Schedule Board

Dewi
Dewi
Nov 1 · 3 min read

Saya turun angkot biru bernomor 102 di depan sebuah mall. Sengaja nggak naik ojek online dari pasar yang jaraknya sekitar 2,5km menuju rumah. Siang menjelang sore itu saya wara-wiri ke beberapa tempat untuk mencari satu benda yang ujung-ujungnya gagal didapat: schedule board.

Agak penting-nggak penting sebenarnya hari ini pergi ke beberapa tempat buat beli schedule board yang saya kenal sejak kuliah dulu. Entah mengapa, beberapa hari ini saya kepikiran benda itu: ukurannya sekitar 70x50cm, seperti jelmaan karton dan papan tulis alias karton tebal yang bisa dihapus, dominan putih dengan frame warna lain — dulu di kos ungu, dan punya dua sisi beda fungsi — kotak-kotak monthly schedule dan “papan tulis”.

Oh ya, ada satu yang nggak boleh luput soal cirinya: di salah satu sudut bagian tercetak isian untuk nama, alamat, dan catatan.

Beberapa hari ke belakang, saya seperti ingat, kayaknya masih menyimpan satu time schedule yang belum terpakai. Tapi kok dicari nggak ada-ada. Sedangkan rasanya saya juga mau sesegera mungkin ‘beresin’ hidup dimulai dari menata ulang waktu. Manajemen waktu memang kunci hidup saya dulu. Dan belakangan hal itu ikut ambyar seperti rasa percaya diri.

Ya sudah, dari pada lama mencari, harganya juga saya yakin nggak sampai Rp20.000, ya beli saja. Kirain semudah didapat saat di Jatinangor dulu, tahunya beberapa tempat yang saya sambangi nggak jual. Aneh. Ternyata Jatinangor lebih serba ada dibanding Jakarta dan Jakarta coret Depok nggak dianggap — Cinere — ini.

Tek tek tek

Iya, memang time schedule ini seperti benda penting-nggak penting. Lagi, kenapa saya nggak bikin di notes saja? Kok malah seperti ngotot cari yang bentuknya karton ala-ala papan tulis itu?

Jawabannya mungkin karena kebiasaan.

Sejak masih berstatus jadi pelajar saya memang terbiasa nulis beberapa hal cukup besar di kamar. Termasuk mimpi. Beranjak jadi mahasiswa, hal itu masih saya lakukan di kamar kos. Ditambah jadwal saya setiap harinya per bulan yang tertulis di schedule board.

Saking saya menjaga fokus dengan schedule board dan isinya, saya sampai hafal banyak hal tentangnya. Warna dan bagian-bagian yang rusak. Salah satu yang sering rusak ialah ujung sudutnya yang robek karena keasalan saya melepas perekat. Saya juga masih ingat serapat apa saya menulis beberapa jadwal harian di kotak seadanya. Mulai dari jadwal kuliah, jadwal rapat dan banyak kegiatan lain, deadline tugas, deadline ini itu dan lainnya. Bahkan termasuk kapan saya harus selesai baca satu buku. Juga olahraga berupa lari di GOR Jati.

Kalau ada yang terpaksa di-reschedule, tisu siap menghapus tulisan tangan dengan spidol. Anw, saya juga menggunakan spidol dengan warna berbeda sesuai jenis catatan. Untuk urusan kuliah warna hitam, kegiatan kepanitiaan dan organisasi warna biru, lainnya merah.

Iya, saya dulu serapi itu soal manajemen waktu. Plus sedetil itu.

Dan berbagai ‘kejelimetan’ hidup saat kuliah itu tertulis di schedule board yang tertempel di dinding kamar. Satu momen tembok depan kasur — jadi saat bangun atau mau tidur terngiang-ngiang jadwal, momen lain dekat meja belajar — jadi saat bikin tugas bisa lebih wanti-wanti soal waktu, momen lainnya sebelah kaca — jadi saat bersiap diri bisa selalu ingat jadwal.

Saya memang mudah bosan.

Berangkat dari pengalaman itu, saya memang makin tumbuh sebagai pribadi yang ‘tek tek tek tek’ alias cepat, teratur, dan cekatan. Buruknya jadi orang yang nggak sabaran. Suka gemes kalau lihat yang lama, padahal bisa di-push.

Ternyata sebuah benda bernama schedule board bisa merubah hidup saya banyak hal. Menyepelekan keberadaannya saat sudah kembali ke rumah ternyata keputusan yang kurang tepat. Kini, saya semakin bersiap menghadirkannya kembali ke rumah dan menjadi orang yang punya manajemen waktu lebih baik.

Selamat datang kembali Dewi Rachmanita Syiam yang tek tek tek tek~


*baca tek seperti ‘e’ dalam kata ‘elang’.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade