Hari Pertama di Neraka

Vanessa.
Vanessa.
Jul 25, 2017 · 2 min read
Scr: google.

Kamu

Anak lantai berapa?

Tanya sebayang jiwa yang dulunya kawan lama.

Tak langsung ku jawab.

Aku

bisa saja masuk lantai satu

karena tidak tahu

percaya Tuhan atau hantu.

Anak-anak lantai satu

masih polos, mati sebelum tahu dirinya hidup;

Aku

tidak bakal masuk lantai satu.

Aku

bisa saja masuk lantai dua

karena pagi-pagi aku bangun di sebelahnya

dan sebelum malam

aku tiduri semua lelakinya

Anak-anak lantai dua

suka sekali yang namanya pesta raga;

Aku

tidak yakin lantai dua pantas jadi bagian neraka.

Aku

bisa saja masuk lantai tiga

berbaur dengan anak-anak lain

yang sanggup saling makan

supaya dapat sebanyak-banyaknya jatah pangan.

Selama ini, aku memang begitu.

Tanya pada aparat, berapa jenazah

hasil karyaku di posko ransum.

Aku mau sebanyak-banyaknya!

— buat dibagi dengan lima teman dekatku.

Bukan. Bukan lantai tiga.

Apalagi lantai empat.

Kalau begitu

kenapa aku tidak ditempatkan di lantai lima?

Aku rasa, aku dan Marah

sudah lebih sering bercinta

daripada kekasihku dan

selingkuhannya.

(iya, kekasihku ada di lantai dua.)

Marah kerap mengecup leherku

menggerogoti daun telingaku

dan, sambil meremas dadaku dengan cakarnya,

berbisik: bakar.

Bakar, Bakar!

Bakar mereka dengan sinar matamu

dan sambar dengan gelegar

suaramu.

Ketika aku tanya pada Charon

dia menggeleng dan mendayung berlalu.

Ya sudah.

Kata orang-orang mayoritas

aku akan bertemu seorang mantan Gubernur

di lantai enam.

Kalau begitu, aku mau masuk lantai enam saja.

Aku kan sering bertanya

di tengah komat-kamit doa:

wahai Tuhan, atau dewata, atau roh semesta alam

kenapa kalian hanya bisa berbicara

dengan kami via doa?

Dari kejauhan, kudengar

sesosok Erinyes tertawa.

Tinggal tiga lantai yang tersisa

dan aku semakin penasaran;

Aku anak lantai mana?

Lantai tujuh?

Kalau kesal, kepalaku isinya darah

orang-orang yang ku bayangkan

kucekik lalu kucabik-cabik.

Lantai delapan?

Aku selalu berpura-pura.

Astaga, untuk masuk sini saja

aku pura-pura jadi adik kecil

Lantai sembilankah, kalau begitu?

Karena, rahasia negara

tidak berarti apa-apa dibandingkan

dengan kelangsungan hidupku.

Rahasia, begitu masuk otakku,

namanya komoditi.

Tinggal kucari pembeli

yang mau bayar harga tinggi.

Aku

anak lantai mana?

Charon tersenyum padaku,

semanis asam di ujung sembilu.

Ia merapatkan perahu ke

sebentuk pantai berbatu.

Katanya, ketujuh saudaraku sudah menanti

di ujung sana.

Sambil mengucapkan terima kasih,

aku melompat turun.

Ketujuh saudaraku:

Luxuria, Gula

Avaritia, Acedia

Ira, Invidia

Superbia.

Menggerayangi kulitku

lalu masuk ke tubuhku.

Sesaat kemudian,

aku kembali ke dunia.

Kembali menggemban misi istimewa

untuk mengajakmu turun

bersamaku

ke lantai terdalam neraka.

Sampai jumpa.

Vanessa.
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade