Kilometer Terakhir
Melompat ke sadel, dan kuhantam sang selah. Melawan arah, ku tantang maut, indah. Terasa lepas. Melesat di jalan, kilometer terakhir. Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir. Kubakar bensin, mesin ini meradang. Pacu motor, kutuju matahari. Tancap! Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba. Angin menerpaku, serigala lepas. Roda berputar, kilometer terakhir. Hampir esok, seperti kemarin. Kilometer terakhir.
Seringai-Kilometer Terakhir
Begitu liriknya. Sebuah lagu underground yang jelas-jelas bukan jenis lagu yang biasa aku dengar. Ya, awalnya aku bingung dengan maksud yang disampaikan melalui lirik. Sebuah lirik yang nampaknya hanya menceritakan sang penulis yang menyusuri jalan menggunakan sepeda motor. Harusnya tidak ada yang istimewa. Harusnya.
Tapi lalu aku menemukan sebuah kebebasan yang diikuti kegigihan terselip di dalam liriknya. Tentang seseorang yang berusaha meraih mataharinya, mimpinya. Tak peduli dengan segala rintangan yang ada di depannya. Tak peduli bahwa apa yang dia kejar bukan seperti apa yang mereka kejar. Melawan arah, katanya. Tapi indah, katanya. Ya, dia suka mimpi itu. Menurutnya, mimpinya adalah miliknya, dan dia akan mendapatkannya. Apa kata orang, itu terserah.
Ya, Itu menurutku. Apa katamu, itu terserah.
