Saya Hanyalah Penikmat Kopi Murah

Originally published at delapanpx.blogspot.co.id on July 26, 2017.


Ketika saya lebih memilih ngopi kopi sachetan yang tergolong kopi murahan, kerabat dan kenalan saya malah menilai saya adalah penikmat kopi sejati. Jadi kalau ada pembahasan kopi mana yang enak, atau cara penyajian kopi yang enak, saya suka heran kok saya diajak supaya ikut obrolan mereka. Akhirnya dengan sangat rendah hati saya cukup bilang, saya cuman paham kopi siap saji.

Kopi Murah Pengalaman cukup unik pernah saya alami saat saya ngopi kopi beneran di sebuah kedai kopi di Jakarta. Maksudnya beneran di sini adalah kopi yang bukan disajikan siap saji seperti yang dilakukan di Warkop (Warung Indomie pinggir jalan). Karena saya emang engga terbiasa ngopi raw (ga pake tambahan susu, karamel, creamer, dan gula), jadi secara reflek saya bermaksud menambahkan campuran gula ke dalamnya, baru aja ngambil tempat gula, si barista udah langsung menegur saya.

Katanya, laki kok minum kopi pake gula?

Karena ditegur kayak gitu, saya jadi salting, perhatian si Barista cuman tertuju pada saya, soalnya malam itu pelanggan di warung kopi itu cuman saya sendirian. Karena gugup, saya jadi ragu buat masukin gula ke dalam kopi Aceh saya itu. Kemudian si Barista menghampiri saya dan menceritakan cerita-cerita tentang kopi.

Ada hal menarik yang dia bicarakan pada saya malam itu, karena film Filosopi kopilah tiba-tiba muncul sejumlah orang-orang yang kalo bisa dibilang, penikmat kopi beneran yang awam. Saya juga penikmat kopi (beneran) yang awam, bedanya saya engga terlalu tertarik dengan kopi, saya hanya tertarik sama ngopi.

Saat saya menikmati kopi Aceh saya yang tanpa gula itu, si Barista bilang, harusnya engga perlu dikasih gula atau pemanis lagi, karena dengan cara penyajian dia, harusnya sudah engga pahit banget. Saya cobain sampai habis kopi Aceh saya itu, dan saya engga merasakan rasa manis yang dia janjikan tadi, malah menurut saya seperti minum jamu. Dengan polosnya saya bilang engga semanis janjimu, mas.

Karena saya bilang seperti itu, si Barista menjanjikan gratis satu kopi Aceh lagi khusus untuk saya malam itu. Astaga, padahal saya mau cepat-cepat pulang dan main game. Gelas kedua yang dikasi masih sama rasanya dengan yang pertama, cuman karena saya mau buru-buru pulang, saya bilang aja udah pas yang sekarang.

Esoknya saya langsung diare dan panas dingin.