Nikah Kan Cuma Sekali!

Selamat malam, Bray!

Sudah dua sampai empat minggu ternyata aku koma dalam menulis catatan harian. Kuputuskan untuk mulai menulis lagi hari ini karena sudah banyak yang menumpuk di pikiranku dan aku juga sedang bosan menunggu pemindahan file di laptop. Demi menghormati ilmu yang baru kudapat kemarin sore maka tulisan kali ini akan mengangkat tema nikah muda, hahaha.

Maaf kalau tiba-tiba membicarakan nikah. Mungkin ada sebagian yang merasa terganggu karena sering mendengar istilah tersebut di mana-mana, terlebih saat scrolling timeline karena tangan sedang gatal sejak 30 detik tidak memegang HP. Mungkin ada juga sebagian yang merasa penasaran karena baru pertama kali mendengar istilah tersebut atau memang sudah ada pemikiran untuk melakukan hal tersebut.

Beginilah asal mula aku jadi penuntut ilmu nikah dadakan. Sore itu, setelah sengaja menghabiskan jam kerja dengan berjalan santai selepas solat asar di mesjid perusahaan, aku kembali ke ruang kerja ku. Entah kenapa tiba-tiba seniorku dan salah seorang rekanku membicarakan tentang pernikahan, eh poligami. Saat itu aku berada dalam mode menyimak karena belum sepenuhnya memahami inti percakapan. Kupikir sang senior ini sedang dikebut deadline karena takut dimarahi supervisor-nya. Nyatanya ia semakin senang dan liar menceritakan tentang keinginan lelaki untuk memiliki istri lebih dari satu. Namun keliaran beliau dibatasi oleh iman yang kokoh sehingga pikirannya tidak lebih liar daripada apa yang kupikirkan.

Percakapan ini hanya berkutat di ranah agama, dimana beliau berkata bahwa ada dua aliran yang bertolak belakang dalam membahas poligami, pro dan kontra. Yang pro poligami mengatakan bahwa praktik poligami sudah ada sejak jaman Rasul, karena terbukti Rasul memiliki banyak istri. Kaum pro menjadikan hal ini sebagai tindak pembenaran aksi mereka. Sementara kaum kontra (tidak terlalu kontra sebenarnya karena praktik ini diperbolehkan di Al-Qur’an) mengatakan bahwa poligami tidak relevan di jaman ini dan hanya bisa dilakukan di kondisi tertentu. Diskusi dua kubu ini selalu menjadi debat kusir yang tidak kunjung henti sehingga seniorku hanya bisa tertawa cekikikan.

Sang senior mencontohkan kalau praktik poligami ini dulu sering terjadi di kampung-kampung karena seorang ayah perlu memiliki banyak anak untuk mengurus lahannya yang berserakan sampai ke belakang gunung. Dari sinilah jargon ‘banyak anak banyak rejeki’ mulai populer. Aku pun menimpali kalau jargon ini tidak relevan kalau diterapkan dalam kondisi masyarakat modern seperti saat ini. Senior mengangguk tanda setuju sambil menambahkan kalau beliau lebih setuju memiliki dua orang anak yang berkualitas tinggi daripada memiliki kesebelasan tapi kualitasnya lebih rendah. Mungkin kalau kesebelasan ini dilepas, mereka bisa membuat kesebelasan lainnya tanpa tanggung jawab, siapa yang tau kan?

Aku lupa penyambung cerita poligami ini dengan cerita nikah muda di bagian mana. Yang kuingat malah ocehan rekanku (perempuan) yang tidak setuju dengan poligami karena saat itu dirinya sedang mewakilkan jiwa-jiwa sejuta gadis di luar sana yang tidak ikut dalam diskusi ini. Untuk lebih gampangnya, senior yang seharusnya bekerja ini malah menambahkan kalau aku dan temanku (yang laki-laki) ingin belajar tentang dunia nikah dalam islam, bisa mengikuti sekolah pra-nikah yang diadakan di mesjid Salman ITB. Biayanya sekitar 800 ribu rupiah. Difasilitasi dengan adanya mentor-mentor yang siap mendengar dan memberikan solusi. Aku pun menimpali dengan perandaian bahwa mengikuti ini mungkin bisa memberikan kesempatan kami untuk bertemu dengan tulang rusuk kami, yang kemudian kusesali kalau ternyata niatku sudah sesat dari awal.

Sang senior dulu mengikuti sekolah pra-nikah ini. Di sana dia belajar banyak hal, baik tentang kesiapan mental, ekonomi negara aka rumah tangga, nafkah istri beserta hak-haknya, bahkan sampai solusi saat istri ternyata tidak suka daging kambing padahal si suami sedang ngiler (yang lebih tepat beda pendapat atau beda kesukaan kalau begini?).

Sang senior yang masih belum bekerja mulai membuatku merasa bersalah karena beliau semakin semangat bercerita. Beliau ternyata memilih ta’aruf sebagai solusi mencari teman hidup. “Inilah bukti nyata orang yang memilih ta’aruf” kataku dalam hati. Aku semakin penasaran kepadanya.

….

Bersambung (Capek coy ternyata nulis, kapan-kapan lah ya kusambung lagi)

Bandung, di malam hujan sambil memangku kucing langganan yang kini telah pergi karena sakit hati.