Saya tergesa-gesa bangun dari kasur, lalu mandi dan bersiap. Pesan ojek online biar cepat menuju daerah Mampang Prapatan walau harganya agak bikin meringis. Saya hanya punya waktu 60 menit untuk konsultasi pertama dengan Anna. Sayangnya, waktu dalam sesi ini mesti terpangkas lebih dari setengahnya karena saya datang terlambat, ditambah perlu urus administrasi pendaftaran awal.
Namanya Anna. Gelarnya sudah sampai M.Psi.
Saya sudah menghubunginya sejak beberapa bulan lalu. Namun, baru akhirnya kesampaian tatap muka dengan perempuan berkacamata itu tadi pagi sekitar pukul 09.20.
“Isi dulu itu ya untuk awal,” katanya dari balik meja kerja.
Kini di hadapan saya ada papan dengan selembar kertas macam ujian. Ada lebih dari 10 pertanyaan yang mesti saya jawab “Ya” atau “Tidak”. Pertanyaan seputar kondisi diri saya selama 30 hari ke belakang. Dan nyaris semua jawaban saya adalah “Ya”.
Ya kepala saya makin sering sakit
Ya saya merasa bingung
Ya saya suka nangis tiba-tiba
Ya saya tidak merasa dapat apresiasi
Ya saya ada kecenderungan mengakhiri hidup
Dan berbagai ya lain. Walau beberapa ada yang saya ragu – seperti dalam abu-abu.
Papan dan lembaran yang sudah saya isi sekarang berpindah tangan. Anna pun duduk di sofa depan saya. Kami hanya dipisahkan meja kaca kecil yang di atasnya terdapat air botolan dan beberapa camilan ringan. Juga tisu.
Jadi gimana?
“Jadi gimana?”
Itu yang Anna ucap pertama kali sesaat setelah mendaratkan dirinya di sofa hitam.
Saya diam. Dan termenung.
Pikiran saya seakan masih tidak menyangka sekaligus menolak saya benar-benar sedang di sini dan berhadapan dengan seorang psikolog. Lalu saya akan membuka semua tentang diri sejelas-jelasnya ke orang lain. Saya secara rinci sejak kecil sampai sekarang.
“Saya bingung, Dok. Saya nggak tahu. Bahkan saya masih nggak nyangka bisa beneran ke sini.”
Lalu tanpa aba-aba dan penuh keanehan, kebingungan, saya menangis terisak-isak tak berhenti sampai akhir sesi.
Sebelumnya selama di jalan saya mikir, saya bakal ngomong apa nanti ke psikolog. Mulai dari mana? Kok seperti sedang tidak ingin bercerita. Maunya diam saja. Apa nggak jadi aja ya? Semua hal yang saya pendam bakal terbuka semua dong? Gimana ya?
Tanpa banyak ditanya, saya terus saja cerita ke Anna tentang berbagai hal sambil sesenggukan. Lompat ke sana ke mari berbagai peristiwa yang pernah saya alami. Masa kecil, remaja, sampai sekarang , walau semua saya coba ceritakan secara sangat singkat dan tidak benar-benar detil.
Saya cerita soal keluarga, pertemanan, cinta, pekerjaan, dan berbagai hal. Kadang tiba-tiba nyambung ke cerita lain yang relate pada waktu berbeda. Saya berusaha seterbuka mungkin dengan Anna terkait kondisi saya. Seperti ingin kasih tahu, Anna, ini saya dengan berbagai kompleksitas hidup, tolong saya ya….
Saya juga cerita kalau saya bingung kenapa bisa di sini, padahal selama ini berusaha bantu orang dan aware soal mental health. Banyak yang suka curhat ke saya, baik orang yang dikenal maupun totally stranger. Loh kok malah saya sekarang yang butuh pertolongan gini…
Anna hanya terus mendengar. Sesekali bilang “lalu” atau “terus”.
PR
Saya sadar waktu sudah makin mepet. Saya sudahi cerita. Anna pun suruh saya minum dan mengatur pernapasan. Tatapannya lurus ke saya. Juga datar tanpa senyum.
Dia mulai bicara panjang. Diawali dengan analogi botol yang berisi air seperti emosi diri. Suatu saat akan luber jika sudah kepenuhan.
Lalu muncul pertanyaan dari bibirnya yang dioles gincu merah muda: apa rasanya setelah cerita?
“Lebih lega.”
Anna kemudian bicara hal lain. Soal banyak hal yang bermuara pada: past-present-future. Dia tidak langsung ambil simpulan soal kondisi saya. Malah menyarankan saya untuk kembali konsultasi dan menjabarkan lebih rinci kehidupan. Ia mau liat tiap peristiwa dalam hidup saya dengan garis waktu.
Alhasil, saya dapat PR untuk membuatnya. Baik peristiwa baik maupun buruk.
Kata Anna, hal-hal pada masa lalu harus dirapihkan dulu. Boro-boro mikir future, past dan present saja masih awut-awutan.
“Coba Mbak sekarang sebutin apa aja yang warna hijau di sini.”
Saya sebut banyak: sabun cuci tangan, majalah, baju, keran, pohon, sampai kubah masjid yang terlihat dari jendela lantai 5 ruangan itu.
“Ini namanya grounding”
Dan PR saya bertambah: mengulik lebih jauh soal grounding sebagai salah satu bentuk terapi mindfulness.
Aneh
Rasanya aneh, bingung, juga lega setelah memutuskan ke psikolog. Seaneh itu karena saya sedang di tahap nyaris nggak percaya siapa-siapa untuk cerita personal secara dalam. Tapi, kok bisa begitu aja keluar pas di depan Anna ya? Sampai nangis nggak habis-habis pula.
Aneh sekali.
Bertolak belakang dengan apa yang selalu coba saran ke teman, saya tipikal yang ogah cari pertolongan. Bagi saya, terutama terkait masalah diri, yang bisa menolong saya ya adalah saya sendiri. Begitu pun soal tanggung jawab diri. Saya yang bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Bukan orang lain.
Namun, rasanya itu memang salah. Dan saya sudah sepatutnya lebih melunak, lalu tak segan minta pertolongan….
Dan kini saya disuruh lebih banyak menulis. Juga olahraga untuk meningkatkan hormon yang bisa bikin bahagia.
