya, betapa jahatnya, betapa dinginnya, dan sebagainya. Yah begitulah si M yang selalu sibuk patah hati, menceramahi kami.

Tapi yang paling menarik bagi kami adalah ketika si M memasuki tahap patah hati yang terakhir. Yang satu ini sungguh luar biasa. Luar biasa kreatif menurut saya. Luar biasa menyebalkan menurut teman saya yang tomboi. Luar biasa menghibur, menurut teman saya, yang humoris. Nano-nano rasanya. Betapa tidak, setelah tahap pertama dan tahap erupsi terlewati, teman saya si M ini menjadi luar biasa cerewet, puitis, kadang jadi motivator hidup dadakan. Tentu semua ini hanya terjadi di sesi makan siang rutin kami. Sepertinya jika saya runut kembali, bisa dibilang tahap terakhir ini adalah masa penerimaan si M akan patah hatinya. Dia sudah mulai menerima putusnya hubungan dia dengan mantannya, terlihat dari pemilihan kalimat-kalimat yang si M ceritakan kepada kami. Misalnya wejangan percintaan untuk kami bertiga yang minim pengalaman pacaran. “Cari cowok tuh jangan dilihat dari tampang atau materi, lihat hatinya. Lihat kecerdasannya”, ungkapnya.

Sesuatu yang menurut saya sangat abstrak saat ini. Tapi saya mengangguk-angguk saja malas mempertanyakan lebih lanjut.

Atau wejangan ini, “Sama laki-laki tuh, walaupun sudah dekat banget, bahkan pacaran lama, harus tetap jual mahal. Jangan jual murah, kasih batasan”, ketika dia diputusin pacarnya gara-gara tidak mau gandengan tangan.

Atau kutipan favoritnya ketika dia pernah diselingkuhi pacarnya dengan gadis yang (ternyata) jauh lebih cantik darinya, “Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya,” ujarnya berapi-api, menirukan HAMKA. Maklum, semester 3 waktu itu kami para mahasiswa Sastra Indonesia, “dihajar” dengan tugas-tugas membaca karya sastra lama oleh dosen-dosen kami.

Semua wejangan-wejangan percintaan itu selalu dia sampaikan dengan mengutip beberapa ucapan tokoh terkenal, kutipan kalimat dalam film, atau novel.

Misalnya, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan”, kalimat yang ia kutip dari tokoh Zainudin, di novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Biasanya kutipan-kutipan yang ia comot itu memang sesuai dengan suasana hatinya. Kalau sudah ada kutipan ini, bisa diartikan bahwa M sudah siap move on dan memasuki arena percintaan lagi. Hahahah…

Jadi begitulah cerita teman saya si M yang sepanjang saya mengenalnya di bangku kuliah, selalu sibuk patah hati, menjadi kreatif karenanya, dan sembuh dengan cepat karena kepribadiannya yang reflektif dan ekspresif. Jujur saja, saya mendapat banyak ilmu dari M. Mulai dari pelajaran cinta, pelajaran tentang laki-laki, pelajaran tentang patah hati, dan tanpa saya sadari, menjadi pendengar yang baik selama bertahun-tahun juga memberi manfaat ketika saya memasuki dunia kerja dan masyarakat sesungguhnya.

Lalu bagaimana sekarang kabar si M teman saya ini? Dia hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Sering diundang menjadi public speaking juga karena kemampuan berbicaranya yang baik, mungkin terasah dengan baik saat sibuk bercerita dan menceramahi kami ketika kuliah. Hehehe..

*d

Written by

A storyteller

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store