Gadis Porselen

Vanessa.
Vanessa.
Jul 22, 2017 · 2 min read

Kau cantik.

Kau cantik, dan putih. Semua orang menatapmu tanpa henti. Di mata mereka terpantul senyummu yang mematikan. Kau, sang porselen murni.

Kau cantik, dan rendah hati. Setiap hari disentuh dan dikecup Tuan pemilik dan para tamu undangannya. Sungguh, aku cemburu sekali! Ah, tapi bagaimana lagi. Kau memang cangkir pilihan.

Kau cantik, dan bersih. Rutin digunakan, namun rutin dicuci. Para pelayan menggosokmu selembut mungkin, dan aku harus menahan cemberut sekuat mungkin.

Kau itu — impian para cangkir! Tempatmu benar-benar di atas sana, secara harfiah, di etalase kaca teratas. Semua cangkir iri dengan sosialita dan pesona yang terpancar tanpa perlu ditebar. Padahal kita semua sama, kopi panas, namun kau tetap sempurna sebagai sebuah cangkir!

Kau cantik, dan sedikit mematikan.

Pada suatu malam, akhirnya, aku diambil dari rak setelah sekian tahun berada di etalase terbelakang. Aku berdebu, kotor dan dianggap tidak bercorak — membosankan. Harusnya aku menjadi tempat saus cabai, tapi lebih buruk, aku dibiarkan begitu saja. Aku rasa, sudah waktunya bagiku untuk dibuang.

Ataukah justru, sudah waktunya bagiku untuk dipandang?

Disinilah aku, mematung di bak cuci, memandang cangkir terbaik yang berkilau bak matahari.

Kemudian, bicaraku jadi gagu. Wajahku panas dan merona. Seorang pria memesan kopi dan memintaku untuk melengkapinya.

“Selamat malam, salam kenal. Aku gadis tembikar.”

Jeda panjang. Hanya ada ketukan jam dinding yang menyisakan ruang.

Vanessa.

Vanessa.

Masih berusaha logis.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade