Kilometer Terakhir

Bernadetha Maria
Sep 3, 2018 · 1 min read

Melompat ke sadel, dan kuhantam sang selah. Melawan arah, ku tantang maut, indah. Terasa lepas. Melesat di jalan, kilometer terakhir. Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir. Kubakar bensin, mesin ini meradang. Pacu motor, kutuju matahari. Tancap! Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba. Angin menerpaku, serigala lepas. Roda berputar, kilometer terakhir. Hampir esok, seperti kemarin. Kilometer terakhir.

Seringai-Kilometer Terakhir

Begitu liriknya. Sebuah lagu underground yang jelas-jelas bukan jenis lagu yang biasa aku dengar. Ya, awalnya aku bingung dengan maksud yang disampaikan melalui lirik. Sebuah lirik yang nampaknya hanya menceritakan sang penulis yang menyusuri jalan menggunakan sepeda motor. Harusnya tidak ada yang istimewa. Harusnya.

Tapi lalu aku menemukan sebuah kebebasan yang diikuti kegigihan terselip di dalam liriknya. Tentang seseorang yang berusaha meraih mataharinya, mimpinya. Tak peduli dengan segala rintangan yang ada di depannya. Tak peduli bahwa apa yang dia kejar bukan seperti apa yang mereka kejar. Melawan arah, katanya. Tapi indah, katanya. Ya, dia suka mimpi itu. Menurutnya, mimpinya adalah miliknya, dan dia akan mendapatkannya. Apa kata orang, itu terserah.

Ya, Itu menurutku. Apa katamu, itu terserah.

    Bernadetha Maria

    Written by

    I write sometimes. Sometimes, I write.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade