Dilema Serafim Yang Jatuh.

Wahai Tuan,
Mengapa kisanak bersikukuh tuk menapak bumi sementara syahdu dalam nirwana?
Diam-diam mencari puan yang katanya puitis doanya, sampai-sampai hatimu jatuh hanya mendengarnya.
Berniatkah kisanak mengobati hati puan?
Bermodal senyum manis, alis mahfum, dan pipi ranum tidak membuatnya goyah. Sebab doa sepertiga malam yang puitis itu adalah pengaduan rasa sayang sang puan pada tuan.
Naif.
Baiknya kisanak pulang sebelum hati melebur dalam relung.
Kasihan molek kakimu menghantam setapak aspal hitam – sayapmu tak berguna di bumi manusia – , kasihan mulus kulitmu terbakar sorot rancap mentari, kasihan hitam halus rambutmu terlihat lusuh demi mencari apa yang bukan takdirmu.
Setidaknya ucap dariku sebuah,
Selamat Datang, Tuan
sebab mampir ke bumi dimana para pendosa, pentaubat dan pujangga bercecer dalam satu jagat.
Ia tahu
Ini adalah sakrilegi
Ini adalah penodaan
Ini adalah penghinaan
Itu adalah dosa
Dia telah memupuk dosa
Dia telah menumbuhkan dosa
Dia berdosa
Rasa panas membakar lengannya
Rasa tertusuk menyakiti jantungnya
Sayapnya terasa dikoyak-koyak
Rasa sakit itu mendera hingga mati rasa
Kemudian Ia terhempas
Ke ujung dunia
Terbakar dalam kejatuhannya
Terobek-robek sayap dalam kejatuhannya
Enyahlah Ia dari singgasana suci
Enyahlah Ia dari hadapan Tuhan
Enyahlah Ia sang pendosa
Enyahlah Ia
Sebelum kehancurannya Ia tersenyum
“Ia licik, bukankah begitu?”
“Ia memikirkanmu dalam afsunnya, tetapi kau juga harus rela hancur bersamanya.”
Ia meledak
Hancur
Tersepai menjadi nur
Lantas, apakah kau yakin masih memilih afeksi yang membuatmu melacur?
