Aku, Bapak dan Ibu
Sebuah konsep:
Aku, bapak dan ibu
Duduk di teras bersama;
Bercengkrama
Tiada sindir maupun nyinyir
Tanpa umpatan, tanpa tangisan
Sebuah enigma:
Buku nikah bertandatangan
Tersimpan di laci yang terkunci
Datang pak pos suatu pagi
Membawa surat permintaan cerai;
Membelah sepi
Sebuah paradoks:
Mereka masih disebut sebagai pasangan suami-istri
Hanya sapaan tak bertukar lagi
Di bawah atap mereka dua orang tak saling kenal
Keluar rumah seolah berebut garis final
Apa namanya kalau ada sepasang suami istri
Yang tak lagi mau mengakui?
Sebuah ketakutan
Dan pengakuan:
Aku ingin meyakini
Kalau mereka masih bisa diselamatkan
Ingin mengimani
Kalau tak semua awal berujung perpisahan
(Tapi keyakinanku musnah sudah, imanku entah ke mana-)
Mereka, dulu absolut
Kini, cuma berupa dua figur tak kukenal
