Alunan Aurora (part 2)

Deb.
Deb.
Feb 23, 2017 · 2 min read

Tapi terlalu pahit bibir ini untuk berucap, hingga keterbatasanku hanya berbuah sapaan pada umumnya. Hari itu, degupku mulai bisa bersahabat dengan aku, namun semburat apel dan senyumku hanya bisa dikendalikan oleh kamu yang sedang kutatap. Aku bahagia teramat kamu tahu? Walau setelah itu, buah tanganku darimu adalah sakit mengaduh. Tidak apa-apa, aku sudah terlalu mahir untuk itu. Ayo mulai lagi permainan itu dan aku janji tidak akan pernah terjatuh lagi. Itulah janjiku yang gagal ku tepati untuk sesaat.

Akhirnya kamu mengizinkan aku memasuki sekat mayamu dan kudapati semua jawaban atas tanda tanya yang sudah berdebu tebal menggantung dipikiranku, tentang apa aku dan kamu dahulu dan sekarang. Terlalu pintar rasanya kamu bersembunyi, lihat saja aku hanya mendapati tanda tanya tambahan setiap kita bersua setahun kemudian dari pertemuan pertama kamu dan aku. Hingga untuk tinggal saja aku harus mengaduh, tak apa (lagi-lagi) aku sudah handal.


Aurora, bisakah besiku kau jaga dengan baik? Mengapa untuk memandagimu saja kau bubuhkan asam untuk besiku? Apakah agar semua rasa ini berkarat dan hancur? Dan aku disini masih menganggap kamu yang terbaik. Rasanya aku sangat tak terbalas bukan?

Lalu kau singkap semua sekat maya atas dirimu dan kau tuntun aku untuk melihat semua sisimu dan rasamu atas aku.


Perspektif Aurora,

“karena setiap kali mata itu menatapku, degupku tak pernah bersahabat denganku dan senyumku mengkhianati dingin dalam diriku, kamu meleburnya dan hanya menyisakan aku yang utuh, aku yang apa adanya”

Pilu sudah menjadi candu dalam aku sejak bertemu kamu, saat ketakutan dan keterbatasanku membentuk sekat aman untuk aku dalam menjagamu. Degupku sudah tak berirama, sejak tatapan pertama kita bertemu, sehingga apabila kamu mengamatinya tak akan ada beda karena mereka akan selalu sama untuk kamu.

“Takan ada beda atas seluruh motorikku meresponmu karena kamu buat mereka berbeda pada kali pertama sapaanmu”

Namun ketika hari terus berpamitan untuk berganti, rasa lain mulai muncul.. rasa takut jika kamu yang mengucap pamit. Rasa enggan untuk kembali bersua dengan pilu untuk menantimu dalam sekat dan tak berbuat apa-apa untuk meraupmu kembali.

To be continued..

First Part: https://medium.com/@derliza/alunan-aurora-chapter-1-9f1e14ebe314#.clje5e8uc

    Deb.

    Written by

    Deb.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade