Hari Pertama di Neraka

Kamu
Anak lantai berapa?
Tanya sebayang jiwa yang dulunya kawan lama.
Tak langsung ku jawab.
Aku
bisa saja masuk lantai satu
karena tidak tahu
percaya Tuhan atau hantu.
Anak-anak lantai satu
masih polos, mati sebelum tahu dirinya hidup;
Aku
tidak bakal masuk lantai satu.
Aku
bisa saja masuk lantai dua
karena pagi-pagi aku bangun di sebelahnya
dan sebelum malam
aku tiduri semua lelakinya
Anak-anak lantai dua
suka sekali yang namanya pesta raga;
Aku
tidak yakin lantai dua pantas jadi bagian neraka.
Aku
bisa saja masuk lantai tiga
berbaur dengan anak-anak lain
yang sanggup saling makan
supaya dapat sebanyak-banyaknya jatah pangan.
Selama ini, aku memang begitu.
Tanya pada aparat, berapa jenazah
hasil karyaku di posko ransum.
Aku mau sebanyak-banyaknya!
— buat dibagi dengan lima teman dekatku.
Bukan. Bukan lantai tiga.
Apalagi lantai empat.
Kalau begitu
kenapa aku tidak ditempatkan di lantai lima?
Aku rasa, aku dan Marah
sudah lebih sering bercinta
daripada kekasihku dan
selingkuhannya.
(iya, kekasihku ada di lantai dua.)
Marah kerap mengecup leherku
menggerogoti daun telingaku
dan, sambil meremas dadaku dengan cakarnya,
berbisik: bakar.
Bakar, Bakar!
Bakar mereka dengan sinar matamu
dan sambar dengan gelegar
suaramu.
Ketika aku tanya pada Charon
dia menggeleng dan mendayung berlalu.
Ya sudah.
Kata orang-orang mayoritas
aku akan bertemu seorang mantan Gubernur
di lantai enam.
Kalau begitu, aku mau masuk lantai enam saja.
Aku kan sering bertanya
di tengah komat-kamit doa:
wahai Tuhan, atau dewata, atau roh semesta alam
kenapa kalian hanya bisa berbicara
dengan kami via doa?
Dari kejauhan, kudengar
sesosok Erinyes tertawa.
Tinggal tiga lantai yang tersisa
dan aku semakin penasaran;
Aku anak lantai mana?
Lantai tujuh?
Kalau kesal, kepalaku isinya darah
orang-orang yang ku bayangkan
kucekik lalu kucabik-cabik.
Lantai delapan?
Aku selalu berpura-pura.
Astaga, untuk masuk sini saja
aku pura-pura jadi adik kecil
Lantai sembilankah, kalau begitu?
Karena, rahasia negara
tidak berarti apa-apa dibandingkan
dengan kelangsungan hidupku.
Rahasia, begitu masuk otakku,
namanya komoditi.
Tinggal kucari pembeli
yang mau bayar harga tinggi.
Aku
anak lantai mana?
Charon tersenyum padaku,
semanis asam di ujung sembilu.
Ia merapatkan perahu ke
sebentuk pantai berbatu.
Katanya, ketujuh saudaraku sudah menanti
di ujung sana.
Sambil mengucapkan terima kasih,
aku melompat turun.
Ketujuh saudaraku:
Luxuria, Gula
Avaritia, Acedia
Ira, Invidia
Superbia.
Menggerayangi kulitku
lalu masuk ke tubuhku.
Sesaat kemudian,
aku kembali ke dunia.
Kembali menggemban misi istimewa
untuk mengajakmu turun
bersamaku
ke lantai terdalam neraka.
Sampai jumpa.
