Sebuah Lilin Kecil

Kakinya melangkah setapak demi setapak, mejelajahi pepohonan hijau nan rimbun. Bau tanah basah semerbak bersama angin yang semilir membelai wajah sendunya. Alangkah malang wajah cantik itu, tak pernah sekalipun dihiasi tawa. Bibirnya pun tak pernah menyunggingkan senyum, jangankan senyum, sesekalinya bersenandung.. tapi tembang lara.Jejak-jejak sepatunya menempel pada tanah yang berwarna kecokelatan. Jejak itu tetap terpoleskan di sana, seolah bukan terlihat sebagai jejak. Namun, terlihat sebagai sebuah lukisan alam yang memang sudah menjadi bagian dari bentuk tanah. Ah, semudah itukah dia dilupakan, tak dianggap keberadaannya? Pantas saja batinnya tersiksa.

Kakinya masih melangkah, menyusuri jalan setapak itu. Mata sayunya mengikuti sebuah sumber cahaya yang entah berasal darimana, tapi terlihat di ujung jalan setapak itu. Pelan-pelan, dia berjalan, pelan sekali hingga tak menimbulkan suara apapun. Bahkan jangkrik-jangkrik di ilalang tak merasa terganggu keberadaannya.

Sunyi. Hanya ada suara ranting pepohonan yang bergesek karena tiupan angin. Sementara jangkrik-jangkrik sesekali bernyanyi memecahkan hening. Sepi. Hanya dia sendiri. Tak ada rasa takut dalam rautnya. Yang tersisa hanya keinginan untuk sampai di ujung jalan dan merangkul cahaya yang ada di sana.

Sebentar lagi, akan sampai di ujungnya. Hatinya justru berdebar, sedikiti rasa gugup menyelimuti perasaannya. “Benarkah itu cahaya?” batinnya.

Tidak berapa lama kemudian, cahaya putih memenuhi wajahnya. Silau. Dia memejamkan kedua kelopak mata. Beberapa detik kemudian, sambil mengangkat kedua tangan di depan wajahnya, perlahan-lahan dia mengintip apa yang ada di depannya. Cahaya putih itu lama — kelamaan memudar. Tak ada lagi cahaya yang menyilaukan mata. Hatinya terhenyak. Kakinya kaku. “Ini bukan ujungnya” bisiknya lirih dalam kesunyian. “Lalu, di mana jalan ini akan berujung?” ucapnya dengan terbata.

Namun, matanya terpana akan suatu hal yang sedang dilihat di depannya. Kini yang tampak di depannya adalah sesuatu yang nyata. Sebuah lilin kecil yang menyala di atas dinding bebatuan. Dia mengambil lilin itu, menyentuhnya secara perlahan untuk tetap menjaga apinya. “Setidaknya aku masih punya harapan..” katanya meyakinkan diri sendiri.

****

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.