Buanglah Sampah pada Tempatnya itu Susah?
Waktunya berbenah….
Persoalan sampah di negeri ini ironisnnya masih berkutat bukan pada pengelolaan, tapi pada perilaku.. ya perilaku.. sepertinya susah banget cuman buat buang sampah pada tempatnya.. ironisnya perilaku ini menimpa semua kalangan terpelajar, berkucukupan, miskin sampai yang tajir. mobil mewah tapi kelakuan kayak sampah, buang sampah pada tempatnya aja susah,kalo ditanya kenapa dibuang gak pada tempatnya “yang lain juga gitu kok”, lah biasakanlah yang benar.. jangan benarkan kebiasaan.. ada alasan lain “rempong gk ada tmpat sampah”, kan bisa masukin dulu ke tas atau kantung, atau alasan ini “bwailah cuman sekantung plastik, masa bikin banjir, atau kotor lingkungan” Zzzz kalo alasan kayak gitu artinya sama dengan memandang rendah diri sendiri.. sepertinya mesti belajar dari kisah rakyat, madu, dan raja
alkisah di kerajaan krismon ada seorang raja yang mengumumumkan kebijakan baru bahwasanya tiap bulan purnama tiap rakyatnya pada tengah malam mesti membawa sesendok madu dan menuangkannya pada tungku raksasa di puncak gunung SuramBeruram.Di negeri tersebut ada salah seorang rakyat yang bernama Ecil.. kelakuan Ecil ini emang tengil dan usil, mendengar pengumuman itu Ecil berencana untuk mengganti sesendok madu itu dengan air putih biasa, dan berpikiran bahwa tidak ada orang yang menyadari karena kejadiannya pada malam hari dan tidak akan ketahuan karena hanya tercampur dengan “sesendok air” sehingga madu akan tetap kental, dan malam bulan purnama itu pun tiba.. Ecil berangkat pada tengah malam dan melaksanakan rencananya. Ecil pun berhasil menjalankan rencananya. Hingga keesokan harinya raja dan rakyat negeri itu dibuat gempar… tungku madu itu berisi madu yang sangat encer, ternyata pada malam itu tidak hanya Ecil yang mengisi tungku itu dengan sesendok air
pelajaran yang dapat dipetik, jangan berpikir kejahatan atau keburukan yang kita perbuat itu berefek kecil hanya karena merasa kecilnya perbuatan buruk yang kita perbuat, karena sikap tersebut sama dengan memandang rendah diri sendiri,artinya sama dengan pengkhianatan terhadap sang Khalik, yang menciptakan makhlukNya unik satu sama lain,masing-masing punya potensi besar, namun dikerdilkan oleh diri sendiri. Jadi jangan berpikir buang sampah tidak pada tempatnya hanya berefek pada diri sendiri,perbuatan tercela yang kecil tapi pikirkanlah efek massiv dari perbuatan itu.. Allah telah menitipkan bumi ini untuk kita jaga dan kita rawat keindahannya.. =)
bukankah “Kebersihan sebagian daripada Iman”?? =)

referensi gambar https://www.flickr.com/photos/cnoya/8566811240/
referensi cerita “Tuhan inilah proposal hidupku”,Jamil Azzaini
referensi cover http://ikacuiawards2014.blogspot.com/2013/11/contoh-pembuatan-photography.html