Denny Herdy
Jul 20, 2017 · 26 min read

Sky Dining

Dua hari lagi aku akan ke Jakarta, tulis Jo dalam sebuah pesan di Blackberry Messenger-ku diakhiri dengan emote senyum datar. Belum sempat aku membalas, salah seorang kru memanggilku untuk segera kembali ke panggung, kembali bernyanyi. Aku segera bangkit dari meja bar dan menghabiskan sisa gelas yang berisi Pina Colada. Koktail berwarna kuning yang berisi campuran dari rum, krim kelapa, dan jus nanas ini aku habiskan dengan buru-buru. Dan sebuah ceri sebagai hiasan di atasnya aku kunyah sembari berjalan ke panggung kecil di mana para pemain band telah menungguku dengan sabar. Kumasukan Blackberry Torch-ku yang sewarna putih susu ke dalam tas kecil bulatku yang sewarna dengan terusan panjang ketat yang sedang kupakai.

Aku sudah kembali ke panggung kecil di tengah-tengah ruangan yang sedikit kelam. Ada lampu-lampu kecil berwarna oranye yang seperti kunang-kunang dalam jumlah banyak, tergantung di langit-langit, di sudut-sudut tembok, dan beberapa lampu besar yang juga sinarnya tidak terlalu terang. Tak ada lampu nyala neon putih yang bersinar terang di sini, sehingga kadang-kadang pengunjung yang rabun kesulitan memilih minuman yang ada di daftar menu. Segalanya serba remang, redup, dan samar-samar. Entahlah barangkali orang-orang yang berkunjung ke sini adalah orang-orang redup atau samar-samar pula? Atau orang-orang yang membutuhkan keremangan karena mereka terlalu jenuh dengan segalanya yang terang, yang terlalu blak-blakan. Atau barangkali mereka memang hidup dari remang ke remang, menyembunyikan terang dan lebih senang dalam zona remang?

Tempat ini tidak lebih luas dibanding tempat kerjaku yang dahulu, tapi tempat ini terlihat lebih cozy, dengan desain yang minimalis, dengan meja-meja segi empat yang tersebar di sisi-sisi ruangan, dengan kursi-kursi yang nyaman. Sebuah bar terletak di kiri ruangan dengan meja bar yang memanjang dan berukuran cukup besar dengan kursi-kursi tinggi lagi tegak. Botol-botol minuman berjajar rapi dalam sebuah panel kotak-kotak yang berukuran besar lagi banyak dengan cahaya biru sebagai penerangan. Banyak merek minuman di situ, mulai dari Chivas Reagal, Johnie Walker, Jack Daniel, Smirnoff Vodka, Gibleys, Bercadi, sampai Heinekken. Dua orang bartender beserta asistennya sedang sibuk meracik minuman. Kukenal hanya salah seorang dari mereka, Juni, seorang perempuan bartender muda berperawakan ceking dan mempunyai tindik di hidung itu dengan cekatan meracik minuman seperti sedang beratraksi, sehingga beberapa pengunjung terlihat takjup atas apa yang dilakukan Juni. Entah berapa lama ia berlatih sehingga ia terlihat sangat ahli.

Sedangkan di tengah disisakan spasi untuk lantai dansa atau tempat berajojing ria ketika waktu sudah menunjukan lebih dari jam duabelas malam ketika weekend datang.

Suasana tampak ramai dengan dengan keriuhan para waiter yang sedang sibuk melayani pengunjung yang memesan minuman. Steve terlihat sedang bediri di dekat sebuah meja, menjamu pengunjung dengan senyum dan kata-kata ramahnya yang seramah orang sunda. Ia adalah manager di klub ini. Beberapa pengunjung terutama wanita akan senang jika Steve menjamu mereka dengan keramahannya yang luar biasa ditunjang dengan wajah tampan, putih bersih dengan jejak-jejak keturunan orang Menado, tapi mempunyai senyum ramah khas orang sunda dan perawakan atletis. Cara berpakaiannya menunjukan bahwa ia adalah seorang yang melek akan penampilan. Secara keseluruhan ia nyaris sempurna sebagai seorang lelaki, tapi aku merasa aneh, tak sekali pun ia terlihat mengandeng seorang wanita, bahkan ia sendiri mengaku berstatus single. Aku sendiri tidak terlalu menyukainya. Ia seorang perpeksionis yang selalu ingin sempurna dalam segala hal sehingga dalam hal pekerjaan ia selalu menekan bawahannya supaya mereka bekerja tanpa cela.Tapi dibalik itu semua ia adalah teman yang baik buatku. Aku selalu bercerita tentang hal-hal pribadi kepadanya, termasuk kedekatanku dengan Jo yang kukenal lewat dunia maya dan ia merespon pernyataanku dengan terkejut di wajahnya yang tirus. Di tahun 2012 kamu masih percaya pada cinta di dunia maya? Pandanganmu ternyata masih klasik, ya, Nabila. Kamu masih memimpikan dongeng tentang pangeran berkuda poni putih, ucap Steve dengan nada sedikit menyindir dan blak-blakan. Lalu aku menjawabnya dengan penuh pembelaan, terkadang aku selalu mempunyai pandangan begini; bahwa dalam hal cinta, baik itu nyata atau pun maya, tak jadi masalah jika keduanya saling menyukai. Memang itu terdengar sangat klasik di tengah-tengah dunia kita yang begitu deras dengan manusia-manusia yang datang dan pergi. Tapi aku pikir tidak ada salahnya aku mencoba hubungan ini. Tapi sejauh ini aku belum pada taraf cinta, hanya sebatas suka. Ia sosok laki-laki yang menurut penilaianku sejauh ini menarik. Sedikit berbeda. Dan entahlah, barangkali penilaianku akan berubah menjadi tidak suka atau justru sebaliknya, status suka itu akan beralih menjadi cinta, seandainya nanti jika kami bertemu dan melakukan sebuah kencan pertama, kami sama-sama cocok bukan tidak mungkin aku akan menjalin hubungan serius dengan ia. Baiklah, baiklah, aku terima alasanmu, Nona Berpikiran Klasik, ujar Steve seraya melebarkan senyumnya yang manis dengan kalimat meledek.

Aku kembali menggenggam sebuah mike. Riuh rendah suara pengunjung sejenak berhenti ketika aku mengatakan sepatah dua patah kalimat. Pandangan demi pandangan mata semua tertuju padaku dan menatapku dengan pandangan yang beragam. Ada yang memperhatikan aku begitu detil layaknya seorang peneliti, memperhatikan aku mulai dari high heel-ku yang berwarna hitam-silver yang tingginya sembilan senti, sampai pada terusan panjang ketatku berwarna silver. Rambutku yang coklat panjang curly diperhatikan, hingga pada wajahku yang berbalut make-up penuh dengan sapuan bedak tebal, blash on, dan sepasang mata coklat yang dimanipulasi dengan eye liner, mascara, juga eye shadow, sehingga terlihat indah bak mata sebuah Barbie yang siap membalas tatapan orang-orang yang menatapku dengan penuh selidik dan penilaian. Dan yang utama, mereka semua memperhatikan bibir tipisku yang dipulas dengan sapuan merah muda yang basah.

Aku mulai menyanyikan lagu-lagu mellow, dan beberapa lagu-lagu dansa yang membuat orang menggoyangkan badan. Aku harus pintar menginterpentasikan berbagai macam lagu. Kala lagu itu berlirik sedih, mau tak mau aku harus bisa merasakan rasa sedih itu dalam bentuk nada-nada, dengan raut muka yang menunjukan jiwa lirik tersebut namun tidak berlebihan. Kala lagu itu bernada riang, atau sedang jatuh cinta, mau tak mau aku harus menunjukan ekspresi tersebut meskipun seandainya saat itu suasana hatiku sedang dalam kegalauan, juga sebaliknya. Menjadi penyanyi menurutku tidak jauh berbeda dengan seorang aktor, seorang penulis, atau seniman-seniman lain yang harus pintar-pintar merasa, pintar menghayati, juga pintar berpura-pura. Hanya saja kepura-puraan itu harus dirasakan terlebih dahulu lalu dikeluarkan melalui suara dalam bentuk nada-nada merdu. Bukankah hidup juga adalah sebuah panggung sandiwara?

Hampir semua pengunjung terhibur dengan nyanyianku. Ada yang bernyanyi sekedarnya karena menyukai lagunya, ada yang menyukai karena musiknya, ada pula yang menyukai keduanya dan hafal dengan liriknya lantas mereka bernyanyi alakadarnya mengikuti nyanyianku. Satu di antaranya bahkan ada yang melakukan standing applause ketika aku selesai membawakan sebuah lagu yang berlirik genit dengan suaraku yang agak serak ditunjang dengan gestur tubuh yang menggoda. Ia seorang lelaki berbadan gajah, bermata buaya, dan bergigi ikan hiu ketika ia tertawa dan tak henti-hentinya menatapku, dari atas hingga bawah, dan dengan intens menatap wajahku dengan penuh perasaan dan nafsu, lalu mata buayanya mengerling genit kepadaku dengan ekspresi muka badak dengan senyum ularnya. Aku menatapnya dengan ekspresi angkuh tapi tidak terlihat sombong, karena lelaki itu bagaimana pun adalah pengunjung setia di klub ini. Bukankah setiap pengunjung adalah raja?

Sepasang muda-mudi terlihat mesra dan asik sendiri dengan dunia mereka. Mereka tidak merasa terganggu atau pun terharu mendengar nyanyianku. Barangkali mereka sedang melakukan kencan pertama, sehingga segalanya tampak tidak penting kecuali perasaan mereka. Yang duduk di bar tampak tenang dengan mendengarkan irama musik dan nyanyian sambil meneguk segelas minuman yang mereka pegang. Semua kursi terisi penuh karena hari ini adalah weekend. Hari melepas segala kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan atau deadline ditinggalkan, diganti dengan kesenangan dan relaksasi, melepas penat setelah lima hari bergelut dalam rutinitas yang menjenuhkan.

Kulihat di pojok dekat bar tiga orang laki-laki dan seorang perempuan tidak menghiraukan aku menyanyi. Mereka asik sendiri dengan tertawa-tawa dan bercanda, tapi yang perempuan tak terlihat tertawa, hanya tersenyum sinis dengan sikap layaknya seorang ratu. Dua orang perempuan mendengarkan nyanyianku dengan penuh hidmat dengan raut wajah damai seakan-akan lagu yang aku nyanyikan adalah lagu rohani yang menentramkan. Mereka saling berpegangan tangan.

Para waiter masih tetap modar-mandir, sibuk melayani permintaan pengunjung dengan sikap ramah dan senyum yang dipaksa, senyum yang sangat standar sebuah perusahaan. Sedangkan Steve sedang mengurus persiapan acara midnite, terlihat sibuk mengatur para kru juga mengarahkan DJ karena sebentar lagi acara live musik ini akan segera berakhir. Lagu terakhir berhasil kunyanyikan dengan baik dan para pengunjung member apresiasi tepuk tangan atas berakhirnya pertunjukan.

Selesai bernyanyi, aku duduk di bar dan memesan segelas Long Island pada Juni, sang bartender yang penuh tindik. Long Island, please, ucapku pada Juni sambil menyimbulkan senyum. Juni hanya mengangguk dan tersenyum, lalu kembali sibuk mengerjakan pesanan. Aku duduk dengan santai. Kuambil Blackberry Torch-ku dari tas kecilku, lalu membukanya. Kulihat beberapa notifikasi dari facebook, twitter, email, juga BBM. Seketika kuteringat Jo. Terakhir kali ia mengirimi aku sebuah pesan yang mengabarkan bahwa ia akan pergi ke Jakarta esok lusa, dan aku belum sempat membalasnya. Hanya dir read.

Ketika aku membuka obrolannya. Aku melihat Jo mengirimi aku lagi sebuah pesan.

Lagi sibuk ya?? Tulisnya dalam pesan terakhir yang belum sempat aku baca.

Aku membalas pesan Jo yang belum sempat aku balas.

Aku baru selesai menyanyi nih. Sekarang lagi duduk di bar sedang memesan minuman. Maaf tadi belum sempat dibalas soalnya tadi keburu dipanggil kru untuk kembali bernyanyi. Tulisku dengan mengetik cepat dalam keypad Blackberry.

Segelas Long Island diberikan oleh asisten Juni dengan ramah, lalu ia kembali membantu Juni menyiapkan pesanan. Aku minum segelas Long Island ini dengan perasaan haus. Tenggorokanku kering karena terlalu banyak bernyanyi. Ah, rasa pahit alkohol dan lemon tea ini membuat tenggorokanku basah, dan dingin es membuat tenggorokanku segar. Aku meminumnya dengan tidak tergesa-gesa, lalu bersantai melihat-lihat sekitar, dan membuka notifikasi-notifikasi yang ada di Blackberry.

Aku belum tidur, masih nulis cerpen. Ga apa-apa, nanti setelah kamu pulang aku telfon untuk lebih jelasnya. (terbaca)

Belum sempat aku membalas, tiba-tiba Steve memanggilku dan mengajakku bergabung di sebuah meja. Menemani pengunjung yang katanya ingin ngobrol denganku.

Steve mengenalkan aku pada mereka, dan aku memasang raut wajah ceria dengan senyum mengembang. “saya Nabila.”

Orang-orang yang mengundang aku ke meja mereka adalah orang-orang yang tadi tidak menghiraukan aku menyanyi. Tetapi entah mengapa tiba-tiba mereka mengundang aku ke mejanya. Aku menatap satu per satu wajah mereka dengan sikap sopan. Kulihat perempuan yang tadi kulihat tersenyum sinis itu sedang menatapku dengan penuh selidik dan penilaian. Ekspresi wajahnya terlihat sinis dan merendahkan, ditopang dengan dagu yang diangkat. Barangkali ia menganggap kami berbeda, ibarat ratu dengan dayang. Steve membuka percakapan dengan penuh basa-basi dan terlihat kaku. Sedangkan mereka meresponnya dengan sikap biasa-biasa saja, tidak antusias. Mereka lebih antusias melontarkan berbagai macam pertanyaan kepadaku. Terutama para lelaki. Mereka menanyakan hal-hal yang tidak penting kepadaku dan penuh basa-basi pula. Aku menjawabnya dengan perasaan terpaksa tapi masih tetap dengan ekspresi ramah dengan senyum manis. Steve segera membuka obrolan-obrolan baru kepada mereka, terutama para lelaki menanyakan soal-soal operasional klub dan lain-lain.

Hmm…Aku lagi nemenin pengunjung nih. Mereka ada empat orang. Satu perempuan yang sok berkelas, tiga lagi lelaki kepo. Uh..ga nyaman banget. (terkirim)

Aku mengirim pesan kepada Jo, curhat, di saat mereka sedang asik mengobrol membicarakan obrolan yang tidak penting.

Cuekin aja, nanti juga diem sendiri. Jangan bete dong. Tuh wajah kamu udah cantik begitu masa jadi jelek gara-gara bête. (terbaca)

Aku membacanya dengan perasaan senang, karena pesan itu ibarat sebuah hiburan di antara ketidaknyamanan. Aku tahu Jo sedang menggombal.

Ah, iya, ya, aku udah cantik gini masa bête sih, rugi dong udah make-up capek-capek jadi jelek gara-gara bête (hehehe kepedean banget yaa) (terkirim)

Tiba-tiba Steve memohon diri untuk pamit karena harus acara midnite akan dimulai. Aku segera menghentikan obrolanku dengan Jo dan segera memfokuskan diri kepada mereka. Laki-laki yang berkemeja biru dan bertubuh besar yang berada tepat di sampingku membuka kembali obrolan yang penuh kecanggungan. Laki-laki itu tiba-tiba menanyakan hal-hal pribadi kepadaku dengan kalimat-kalimat yang kasar yang tidak sopan. Perempuan yang sedang duduk angkuh itu menimpali perkataan laki-laki tadi, ia melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar dan tidak sopan diucapkan dalam sebuah pertemuan pertama. Aku menatap mereka dengan pandangan jijik, dan hilang sudah sikap sopanku kepada mereka meskipun sebenarnya aku harus tetap berbuat sopan seburuk-buruknya perlakuan mereka terhadapku. Pengunjung adalah raja. Tapi perkataan mereka diambang batas kewajaran. Mereka menyanyakan hal-hal yang tidak senonoh dan menganggap aku adalah wanita murah yang bisa dikomentari seenak udel mereka, dan diajak untuk melakukan hal-hal yang tidak semestinya.

Aku memang bekerja di sebuah klub malam tapi bukan berarti aku bisa diajak bermalam dengan orang-orang yang menawarkan aku sebuah kesenangan. Mereka mungkin sudah terdoktrin bahwa orang-orang malam terutama wanita adalah orang-orang gampangan yang bisa diajak tidur atau bersenang-senang. Ah, imej itu terlalu klasik bahkan tak akan pernah usang. Imej itu mungkin aku selalu melekat di diri wanita-wanita yang bekerja di tempat-tempat hiburan. Bukankah siang atau malam hanyalah sebuah jeda waktu perputaran dari rotasi bumi? Dan bukankah hidup adalah berbagai macam dari berbagai pilihan yang ada sehingga aku memilih untuk bekerja di malam hari di sebuah tempat hiburan?

Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menunjukan sikap jijik dan dongkol. Suasana menjadi cair ketika acara midnite dimulai. Irama house musik mulai bergema ke seluruh ruangan, lampu-lampu yang redup kini telah gelap diganti dengan lampu sorot yang menyala ke sana-ke mari. Dengan perasaan kesal aku pamit kepada mereka dengan dagu yang kuangkat dan senyum sinis. Sebelum beranjak, aku menatap wajah mereka satu per satu dengan sorot mata merendahkan.

Aku pergi ke ruang ganti, berniat menghapus make-up. Kuhapus make-upku dengan kapas yang berisi toner pembersih, sehingga seluruh make-up itu hilang. Sejujurnya aku tidak suka wajahku berbalut make-up tebal, akan tetapi karena kewajiban mau tak mau aku harus menggunakannya. Aku hanya butuh beberapa menit untuk berganti pakaian dengan pakaian kasual selanjutnya mobil jemputan telah menungguku untuk mengantarkanku pulang.

**

Hi..sudah pulangkah? (terkirim)

Suara bunyi ringtone Blacberryku terdengar nyaring. Aku sudah sampai di kos dan sedang sibuk membersihkan diri. Setelah membesihkan diri aku langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur. Sedikit lelah. Aku lemaskan ke dua kaki dan tangan. Dalam keadaan santai seperti ini, aku biasanya membuka Blackberry kesayangan. Aku berkicau di twitter, membaca timeline dengan sekilas, meretweet twit yang sekiranya menarik. Setelah puas dengan semua itu aku membuka facebook, kulihat status-status secara sekilas, lalu kubuka fitur chat dan mengaktifkannya. Kulihat dalam list online ada nama Jo di sana. Lalu kubuka obrolan baru di sana.

Hi Jo, masih terjaga kah?(terkirim)

Setelah mengirim pesan itu aku menekan tombol escape untuk membuka fitur yang lain. Kubuka fitur BBM dan kubaca satu persatu pesan yang dikirim kepadaku yang salah satunya dari Jo.

Hi Jo. Barusan aku kirim pesan di facebook chat-mu. Hehe. Ternyata kamu sudah duluan kirim BBM. Aku sudah pulang dan sekarang sedang santai. (terkirim)

Aku sejenak menginggalkan pesan tersebut sembari menunggu Jo membalas. Aku membuka recent update, melihat foto profil yang baru diganti di kontak update.

Lagi santai ya, bolehkah aku telefon? (terbaca)

Aku menjawabnya cepat

Boleh. Silahkan. (tekirim)

Aku mengunggu telefon Jo sambil duduk menikmati segelas green tea panas yang aku buat. Kipas angin yang menyala ke sana-ke mari membuat sejuk kamar yang luasnya 3x4 meter yang dijejali dengan berbagai macam barang ini. Suasana di luar sudah sepi karena waktu telah menunjukan pukul tiga pagi. Tak berapa lama Blackberryku berbunyi dengan ringtone nada panggilan telefon.

Aku mengangkatnya, menekan tombol penjawab.

“ Halo, Nabila,”ucap Jo dengan suara yang terdengar berat dan berlogat Jawa.”Sudah santai ya. Aku tidak mengganggu kan?”

“Tidak. Aku santai kok,”jawabku sambil meniup hot green tea, lalu meminumnya secara perlahan dan tergesa.”Ini aku sambil minum hot green tea dan duduk manis. Kamu masih belum tidur juga ya? Gimana nulis cerpennya sudah selesai?”

“Belum, Nabil. Seperti biasa, barangkali karena kebiasaan selalu tidur kala orang-orang mulai bangun. Ketika orang mulai mengaji di masjid, aku baru bisa tidur. Tak banyak yang aku lakukan di pagi hari. Tapi kadang-kadang aku merindukan bau embun pagi, atau aktivitas pagi hari dengan segala rutinitasnya. Aku pikir sudah lama aku tidak melihat matahari terbit dari timur. Melihat kakakku mengerjakan pekerjaan rumahnya di pagi hari, atau mendengar celotehan ibu-ibu yang bergosip atau saling tawar-menawar dengan penjual sayur. Apakah kamu pernah punya perasaan seperti itu juga, Nabila?”

“Ya,”jawabku sambil kembali merebahkan diri di atas kasur. Kutumpu kepalaku dengan bantal empuk, sehingga rambutku yang panjang tumpah di atasnya,”kadang-kadang aku merindukan semua itu, tapi aku punya pikiran begini; barangkali aku telah memilih untuk hidup dan bekerja pada malam hari, dan pilihanku membutuhkan konsekuensi yang berimbas pada alur kehidupanku. Aku jadi tidak lagi akrab dengan matahari pagi dan segala rutinitas pagi. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu menyukai aktivitas pagi, dan aku selalu malas untuk bangun pagi. Ketika masih tinggal bersama orangtua, aku selalu dibangunkan pagi-pagi buta, dan aku benar-benar merasa terganggu dengan itu. Terutama nenekku, ia yang paling antusias membangunkan aku pagi-pagi buta. Katanya seorang perempuan pantang bangun siang. Pamali. Rejeki akan dipatok ayam. Dan lelaki akan enggan memilihmu jika kamu selalu bangun siang. Imejmu akan dicap sebagai seorang pemalas. Tapi pikiranku menepis semua pendapat nenekku. Aku pikir bangun pagi atau pun siang, bekerja pagi atau pun malam, sama saja, tergantung pribadi seseorang itu bersungguh-sungguh melakukan sesuatu atau tidak. Banyak orang yang bangun pagi, bekerja pagi, tapi hanya mengikuti rutinitas belaka, supaya mendapat gaji, atau mendapat untung. Dan banyak pula orang yang bangun siang, bekerja malam, mereka bersungguh-sungguh bekerja dengan senang hati, sehingga mencipta hal-hal yang kreatif. Bukankah segala sesuatu jika berasal dari kesenangan dan minat itu akan lebih menarik?”

Jo hanya diam mendengarkan aku berbicara, sesekali menghela napas. Aku kembali duduk dan minum hot green tea yang kini hangat. Lalu berkata kembali.

“Aduh, maaf ya, pagi-pagi buta begini aku membicarakan topik yang cukup berat,”ucapku dengan nada menyesal. “Oh, ya, lusa kamu mau ke Jakarta, benarkah? Ada acara apa? Kenapa mendadak?”

“Iya lusa aku akan pergi ke Jakarta. Tidak ada acara yang mendesak sebenarnya, aku hanya ingin bertemu denganmu. Sudah lama kita kenal, tapi hanya lewat dunia maya dan suara. Sudah saatnya menurutku aku ketemu kamu. Sejujurnya aku sudah merasa dekat denganmu. Barangkali mungkin lebih dari itu. Tidakkah kamu juga ingin bertemu denganku?” Jo mengucapkannya dengan suara berat, mengungkapkan perasaannya secara terbuka dan penuh harapan untuk dibalas.

Aku tidak terkejut mendengar pengakuannya. Wajar saja menurutku.” Sejujurnya aku juga tertarik untuk bertemu denganmu. Sudah cukup lama juga kita saling mengenal, saling dekat, dan berbagi perasaan mengenai hal-hal pribadi maupun pemikiran. Well, aku tunggu kedatanganmu. Pasti akan sangat menarik. Entahlah apakah akan seakrab ini atau kita akan saling canggung nantinya. Jam berapa kamu tiba di Jakarta lusa?

“Hmm. Kira-kira pukul enam pagi aku sampai Jakarta,”jawabnya dengan nada lemas karena ia harus berhubungan dengan pagi. Apalagi harus melewati pagi di Jakarta.”Aku sudah membeli tiket kereta api Argo Anggrek yang berangkat pukul delapan malam dari Stasiun Pasar Turi dan tiba di Jakarta di Stasiun Gambir.”

“Kenapa kamu tidak naik pesawat saja, lebih cepat dan singkat. Naik kereta membutuhkan banyak waktu,”tanyaku penasaran.

“Kamu seperti baru mengenal aku saja. Naik pesawat hanya untuk orang yang terburu-buru dan tidak sabaran, dan orang praktis. Sedangkan naik kereta untuk orang santai yang ingin menikmati perjalanan. Memang cukup melelahkan dengan jeda waktu panjang, tapi aku selalu menikmatinya. Ketika naik kereta aku bisa melakukan hal-hal yang aku suka. Misalnya membuka laptop, lalu menulis sebuah cerita atau catatan perjalanan. Sekadar membuka jejaring social, atau chat. Atau mungkin pula ketika naik kereta aku bisa tidur cepat dan tidak lagi insomnia.”

“Ah, dasar Tuan Penulis,” sela aku dengan senda gurau.”Kamu sepertinya bisa menulis di mana pun.”

“Ah, tidak juga. Tapi menulis menurut aku harus seperti itu. Bisa menulis di mana saja, atau kapan saja tidak harus menunggu mood datang.” Jo menjelaskan dengan nada tegas.”BTW, ini sudah hampir subuh sebaiknya kamu tidur. Tidak baik seorang gadis tidur subuh kata nenek,”ucap Jo sambil terkekeh.

“Ok. Sebaiknya aku tidur,”sembari menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul empat tiga puluh.”Kamu sebaiknya tidur juga. Good Night.”

“Ok. Good Night.”

**

Kamu pasti masih tidur. Aku cuma mau kasih kabar, aku sudah sampai Jakarta. Aku bertemu sahabat menulisku dan rencananya aku akan menginap di rumahnya. Sekarang aku sedang makan siang. Jam sepuluh tadi aku jalan ke daerah Blok M. Aku pergi ke sana karena kata temanku di Blok M Square ada banyak kios buku yang menjual buku-buku lama. Kebetulan aku tertarik mengkoleksi buku-buku lama yang sudah tidak cetak lagi di toko-toko buku besar. Setelah ke sana, lumayan banyak buku-buku lama yang menarik dan satu buku yang aku cari-cari akhirnya aku dapat di sana. Kios-kiosnya lumayan banyak, dan koleksi buku lama maupun baru juga banyak, lebih banyak dari Kampung Ilmu yang ada di Surabaya. Ah, mungkin benar katamu, bahwa segalanya ada di Jakarta. (terkirim)

Jangan lupa, ya, nanti sore kita ketemu. Jam lima sore di tempat yang selalu kamu kunjungi itu, Sky Dining. Aku sudah tidak sabar sebenarnya menunggu sore. Masih tersisa waktu sekitar lima jam. Pukul lima. Aku sepertinya sedikit nervous. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakanmu ya.(terkirim)

Ya sudah, maaf ya, aku mengganggu. Mudah-mudahan blackberry-mu dipakai mode silent sehingga tidak mengganggu tidurmu dengan bunyi ringtone. Selamat melanjutkan tidur. See you .(terkirim)

**

Sebentar lagi senja. Matahari telah sewarna buah jeruk dan sudah berada di ufuk barat. Aku sudah bersiap-siap berangkat untuk bertemu Jo. Kukenakan mini dress hitam dua senti di atas lutut dengan lingkar dada sedang dan berlengan. Kutata rambutku yang telah kucatok hingga bergelombang di bagian tengah sampai bawah sehingga terlihat rapih lagi indah. Kupoleskan lipstick berwarna pink di balut dengan lipbalm sehingga terlihat basah. Kutorehkan bedak yang tidak terlalu tebal, dengan blash on dengan satu sapuan. Lalu aku berjalan dengan mengenakan high heel setinggi lima senti dengan menenteng sebuah tas berwarna gelap.

Sebenarnya aku membenci senja. Ketika senja datang, mau tak mau aku harus bertemu dengan orang-orang yang berwajah lelah dan tak sabaran ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Wajah-wajah penuh tekanan karena deadline, wajah-wajah ngantuk dan capek, dengan mimik masam yang mengandung bala beban, atau wajah yang begitu ogah-ogahan menghadapi riuh ramai usai selesai jam kerja. Menghadapi riuh rendah penumpang yang berdesak-desakan, atau muak menghadapi macet yang semakin hari semakin bandel.

Pukul Lima. Aku sudah berada di halte bis Transjakarta daerah Blok M. Aku memberi kabar pada Jo bahwa aku terlambat datang dengan alasan macet. Sebenarnya alasan ini terlalu klasik untuk dikatakan di tengah kota Jakarta yang memang setiap harinya selalu macet. Aku begitu bodoh kenapa aku tidak naik taksi saja. Padahal aku sudah berdandan rapih dengan pakaian yang cukup mencolok di antara penumpang. Pada jam-jam segini, hatle ini sudah diisi penuh oleh penumpang yang mayoritasnya pekerja kantoran. Terlihat dari pakaian mereka. Yang laki-laki, mereka berpakaian rapi atau pun tidak, yang jelas mereka berkemeja, atau dibalut dengan jaket, ves, atau pun jas. Berdasi. Bercelana bahan katun, kebanyakan berwarna hitam atau warna gelap. Dipunggung mereka menggendong sebuah ransel, atau menjinjing laptop. Bersepatu pantopel hitam, atau pun coklat. Sedangkan yang perempuan, berblazer rapi, bersepatu hak tinggi atau sudah menggantinya dengan sandal, memakai rok atau pun celana bahan. Dan make-up mereka biasanya telah luntur atau ada pula yang tampak begitu sempurna dengan riasan yang super lengkap, barangkali mereka memulas wajahnya riasannya kembali, supaya terlihat cantik. tapi tetap saja semua wajah mereka terlihat lelah dan sedikit murung.

Maaf, Jo, membuat kamu menunggu. Kamu sudah sampaikan ya? Tulisku dalam sebuah pesan di Bbm.

Jakarta pada jam lima sore ibarat kawasan penuh semut yang berburu gula. Padat oleh riuh ramai kendaraan juga orang-orang yang bergegas pulang. Macet seolah kata abadi yang tidak bisa dihilangkan dalam sebuah kalimat pembuka sabda pukul lima, kecuali weekend, atau hari libur nasional. Di luar hatle, macet merajalela yang didominasi oleh kendaraan-kendaraan beroda empat milik pribadi, juga kendaraan roda dua yang saling menyelip ke dalam spasi-spasi sempit. Mau tak mau mereka harus belajar memahami arti kata sabar dan belajar mempraktekannya.

Memang, naik bis Transjakarta kita tidak akan terjebak macet, akan tetapi tetap saja kesabaranmu akan diuji ketika bis Transjakarta muncul sangat lama, atau mengantri panjang dalam daftar penumpang. Barangkali bis Transjakarta kekurangan armada, sehingga seringkali para penumpang masuk dengan cara dijejal-jejalkan, mau tak mau kita harus berdesakan, dan salah satu bagian tubuh kita saling bersentuhan. Tak jarang momen ini dijadikan kesempatan emas untuk para pencopet atau tangan-tangan jahil meraba-raba secara tak sengaja tubuh perempuan.

Aku lebih memilih bis Transjakarta karena tidak ada pilihan. Toh, semua kendaraan umum di Jakarta sama tidak nyamannya dengan kendaraan umum lain, akan penuh dan berdesakan, kecuali naik taksi atau pun bajai. Tapi tetap saja akan terjebak macet yang membuat pusing dan kesal.

Bis Transjakarta akhirnya muncul juga. Memang di halte Blok M ini adalah halte pertama jurusan Blok M-Kota, tujuan akhir. Akan tetapi tetap saja bis Transjakarta muncul sangat jarang, dan jika ada bis itu selalu berlalu tanpa penumpang. Aku, dengan raut muka tak senang masuk ke dalam bis dengan langkah lambat dan berhati-hati melangkah. Dalam bis disisakan banyak spasi untuk halte-halte berikutnya. Tapi tetap saja aku tidak kebagian jatah tempat duduk.

Iya ga apa-apa santai aja. Toh aku juga tidak ada acara lain setelah ini. Jadi aku tunggu kamu dengan sabar….hehee, tulis Jo diakhiri dengan emote senyum lebar.

Aku jadi tidak enak. Sekarang kamu sudah di sky dining atau di berjalan-jalan terlebih dahulu? Sabar ya, tidak akan lama ko, aku hanya perlu melewati empat halte dan di halte ke lima aku sudah sampai di halte Benhil, tulisku sambil mendengar sebuah lagu dari earphone, dan tangan kiriku memegang sebuah pegangan yang bertumpu pada tiang besi.

Beruntung sekali aku tidak transit di halte Harmoni . Jika iya, aku tidak bisa membayangkan aku harus antre di dalam lautan manusia dari ujung hingga ujung karena bis Transjakarta kekurangan armada. Gerah bercampur rasa ingin cepat-cepat sampai. Seribu wajah masam dan tak sabaran. Wajah kusam dan ingin cepat-cepat pergi dari keramaian yang memuakan. Mungkin dalam pikiran mereka, ingin cepat pulang ke rumah, bisa beristirahat dengan tenang, disambut istri, suami, anak atau pun mertua. Mungkin juga disambut dengan suasana kosan yang berantakan, atau sejenak merendam cucian, atau bersantai membuka laptop sekedar online.

Sebentar lagi aku akan turun. maka aku bersiap-siap mendekati pintu keluar. Menerobos kerumunan penumpang, melewati ketiak-ketiak basah karena keringat. Menghirup parfum juga bau badan. Aku turun di Halte Benhil, lalu melewati pintu ke luar menyebrang jembatan penyebrangan dengan langkah santai yang banyak sekali pedagang asongan, mulai dari kartu perdana, buku-buku, sampai otak-otak pun ada.

**

Aku sudah sampai, tulisku dengan cepat sembari berjalan ke arah Plasa Semanggi.

Aku sudah di Sky Dining, ya. Di Solaria, lantai sepuluh.(terbaca)

Ok. Aku segera ke sana.(terkirim)

**

Sedang duduk dihadapanku seorang lelaki dengan kulit sawo matang yang berwajah kalem sedang tersenyum kepadaku. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak abu-abu hitam dengan celana jins biru tua. Raut wajahnya terlihat ramah dengan mata yang memancarkan ketulusan dan sesekali ia mencuri pandang. Ada sepasang jambang yang memanjang sampai tulang rahang dengan janggut dan kumis membiru tanda-tanda baru dicukur. Sepasang alis tebal dan hampir menyatu dan sebuah bibir yang telah kehilangan warna merahnya karena kebanyakan merokok. Secara keseluruhan penampilannya sederhana dan dari cara berpakaiannya menunjukan ia tidak terlalu peduli akan penampilan atau mode terbaru. Tapi tetap saja ia menarik untukku. Dari kesederhanaannya itu timbul sesuatu yang tulus dengan sikap orisinal yang wajar tanpa terlihat dibuat-buat dalam sebuah pertemuan pertama. Hanya saja barangkali ia terlihat sedikit gugup dengan menjaga kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi senyum manis dan tatapan mata yang selalu menatap wajahku itu membuat aku tertarik untuk membalas tatapannya yang terlihat penuh dengan rasa suka dan penasaran yang sopan. Dari cara dia bicara dan memilih kalimat aku bisa menyimpulkan bahwa ia adalah seorang yang tidak terlalu banyak bicara, cara bicara seorang yang lebih suka memendam perasaan dan lebih banyak diam. Seorang tipe pemikir.

Beberapa menit yang lalu aku datang ke Sky Dining dengan langkah santai menuju Solaria di ruang terbuka. Tidak sepenuhnya terbuka sebenarnya, ada sebuah tudung penyeka hujan di atasnya agar pengunjung tidak kehujanan. Kulihat ia sedang duduk di pojok dengan santai dan merokok. Lalu ia segera menyadari kehadiranku dan mengalihkan perhatiannya kepadaku yang sedang berjalan mendekatinya. Ia tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya yang berbulu untuk bersalaman. Aku menjulurkan tanganku dengan memasang senyum semanis mungkin seraya mengucapkan nama, “Nabila.”

Kami duduk saling berhadapan. Tak berapa lama ia mematikan sisa rokok yang ia hisap sebagai tanda ia menghormatiku untuk tidak merokok di depanku. Segelas es lemon tea yang telah ia minum hampir habis tergeletak di meja bersama dua buah lilin yang dilapisi gelas bundar sebagai penerangan. Aku berbasa-basi dengan meminta maaf atas keterlambatan datang. Delay satu jam. Ia respon dengan jawaban standar dengan tidak mempermasalahkan keterlambatanku.

Seorang waitress ia panggil untuk memesan makan malam, lalu kami diberikan selembar menu makanan. Aku memilih chiken mozzarella with friend fries sebagai menu utama dan segelas jus strawberry. Ia memilih ayam cah jamur dan segelas lemon tea. Lalu waitress itu memberitahukan jumlah uang yang harus dikeluarkan dan harus dibayar dimuka. Ia membayar biaya makan malam itu dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya, dan waitress itu segera berlalu.

“Suasananya lumayan juga ya,”ucap Jo memulai pembicaraan sambil menatap ke arah lansap senja yang sebentar lagi tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit.”Benar kata kamu, kita bisa melihat suasana macet dari dari sini, melihat kendaraan yang berjajar seperti semut yang sedang berlomba mendapatkan gula.”

“Ya,”jawabku sembari menatap ke arah yang sama.”Jika aku ingin sendirian kadang-kadang aku pergi ke sini. Duduk memesan makan dan minum sembari melihat gedung-gedung angkuh dengan lampu-lampu beserta jalan raya yang selalu macet. Tidak bisa kupercaya bahwa sekarang aku telah berada dalam sebuah kota yang dahulu tidak aku sukai. Ketika aku masih tinggal di kampung, aku selalu melihat Jakarta sebagai kota semrawut dan tidak nyaman untuk orang-orang yang suka dengan ketenangan. Macet dimana-mana. Banjir. Dan sebuah slogan yang selama ini selalu didengung-dengungkan bahawa Jakarta, ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Slogan itu selalu didengungkan terutama dari para pendatang. Tidak terpikirkan olehku untuk bekerja dan tinggal di Jakarta. Kenyataannya, setelah aku tinggal di sini, memang awal-awal aku tinggal, aku merasa tidak nyaman. Aku selalu mengeluh tentang macet yang setiap ruasnya selalu ada. Tentang orang-orangnya yang individual. Atau tentang ketidaknyamanan segala sesuatunya. Akan tetapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan semua itu. Aku mulia menikmatinya. Tak ada cara selain menikmati segala sesuatu daripada terus menerus mengeluh, bukan? Dibalik itu semua, Jakarta menurutku menjanjikan sesuatu. Aku bisa mendapatkan segala hal yang baru yang belum tentu jika aku tinggal di kampung aku mendapatkannya. Segala akses atau pun kelengkapan ada di sini. Di sini segalanya ada. Pusat dari segala kelengkapan. Barangkali kamu juga bisa rasakan perbedaannya. Bukan begitu?”

“Ya, benar. Kelengkapan memang berada di ibukota. Aku menyadari akan hal itu. Barangkali aku belum terbiasa tinggal di sini, sehingga terkadang aku begitu malas untuk pergi ke Jakarta jika tidak ada hal-hal penting. Memang, di Surabaya sama macetnya, apalagi jika selesai jam kerja di waktu weekdays. Tapi tidak separah di sini. Atau barangkali aku memang pada dasarnya orang yang tidak suka keramaian, lebih suka suasana tenang. Dan Surabaya menurutku cukup nyaman meskipun Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta.” Ia berbicara dengan raut wajah serius dengan nada kalem.

Seorang waitress datang membawa segelas es lemon tea dan jus strawberry, meletakannya di atas meja. Aku mengambilnya lalu meminumnya secara tergesa.

“Lumayan lama juga ya makanannya,”ucap Jo dengan nada bercanda.

“Ya, lumayan lama. Apalagi kalo kita ke sini Sabtu malam. Jika kamu sudah kelaparan, dan kebetulan mempunyai penyakit maag, aku yakin maag-mu akan kambuh, karena saking lamanya. Barangkali terlalu banyak pengunjung datang ke sini,”ucapku sambil kembali menyedot jus strawberry.

Lalu kami tenggelam dalam percakapan-percakapan yang hanya kami sendiri yang tahu. Tatapan demi tatapan. Ungkapan demi ungkapan telah kami lontarkan.

Chiken Mozarella telah terhidang dihadapanku dengan tampilan menarik. Sepotong ayam tanpa tulang yang dibalut tepung kecoklatan dan dibanjiri bumbu dan mayonnaise ini aku potong dengan menggunakan garpu dan pisau. Aku makan friend fries yang masih panas dan salad yang bercampur dengan mayonnaise dan saus tomat.

Jo melahap makanannya dengan tenang seraya sepersekian detik ia menatapku kembali. Aku pun berani menatap matanya. Tak bosan-bosan kami saling bertatapan. Ada sebuah ketertarikan yang dalam yang membuat kami melakukan hal yang serupa berulang-ulang, seperti sebuah magnet yang berlainan kutub, saling tarik-menarik. Saling ingin melahap segala yang ada di diri tersebut dengan sebuah perasaan yang menembus hati. Sebuah tatapan yang mampu menggetarkan hati, membuat debar jantung, dan membuat pipi merah seketika. Entahlah, rasa ini sama dengan rasa ketika aku jatuh cinta pada cinta pertamaku Rasa nyaman yang tak berkesudahan. Rasa yang tak ingin berakhir, seolah waktu panjang menjadi waktu yang amat sempit. Tak mudah bagiku untuk mendapat rasa seperti ini. Jarang sekali lelaki yang aku temui aku pandangi wajahnya dengan begitu inten, seolah tiada yang lain selain wajahnya yang ingin aku tatap. Memang terdengar begitu gombal, tapi begitulah yang sedang aku rasa. Barangkali ini rasanya jatuh cinta?

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid I hav

Lagu A Thousand Years mengalun lembut dalam suasana makan malam kami yang hidmat. Dalam nuasna yang berbalut pink dengan gelap malam dan hembusan angin yang terkadang membuat dingin. Dua buah lilin dalam gelas membuat suasana tampak sahdu di antara lampu yang tidak terlalu terang sampai meja kami.

“Akhirnya, ya, aku ketemu juga, setelah dua tahun kita kenal di chat. Ternyata kamu lebih cantik aslinya daripada di foto,”ucap Jo sambil tersenyum dan mengerlingkan mata. Lalu menyeruput es lemon teanya dengan cepat.

“Hehe..bisa aja kamu,” jawabku singkat dan merasa malu.

“Kalo aku nantinya jatuh cinta sama kamu, mau tanggung jawab ga?”ucap Jo dengan nada bercanda.

Aku tahu itu pertanyaan jujur dari dalam benaknya, dan aku tahu aku tidak perlu menjawabnya dengan serius. Cinta tidak selalu harus dikatakan bukan, cukup dirasakan dan dibuktikan. Aku hanya menjawabnya dengan bercanda pula dengan senyum yang menggoda. Ini kalimat pertama dimana dia mengeluarkan kalimat candaan, sebab dari tadi kami hanya membicarakan hal-hal serius dengan mengungkapkan pendapat atau perasaan masing-masing.

“Kamu juga aslinya lebih manis deh, kaya gula jawa,”ucapku bercanda.

“Beneran tah,”tanyanya tak percaya dengan nada setengah tak percaya dengan logat jawa timur yang khas.”Berarti kalo kamu minum jus strawberry di depan aku jadi tambah manis dong?”

Aku terkekeh karena jawabannya, sambil meledeknya dengan kalimat-kalimat segar dan membuka topic pembicaraan baru. Banyak topic yang kami bicarakan mulai dari hal-hal ringan sampai hal-hal serius. Kami saling tertarik sehingga apa pun yang kami bicarakan selalu lancar selalu terjawab dengan perasaan yang antusias dan tertarik. Hingga waktu berjalan begitu cepat dan kami membutuhkan banyak waktu untuk sekedar saling dekat atau mengobrol apa pun topiknya. Aku berpikiran bahwa lelaki yang kukenal selama dua tahun di dunia maya ini ternyata orang yang menarik, yang bisa membuat mataku tak henti-hentinya menatap matanya, dan membuat pembicaraan panjang sampai hal-hal yang tak penting pun dibicarakan menjadi sangat menarik hanya untuk berlama-lama dengannya. Ia pun serupa denganku. Meskipun awalnya tampak kikuk dan gugup, tapi ia mencair serupa mentega yang dipanaskan. Kata-katanya berhamburan, dengan sedikit celoteh candaannya yang meskipun terkesan garing tapi tetap membuat aku tertawa terkekeh. Malam itu terasa malam yang penuh dengan senyum dan pipi memerah seketika.

Tiba-tiba aku ingin mengajak ia ke tempat di mana aku bekerja. Aku ingin ia tahu bagaimana kehidupanku di sini, tak hanya mendengar cerita-cerita melalui telefon atau chat yang selalu aku kabarkan. Aku ingin ia mengetahui duniaku, agar ia mengenalku lebih jauh.

Ia sangat antuias dengan permintaanku. Tapi ia mengajukan satu syarat supaya ia mau ke sana.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

Aku mengangguk pelan seraya tersenyum dan mengajak ia meninggalkan Sky Dining.

**

Kami datang ketika lounge ini sedang tidak terlalu ramai pengunjung. Ada beberapa bangku yang terisi dan beberapa orang duduk-duduk di bar sambil menikmati minuman dan mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan Marissa dengan nada mellow dan rilek. Alunan musiknya yang jazzy dengan suara Marissa yang serak dan lengkingan tinggi membuat pengunjung bertepuk tangan saat lagu itu selesai. Marissa adalah temanku sesame penyanyi di klub ini. Ketika aku libur ia biasanya berpenampilan solo, juga sebaliknya.

Kami duduk di bar, dan memesan dua gelas koktail. Juni menyapaku dengan ramah, sang bartender muda ini sekilias melihat Jo dengan tatapan yang ramah, lalu mengerlingkan genitnya kepadaku. Aha, kata itu keluar dari bibir Juni yang bertindik, lalu segera berlalu menyiapkan pesanan.

Jo melihat secara teliti isi klub ini. Matanya tak henti-hentinya menarik pandang, dari satu sudut ke sudut lain, seolah sedang menilai sesuatu.

“Beginilah tempat kerjaku,”aku memulai pembicaraan.

“Entah mengapa tempat ini seperti familiar buatku. Segalanya seperti yang aku bayangkan. Barangkali aku merasa familiar karena setiap hari kamu selalu memberimu kabar, dan selalu bercerita mengenai tempat kerjamu. Sehingga pertama kali aku ke sini, seperti tempat yang tidak asing. Tapi yang ini lebih nyata saja, wujud realnya. Dulu aku hanya mengira-ngira, bagaimana kamu ketika bernyanyi di panggung, atau suasana tempatmu bekerja seperti apa, atau bagaimana keriuhan dan pengunjung-pengunjung yang datang. Dan aku pun sekarang bisa merasakan Pina Colada, minuman yang pernah kamu ucapkan. Sekarang aku bisa membayangkan dengan jelas bagaimana kamu bernyanyi di atas panggung itu. Mengeluarkan kalimat-kalimat di saat jeda ke lagu berikutnya. Atau kamu berpakaian sangat elegan seperti temanmu yang sedang menyanyi itu, dan dapat kupastikan semua yang ada di sini akan memperhatikanmu, menjadi pusat perhatian.”

“Ya, beginilah. Kini kamu sudah tau tentang aku. Kamu sudah bertemu denganku. Sudah melihat bagaimana aku dan melihat dimana aku bekerja. Yap, this is me. Tempat kerjaku barangkali bukan sebuah kantor yang selalu sibuk ketika senin pagi atau akhir bulan dan libur kala weekend datang. Aku bekerja pada malam hari di tempat sebuah hiburan.”

“Tidak ada kejanggalan menurutku. Bekerja malam atau pagi tidak ada bedanya. Barangkali bekerja di tempat hiburan lebih menarik. Kita bisa tahu kebiasaan-kebiasan orang ketika mereka bersantai, tidak sedang berpura-pura. Dan ini menurut aku menarik. Kita bisa belajar, terlebih lagi buatku. Barangkali akan banyak kisah aku tulis jika aku bekerja atau mendengar kisah-kisahmu selama bekerja di sini.”

Tiba-tiba saja Steve datang dari arah belakang, menyapaku dengan ramah dengan senyum manisnya yang khas. Aku mengenalkan Jo pada Steve, mereka bersalaman dan bersapa basa-basi.

“Oh, jadi ini orang yang selalu kamu ceritakan itu,”ujar Steve dengan melihat ke arah mataku. Kata-katanya terkesan kata-kata yang disengaja, seolah meledek aku.

Aku tersipu malu akan kata-kata Steve, dan Jo melihat wajahku yang tersipu ini dengan senyum bahagia seolah ia mendapatkan kata-kata penjelas tentang aku yang selalu membicarakannya.

Merasa tidak mau mengganggu kencan kami, Steve pamitan dengan berdalih harus mengerjakan sesuatu. Steve pun berlalu begitu saja meninggalkan senyum ramahnya yang khas.

“Aku mau menagih janjimu,”ucap Jo.

“Baiklah, baiklah, tuan penagih janji. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu yang tuan inginkan,”jawabku sembari bercanda.”Tapi, lagu apakah yang tuan ingin aku nyanyikan?”

“Nyanyikan sebuah lagu yang kamu suka.”ucap Jo dengan mata yang menatap.

“Baiklah tuan.”Aku segera berlalu ke panggung dan berkata pada Marissa bahwa aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang spesial.

Cinta jangan kau pergi, tinggalkan diriku sendiri

Cinta jangan kau lari, apalah arti hidup ini

Tanpa cinta dan kasih sayang

Aku membawakan lagu ini dengan penuh perasaan terutama pada refrain yang menurutku sangat mengungkapkan perasaanku sekarang. Aku baru saja mendapat sebuah kebahagiaan yang barangkali cinta, tapi harus berpisah karena jarak. Terlalu berlebihan mungkin, tapi itu yang aku rasakan. Aku barangkali ingin lebih lama lagi bersama-sama dengan Jo. Atau barangkali selamanya? Waktu kami yang kami habiskan mala mini benar-benar tak cukup untuk sebuah pertemuan yang membuat aku merasa bahagia dan hal yang di luar kebiasaan pun aku lakukan hanya karena cinta. Ah, cinta memang bisa mengubah siapa pun.

Jo memperhatikanku begitu inten, menajamkan pendengarannya mendengar nada-nada yang keluar dari mulutku. Tatapannya penuh rasa cinta yang bisa menjangkau hatiku dan aku pun menyanyikan lagu itu tidak pada tempatnya. Lirik lagu itu sebenarnya melantunkan nada-nada galau, tapi raut wajahku mencerminkan orang yang sedang jatuh cinta dan sesekali tersenyum sendiri ketika melihat Jo yang begitu perhatian menatapku. Aku seperti aktris yang hilang kendali. Ya, barangkali aku telah hilang kendali. Hatiku direbut. Hatiku dicuri. Hatiku jatuh. Jatuh cinta. Aku yakin Jo baik untukku. Dan aku yakin ia juga mempunyai perasaan sepertiku. Dari cara ia berbicara, cara ia menatap, cara ia bersikap, menunjukan ia juga cinta aku. Ah, malam yang begitu indah untuk jatuh cinta.

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade