Membumikan Ilmu

Bernadetha Maria
Sep 3, 2018 · 2 min read

Iya, benar. Bukan seperti tulisanku yang lain. Iya, benar. Tulisan ini memang kutulis semata-mata untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah. Tapi iya, benar. Menulis tugas ini membuatku sedikit berpikir.

“Buat apa kamu ambil mata kuliah ini?” begitu katanya. Aku diam, bingung.

Beliau seorang dosen teknik komunikasi ilmiah. Iya, mata kuliah yang kuambil dan kukerjaan tugasnya disini. Pertanyaannya memang terdengar sepele, tapi cukup membuatku berpikir. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil semua mahasiswa di jurusanku. Ya jelaslah, aku harus mengambilnya sekedar untuk mengiyakan status mahasiswaku.

Mungkin dilihat dari nama mata kuliahnya, seharusnya mudah untukku menjawab pertanyaan beliau. Jelas, agar aku bisa menguasai teknik-teknik komunikasi ilmiah. Iya, aku menjawab seperti itu. Beliau tertawa. Tidak puas, nampaknya.

Komunikasi. Dimana gagasan-gagasan yang terperangkap di dalam batu ber-ego menemukan titik temunya. Memang nampaknya sepele. Sebuah rutinitas yang sangat fasih kita lakukan setiap saat. Tapi saat sebuah perselisihan diakarkan pada komunikasi masihkah komunikasi disebut hal sepele? Belum sefasih itu, ternyata.

Lalu bagaimana halnya dengan ilmu? Saat bahasan sehari-hari pun seringkali menimbulkan salah paham. Mereka bilang ilmu itu terlalu tinggi, sampai kita harus mengejarnya ke langit. Jelaslah, orang-orang yang mengerti ilmu adalah orang-orang yang hebat, yang bisa menaklukan langit untuk bertemu dengan apa yang mereka sebut ilmu. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak bisa terbang untuk menyentuh langit? “Ah, bahasanya ketinggian, ganyampe gue,” begitu kata mereka. Atau bagaimana dengan mereka yang berada di langit yang lebih diatas? Atau mereka yang berada di langit yang berbeda?

Lalu aku tersadar, inilah kenapa aku harus mengambil mata kuliah ini. Atau, kenapa mereka, para petinggi, menyelipkan mata kuliah ini sebagai kewajiban yang harus aku ambil.

Ilmu terkadang bisa menjadi sangat abstrak. Sulit dimengerti. Tapi semua orang butuh ilmu. Dan untuk apa kamu mempunyai ilmu saat tidak bisa dibagikan kepada orang lain? Bukankah tak akan ada artinya saat apa yang kamu mengerti tidak bisa mereka pahami? Semuanya hanya akan tetap menjadi susunan algoritma yang saling berloncatan di triliunan jembatan syaraf yang saling bertautan tanpa terputus. Tanpa pernah keluar dan diterjemahkan.

Lalu aku mengerti, disinilah aku bisa belajar bagaimana mengkomunikasikan ilmu. Membuat orang lain mengerti dan tertarik dengan apa yang aku pikirkan. Disinilah aku akan belajar menuangkan mozaik-mozaik di dalam ruang abstrak yang mereka sebut kepala ke dalam bentuk yang bisa dimengerti oleh indera-indera mereka.

    Bernadetha Maria

    Written by

    I write sometimes. Sometimes, I write.