Persimpangan Lara

Sabtu 18.07, Banjar- Jawa Barat

5 jam sebelum Bandung berlangkah anggun dihadapanku.

Hai logika, hai rasa. Sudahkan kalian memilih? Atau masih gamang akan siapa yang benar-benar menyentuh jantung dan dia yang lain hanya menyentuh kemungkinan.

Sulit, sakit, dan rumit. Tidak pernah ada batasan pasti untuk hati untuk menilai dan tidak ada standar yang membuat logika menerima. Terlalu abstrak hingga tak terdeskripsikan bagaimana jantung ini terengkuh. Oleh siapa dan dengan bagaimana?

Tepat saat kata-kata ini bermunculan di layar dan terbaca oleh mata yang bergerak dari ujung satu ke ujung lainnya hati ini bergumam dalam bimbang. Ketahuilah ruangan ini sangatlah ramai dengan setiap insan menduduki kursi tegak yang tak bisa diatur elevasi untuk punggung merebahkan diri dengan rileks namun sang penulis bahkan tak merasakan keberadaan mereka, tenggelam dalam lamunan sembari mengaduh pada rasa. Ruangan ini juga tidak stagnan nampaknya seperti sang penulis karena dia terus melaju dengan kecepatan 75km/jam sembari mengepulkan asapnya sesekali. Namun yang berbeda adalah tidak pernah ada hambatan yang membiarkannya berhenti melaju seolah sudah ada jalur pasti tanpa posibilitas atas dua atau lebih jalur lainnya yang bisa dilalui, sedangkan sang penulis? Bercabang-dua pikirannya, berserabut rasanya dan entah sejak kapan mereka mulai tumbuh tanpa permisi


Penulis.

Sendu yang dirasakan insan itu sekarang adalah telak kesalahan akan saya yang tak berpendirian atau bahkan tak berhati. Entah ada apa dalam kaum adam itu hingga rasanya saya merasa bodoh membiarkan besi itu terus dihujani asam. Harus apa sebenarnya? Tak ada batas nyata yang memisahkan mereka dan tak ada logika yang membuat saya kembali pintar. Ketahuilah, sangat saya pahami apa yang harus saya lakukan untuk memangkas percabangan ini, namun yang tidak saya ketahui adalah bagaimana mengarungi semua proses. Saya memang naif jika saya berkata tidak ingin menyakiti karena saya sangat paham dengan apa yang saya lakukan merupakan invers dari pernyataan saya sebelumnya. Maaf atas hati yang tidak menjaga satu nama.

Namun, semoga ketika pertama kali kaki ini menapaki Bandungnya dengan mantap, termantapkan pula hati ini menjaga satu nama.