Pembaca yang Menunda (;) Penulis yang Mati

Mempersoalkan kepenulisan berarti juga mempersoalkan proses membaca.

Sebuah teks adalah medan pertempuran antara penulis dan pembaca. Mereka memanfaatkan makna untuk menyerang satu sama lain. Sering kali penulis mati secara tiba-tiba, dan pembaca dengan bangga mendeklarasikan dirinya sebagai sang pembunuh. Namun, dalam proses bunuh-membunuh ini, makna malah seakan menjadi tidak berarti lagi. Bagi saya, justru pembaca harus menyelamatkan si penulis. Demi makna yang terus menyambung hidup.

Karya Edward Hooper “Nighthawk” (1942)

Pembaca yang menunda

Ah! Hatiku tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi. — Chairil Anwar pada Sia-Sia

Chairil sedang galau. Mungkin, waktu itu ia sedang ngambek-ngambekan dengan kekasihnya, atau bahkan calon kekasihnya, atau bahkan keduanya. Kedua (atau lebih) orang tersebut bahkan masih mempertanyakan perasaan yang bergejolak dalam hati mereka. Bunga sudah tersebar, berserak lemah di tanah. “Saling bertanya: Apakah ini? Cinta? Keduanya tak mengerti,” tanya Chairil sebelum diam menyergap suara, dan sepi mengoyak daging. Sebagai penyair angkatan ’45 yang juga sudah dibaiat oleh H.B. Jassin, untunglah Chairil kemudian menuliskan kegelisahannya, mencurahkan isi hatinya, atau dalam bahasa filsafatnya, membahasakan yang tak terbahasakan, mematerialkan yang sublim, mengonkretkan yang transendental.

Perasaan, seperti juga ide tidak hadir di dunia. Saussure dalam teori linguistiknya berpendapat bahwa bahasa adalah sistem yang berlaku sebagai perantara dari hal-hal sublim tersebut. Ada tiga macam bahasa: parole, langage, dan langue. Parole, wicara tanpa aturan. Langage, wicara yang bersentuhan dengan aturan, seperti gramatikal. Langue, sistem tanda yang menghantarkan makna. Langue terdiri dari unsur penanda (signifier; citra wicara, abjad, suku kata dan seterusnya) dan petanda (signified; konsep pada dunia ide — Kant menyebutnya sebagai akal budi) yang berkelindan untuk menjadi tanda (sign).

Saussere menekankan teori linguistiknya pada peran fonem wicara di atas bahasa tulis. Menurutnya, pada langue, rangkaian wicara yang dijalin pada fonem (metode artikulasi) adalah hal yang memiliki stabilitas bentuk (bunyi) lebih baik daripada goresan pena pada tulisan.[1] Fokus kepada ‘kepastian’ bahasa tuturan inilah yang menjadi corak logosentrisme pada filsafat metafisika “barat”. Logos adalah kebenaran metafisik yang a priori pada sebuah asumsi ontologi.

Manusia ingin menundukkan objek di sekitarnya dalam alam pikirnya sendiri.

Kebenaran — logos — ini memiliki sifat. Hal ini melingkupi dikotomi kehadiran dan ketidakhadiran pada subjek — dipisahkan melalui proyek cogito dari Descartes,[2] menolak asal-usul (archia) sebagai sebuah rujukan untuk menemukan legitimasi keberadaannya, dan telos sebagai tujuan akhir yang mengindikasikan kesempurnaan, yaitu sebuah realisasi akhir yang transenden dari segala jenis perubahan.[3] Pada intinya dengan adanya logos, maka pembaca didudukkan untuk mempercayai bahwa ada otoritas di luar teks yang dapat diacu, sebuah pusat bernama pengarang. Teks adalah kenyataan objektif yang menampilkan sesuatu apa adanya.

Bunyi dalam linguistik Saussure meneguhkan kehadiran pewicara, karena manusia mendengar langsung siapa yang berbicara padanya. Beda dengan bahasa tulis yang menampilkan penulis hanya pada angan-angan. Bagi Saussure bunyi sebagai citra akustik mengalami tiga proses kehadiran, yaitu psikis, fisiologis dan fisik melalui gelombang. Bunyi adalah suatu bentuk fisik yang secara fenomenologis bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, berbeda dengan tulisan yang posisi sejarahnya problematis. Maka, tulisan memiliki potensi yang dapat membelokkan makna langue, dari kebenaran. Saussure sebenarnya melanjutkan estafet ciri metafisika yang dioper sejak Plato yang memarginalkan bahasa tulis. Aksara harus ditransendensikan menuju konsep yang berciri universal.

Pada bahasa filsafat yang lebih moncer, filsafat linguistik Saussere masuk ke dalam school of thought strukturalisme yang “[…] berasumsi bahwa bahasa adalah fenomena yang objektif dan dapat diobjektivikasi dalam sebuah sistem diskursif.”[4] Manusia ingin menundukkan objek di sekitarnya dalam alam pikirnya sendiri. Inilah yang kemudian dilanjutkan — dengan cara menolak strukturalisme — oleh postsrukturalisme.[5]

Dalam poststrukturalisme Derrida, ada dua titik krusial yang diserang dari strukturalisme Saussere, pertama mengenai sistem tanda, dan kedua mengenai kehadiran. Keduanya perlu meng-ada melalui proses penundaan.[6] Pertama, sistem tanda itu sendiri merupakan representasi dari makna yang tidak berdiri sendiri. Ada makna yang direpresentasi secara acak, yang identifikasinya harus melalui pembedaan dari satu tanda ke tanda lain. Contoh, ‘kursi’ menjadi kursi karena penandanya berupa jajaran abjad k-u-r-s-i yang pada wicara-fonetik harus mengacu pada tanda pembeda lain — kursi bukan meja, kursi bukan pintu, kursi bukan mantan, dst. ‘Kursi’ menjadi kursi, karena ada yang bukan kursi. ‘Sesuatu’ agar menjadi sesuatu harus melalui proses penundaan yang sifatnya acak, karena pengertian tidak dapat mendahului penanda. Kedua, wicara yang memerlukan kehadiran. Melalui jalan memutar fenomenologi Husserl — yang pada kesempatan lain beberapa bagiannya dikritik Derrida — kehadiran berarti suatu bentuk kesadaran individu untuk terus-menerus memaknai dunia dan ‘menampilkannya saat ini dan di sini’ (here and now). Kesadaran tentang yang ada melalui kehadiran harus selalu masuk pada dimensi waktu kekinian (temporal present). Kekinian harus selalu dihadirkan. Jika tidak ada yang kini, maka tidak akan ada kehadiran, tidak ada pemaknaan, tidak ada apa-apa — lewat begitu saja. Di sini terlihat bahwa makna selalu tertunda oleh proses hadir.

Dua kali penundaan ini mengindikasikan bahwa makna tidak hadir secara maknjeduduk. Tidak ada finalitas, karena sebelum tanda merujuk makna, sebenarnya ia harus terus menunda-nunda pencapaian itu. Penundaan tidak berarti bahwa makna itu tidak mungkin, tapi dengan menunda, ada kemungkinan lain yang lebih luas pada semesta makna. Tanda tidak lagi mengacu serta-merta pada kekakuan fonem penanda dari pewicara. Metanarasi tidak didapat dari teks yang linear, tunggal, berdiri sendiri, namun bisa didapat dari intertekstualitas atau mengacu pada teks atau bahkan yang bukan teks di luar teks pertama.

Cuplikan dari film Kirby Dick dan Amy Ziering Kofman “Derrida” (2005)

Penulis yang mati

Kemudian apa yang membuat saya berbeda dari para penganut kredo posmo-posmo lain di luar sana? Mari kembali ke ‘pembaca yang menunda’ di atas dengan menambahkan ‘penulis yang mati’ setelahnya. Bagi saya, menjadi seorang pembaca adalah menjadi penafsir yang tidak hanya terikat pada rekaan makna yang dibuat oleh penulis, namun harus berlayar dalam lautan makna yang lebih luas. Ada kebenaran di luar teks, tapi ada pula kebenaran si penulis. Banyak orang terlampau lebay mengamini Barthes yang mengatakan, “Penulis sudah mati.” Kemudian, kita sebagai pembaca semena-mena menafsirkan teks penulis, bahkan banyak yang kemudian terkesan malas, dan asal-asalan menuliskan responnya terhadap suatu bentuk teks dengan mencatut-catut istilah dekonstruksi Derrida biar terkesan intelektuil bin ajaib — sim salabim.

Menurut saya, kematian penulis itu sendiri perlu ditunda terlebih dahulu. Tidak saja berpegang pada konsep dasar dari kritik Derrida pada Saussere, tetapi menurut saya, pembaca harus berlaku adil juga terhadap teks yang dibacanya sendiri. Saat Barthes mengonsepkan the death of author, kita tidak boleh serta merta menjadi hitman bagi para penulis di luar sana. Menunda makna, tidak serta-merta membunuh makna yang digariskan penulis, seperti yang sudah dibahas Derrida, bahwa makna itu ada, namun sebenar-benarnya makna tersebut, masih ada, ya masih ada, makna lain yang kadar kebenarannya tidak lebih rendah. Ada pluralitas makna, ada kejamakan kebenaran. Pengarang tidak harus mati.

Pergumulan saya di Fisipol membuat saya paham bahwa kebenaran mutlak itu sulit. Kebenaran bisa berupa intersubjektivitas-persetujuan antar aktor, kebenaran bisa berupa proses pemahaman (make sense) realitas dalam konteks budaya tertentu. Maka dari itu, kebenaran pada konteks penulis tidak sepatutnya dicampakkan. Di sini, kita perlu belajar menghargai pendapat orang lain, versi kebenaran orang lain. Tidak berperilaku fasis cum fundamentalis yang ujuk-ujuk mendakwa penulis mati tanpa tedeng aling-aling. Janganlah jadi orang arogan yang kemudian sok benar padahal tidak akademis-akademis amat.

Namun, menyadari diri sebagai subjek yang kosong, perlu diimbangi dengan menyadari bahwa orang lain pun adalah subjek yang kosong.

Penghargaan kepada penulis adalah upaya menghargai diri kita sendiri, bahwa kita perlu merasa belum cukup belajar, bahwa ada orang yang sudah belajar lebih banyak, dan lama, serta kerja riset yang lebih keras untuk membangun argumennya. Namun, bukan berarti kita menjadi antikritik, karena kritik adalah upaya memajukan peradaban melalui keilmuan yang sering dilabeli sebagai ‘proses dialektika’. Begitu pula semisal kita orang yang ideologis, perlu kiranya melakukan pembelaan dari serangan-serangan wacana ideologi yang dibangun pihak lain.

Saya sebenarnya orang yang diam-diam menolak strukturalisme dan poststrukturalisme pada poinnya tentang filsafat subjek. Dua paham tersebut memarjinalkan subjek, karena subjek hanya hadir untuk dikonstitusikan kenyataan objektif di sekitarnya. Manusia hanya dipahami sebagai agen dari struktur yang melengkupinya. Manusia tidak pernah punya pilihan, karena dia tidak otonom.

Dari sini saya memiliki pendapat sendiri. Saya mengambil kritik Zizek terhadap pembacaan Heidegger mengenai Kant, yang menyebutkan bahwa manusia itu terbatas karena pengetahuan itu terbatas. Bagi Zizek — meminjam teorisasi psikoanalisis Lacanian — subjek adalah subjek yang terbagi (barred subject), dan selalu mengalami kekurangan yang inheren terhadap keberadaannya. Subjek selalu menginginkan sesuatu yang lain (the other). Zizek menyebut subjek sebagai lubang. Subjek berusaha untuk mengisi kekosongan ini dari kenyataan objektifnya. Subjek memiliki otonomi untuk memilih substansi apa yang diisikan kepada subjek. Dari sini, sebenarnya subjek memiliki potensi untuk menggapai yang tak terhingga.[7]

Nah, karena subjek itu selalu kekurangan, maka subjek secara otonom seharusnya mencari maknanya sendiri. Bisa kemudian ia mencarinya pada teks-teks yang ada — secara harfiah maupun tidak. Maka, bagi saya, sebenarnya menulis itu adalah upaya aktualisasi diri dalam usaha saya menghadirkan kekinian untuk memaknai sesuatu. Dari sana, saya mendapatkan makna utuk mengisi yang kosong pada diri saya, yang sebenarnya juga tidak akan bakal penuh. Oleh sebab itu, tulisan saya sebenarnya saya juduli sebagai ‘respon’, sebuah upaya eksistensialis untuk mendudukkan kenyataan objektif di sekitar saya, agar saya tidak salah tingkah dalam berlaku.

Namun, menyadari diri sebagai subjek yang kosong, perlu diimbangi dengan menyadari bahwa orang lain pun adalah subjek yang kosong. Teks perlu dipahami sebagai sesuatu yang kuat, memiliki kekuatan mempengaruhi orang lain, ia adalah piranti kekuasaan berbasis wacana. Teks berdampak luas, dan ia berbahaya. Ia bisa memiliki sifat sebagai pengejawantahan ketidaksadaran subjek terhadap sistem yang sebenarnya ikut menindas si penulis, apalagi pembaca. Orang-orang yang secara tidak sadar tertindas oleh struktur ini, menurut saya harus disadarkan, karena apa yang ia lakukan adalah mengisi kekosongan dirinya dengan kecacatan sistem yang dampaknya bisa luas dan merugikan banyak orang. Dalam bahasa Faruk H.T., kritik dituliskan untuk mengingatkan si penulis terhadap apa yang ia lupakan, atau lewatkan saat menulis teksnya.

Teks berdampak luas, dan ia berbahaya.

Ambil contoh, tulisan ulasan pementasan Teater Selasar bulan lalu. Saya memposisikan diri sebagai pembaca yang harus keluar dari konteks Selasar, namun saya juga perlu menganalisis konteks apa yang berusaha ia sampaikan, dan ternyata pada konteks yang berusaha mereka sampaikan ada hal yang secara implisit adalah bukti ketertindasan oleh sistem penindas. Konkretnya, pementasan itu digadang-gadang sebagai pengingat akan tragedi G30S, bahwa hidup kita sekarang banyak dipengaruhi trauma masa lalu, ini konteksnya. Namun, menurut saya, apa yang berusaha mereka sampaikan malah kontraproduktif, karena hanya menggunakan tragedi G30S sebagai latar, dan bukan emansipasi terhadap upaya gerakan politik yang terjadi pada masa kini yang mereka sebut sebagai hasil traumatisasi masa lalu. Selasar malah membunuh gerakan politik itu sendiri dengan mereduksi yang material pada gerakan kepada hal ideal dan final seperti hasrat cinta. Parahnya, Selasar secara tidak sadar malah mengiyakan status quo sekarang, yaitu kemandegan politik emansipasi.

Kesimpulan

Sepi telah membuat mampus, begitu kata Chairil kira-kira. Siapa yang mampus? Sang penulis telah mampus oleh para petrus posmo alay yang kurang piknik. Mereka yang tidak memahami konteks argumen Derrida tentang dekonstruksi, sehingga percobaan intertekstualitas mereka terlalu genit sehingga gagal total. Kebebasan tafsir yang mereka dengungkan toh malah terdengar tidak masuk akal, dan tidak bisa diterima akal sehat. Menurut saya, bukan berarti mereka tidak benar, saya lebih suka menyebut mereka sebenarnya hampir benar — karena saya menunda.

Aktivitas mempercayai Derrida sebenarnya juga merupakan sebuah versi lain tentang logos. Itulah mengapa, Derrida tidak ingin mendefinisikan dekonstruksi, karena Derrida tidak ingin diacu sebagai archi, sebagai pencetus dari kebenaran lain melalui ‘dekonstruksi’. Menurut saya, apa yang harus kita lakukan sebagai pembaca selanjutnya adalah menunda penulis yang mati. Pembaca tidak bisa terlepas dari konteks penulis, karena konteks tersebutlah yang seharusnya menjadi titik mula penafsiran yang lebih luas, yang melebihi teks, yang melampaui teks, menuju emansipasi.

Semoga terus yakin, dan berkeyakinan.

051116

Catatan: teks diolah dari teks yang sama yang disampaikan pada kelas kepenulisan Akedemi Merdeka yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fisipol UGM pada 3 November 2016.

[1] Langue bukan sistem yang berbasiskan pada aksara, tetapi bunyi.

[2] Kredo cogito ergo sum memisahkan subjek dengan objek di luarnya. Berarti memutuskan — sekaligus memisahkan — apa yang ada dan tidak ada.

[3] Ketiga hal ini disarikan dari pembahasan Fayyadl (2005) dalam Derrida hlm. 25–28

[4] Ibid. Hlm. 63

[5] Prefiks post- tidak memiliki makna-makna yang baku.

[6] Kesimpulan ini didapat dari pembahasan Derrida pada buku Martin Suryajaya (2016) berjudul Sejarah Estetika Hlm. 753–758

[7] Saya menyebut kritik Zizek ini sebagai upaya revitalisasi sang subjek.