Hal yang saya tulis di waktu senggang (3)

pinterest

Aku dan hari-hari yang telah berlalu tak lagi saling menunggu. Karena kami tahu, karena kami tak akan saling bertemu.

Seorang gadis kecil menangis di bawah gerimis. Ia sedih. Ia kehilangan air matanya.

Nada-nada dari tembang yang kau tinggalkan terdengar sumbang. Mereka terlalu sedih untuk bernyanyi. Bahkan lebih sedih dari sebuah sunyi.

Aku ingin selalu pulang, ke rumah kenangan. Aku ingin selalu pulang, ke tempat di mana aku merasa tenang. Aku ingin selalu pulang, meski pergi selalu menyenangkan. Aku ingin selalu pulang, jika rumah itu adalah dirimu. Aku ingin selalu pulang, tapi kaki-kakiku selalu kehilangan jalan pulang.

Kenangan. Pembunuh itu telah kubunuh tiga bulan yang lalu. Namun kini dia hidup lagi. Bersembunyi sambil mencari kesempatan membunuh diriku.

Aku akan berhenti memikirkanmu jika hujan berhenti membawa kenangan tentangmu. Aku akan berhenti memikirkanmu jika kamu berhenti menjelajah isi kepalaku. Aku akan berhenti memikirkanmu jika kamu yang datang meminta padaku. Lalu, aku akan berhenti memikirkanmu dan mulai menulis puisi-puisi yang akan membunuhku.

Kesedihan tidak datang setelah kehilangan. Kesedihan datang setelah kehilangan kembali sebagai kenangan.

Satu-satunya hal yang tak pernah membuatku sedih adalah kesedihan itu sendiri.

Bunga Desember mekar di kelopak matamu dan hujannya mengalir deras di lekuk pipimu.

Kehilangan adalah bagian dari memiliki. Memiliki hal yang tidak kita miliki. Tapi kau masih takut kehilangan apa yang tidak kaumiliki.

Kau menyukai kesedihan, dia selalu ada saat kau membutuhkannya. Kau tak ingin kehilangan kesedihan. Kau tak ingin membagi kesedihan dengan siapa pun.

Bagimu lebih mudah untuk tak dianggap daripada jadi yang diharap. Hidup memang lebih mudah tanpa orang-orang yang terlalu banyak berharap.

Andai saja jika kita tidak sedih berarti kita bahagia, dan jika kita tidak bahagia berarti kita sedih. Andai saja perasaan sesederhana kalimat tersebut. Nyatanya mereka terlalu rumit. Bahkan rasa sedih bisa terasa menyenangkan dan rasa senang bisa begitu menyedihkan.

Kadang aku berpikir mana yang membuat kita merasa jauh, jarak atau waktu tempuh? Kadang aku menemukan diriku tersesat di persimpangan, lampu hijau dan merah tak mau saling mengalah, penunjuk jalan berubah setiap orang ingin mencari arah. Kadang aku merindukan diriku yang penuh ketidaktahuan dan keragu-raguan, menikmati setiap kisah kita yang kau kisahkan sebelum berpisah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.