Tiga Sisi Ironi
Lalu bagaimana rasanya memiliki sepenuhnya tanpa pernah mengetahui separuhnya
Saat selalu menyeruput teh yang disuguhkan dengan penuh sayang tapi tak pernah meneguk kopi terbaik buatannya
Memberikan seluruhnya dengan kembalian yang tak pernah lunas dibayar
Menua bahagia dengan sebagian tipuan yang menyenangkan
Dia berpikir sudah memiliki seluruhnya, mungkin.
Kasihan, tertipu.
Atau mungkin dia tak sebodoh itu
Hanya sekedar berusaha berpikir seperti itu
Karena mungkin sepertinya, tipuan lebih terasa manis untuknya.
Lalu bagaimana rasanya saat harus beranjak tanpa pernah meninggalkan
Saat harus mengikhlaskan tanpa pernah kehilangan
Terjebak pada suatu ruang yang entahlah, terlalu jauh untuknya
Tak mungkin kembali, tapi terlalu lemah untuk beranjak
Berada diluar garis ikatan suci yang tak bisa lagi ditembusnya
Membuatnya harus melupakan, tanpa pernah dilupakan.
Dan untuknya, yang menua dengan cinta yang disuarakannya dalam hening
Cangkir itu masih panas untuknya
Bahkan terlalu panas sampai terkadang ia tak bisa menyesapnya
Melewati hari bersama ia yang berbeda dengan yang menemaninya di dalam mimpi
Bukan tidak mencintai, dia hanya berusaha mengangguki apa kata semesta
Tapi hatinya punya semestanya sendiri
Sayangnya, tak seorang pun tahu.
Katanya, cinta tak harus memiliki
Tapi sebenarnya apa yang kamu miliki kalau tanpa cinta?
-Terinspirasi dari pertunjukan Papermoon Puppet Theatre
“Secangkir Kopi dari Playa”-
