Aku, Kamu dan Iblis — Kumpulan Puisi
Aku, Kamu dan Iblis.
Mereka bilang,
Hanya ada tujuh dosa mematikan,
Tetapi mereka lupa
Bahwa ada perihal aku dan kamu.
Asmodeus,
Sang penggenggam nafsu yang sempat
mengadu kita berdua
menuntun kita ke arah surga dunia ternikmat.
Lalu bertemu Mammon,
Sang pembawa jiwa serakah
membuat kita ingin saling memiliki
satu sama lain hingga akhir.
Sang iblis Baal membantu,
tebarkan rasa rakus di antara kita
Bukan, bukan rakus dengan satu sama lain
Melainkan rakus terhadap rasa yang lain.
Hingga Belphegor,
menuai sebuah rasa kemalasan
Kamu dan aku,
Hampir tak lagi bertegur sapa.
Tak lupa Leviathan
menumbuhkan benih iri hati,
cemburu
yang melahap habis tubuh kita.
Perlahan semua tumbuh besar hingga
menjelma menjadi sebuah kemarahan,
Lalu datanglah Sang Maha Lucifer,
Sehingga kini,
kesombongan menghiasi kita.
Lucifer pun tersenyum puas,
berhasil membuat dua insan tak berdosa
menjadi pendosa paling unggul yang sudah pasti
beradu maut.
Pesan Kematian
Teruntuk pemakan kantukku,
Bukan iblis yang terus bergelantungan di bahu dan keputusan-keputusanku;
tapi kamu.
Laki-laki yang hobi memakan kantuk perempuan terlihat lugu.
Kamu yang terus menghantui, sedangkan iblis sendiri
malas menempati jiwa ini.
Karena tak dapat dipungkiri — baginya, jiwaku tak terasa
seperti rumah sendiri.
Neraka berisik dan pedih. Akal sehatku mati,
hatiku sunyi. Neraka panas menyala-nyala.
Rautku redup dan tanganku dingin seperti batu.
Bahkan bila dipancing hasratmu, tulangku pun
tetap membeku.
Lalu makhluk apa yang betah tinggal di balik kelopak mata ini?
Syaraf-syarafnya terbelit — menukar realita dengan mimpi.
Retina pecah, dan pupil jadi titik kecil.
Semua jenis setan sudah aku simpan di kantung mata.
Dan yang hitam dipermukaannya adalah tangan-tangan mereka.
Merengek untuk dibebaskan.
Dan lagi melalui puisi ini kuberi tahu,
bukan iblis yang berbisik tentang kehidupan setelah mati;
tapi kamu.
Bukan iblis yang ingin ku ajak berbicara di teras rumahnya —
di suatu tempat di neraka
tapi kamu.
Yang menjerat leherku kini bukan lagi jemarimu —
tapi sebuah tali.
Dan yang akan ku kunjungi setelah ini bukan iblis,
tapi kamu.
Wahai Monster yang bertahta di ruang
di antara
ruang-ruang.
Adakah Tuhan Dalam Jiwamu?
Datang Jum’at siang,
dan ajakan beribadah
“Sebentar lagi!” kau bilang,
kemudian bersantai menikmati dusta.
Di tengah makan siangmu,
seorang anak masuk ke warung.
Di tangan kirinya botol minum,
mulut kering bersenandung.
Kau bilang uang kecil tak ada,
tapi dia tak beranjak juga.
Kau bentak dia, kau usir,
ia tak ada pun kau tetap nyinyir.
Yang paling kubanggakan darimu,
ialah ketika kau pergi ke masjid
untuk mengambil takjil.
“Untuk anak-istri, Mas!”
Perjalanan pulang kau lahap semua,
gorengan berbumbu rakus dan nafsu.
Hal kecil yang terjadi padamu hari ini,
menjadi 4 alasan mengapa Aku ada.
A K U.
lagipula, ini semua memang tentangku, bukan?
Bumi dan semesta, berporos padaku, bukan?
Dunia dan masa depan, menyorot padaku, bukan?
Tanam baik-baik ego
selama kau masih jadi Aku.
Tanam baik-baik Aku
selama ego berpihak pada puasmu.
Itu yang Aku inginkan!
Itu yang Aku makan!
Sombonglah karena Aku kau tidak lapar,
Sementara saudaramu di pinggir jalan,
terkapar!
Tak ada hubungannya, bukan,
menjadi seorang kafarat
dengan ketidakpedulianmu
pada orang-orang melarat?
Ketika dosa-dosa kau piringkan
dalam sajian makan malam,
dan kau kenyang,
Disitulah Tuhan tiada.
