Hari ini lagi-lagi KEMENKOMINFO memblokir akses ke situs-situs yang diduga memiliki materi pornografi. Kali ini, microblog/social networking Tumblr yang menjadi korban dari pemenggalan masal pemerintah terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

Memblokir situs ini atas dasar pornografi saya rasa sangat dangkal. Perlu digaris bawahi bahwa Tumblr adalah situs microblog dan social networking bukan situs porno. Perlu diingat pula bahwa tidak semua konten yang ada adalah pornografi. Tumblr menjadi tempat para pelaku industri kreatif untuk menyebarkan karya. Ya, situs ini memang memperbolehkan pengguna untuk mengunduh karya mereka yang memiliki konten dewasa — dewasa, termasuk yang dianggap pornografi. Namun, Tumblr sudah memiliki regulasi tersendiri terhadap persoalan ini (https://www.tumblr.com/policy/en/community).

Melihat hal ini tidak hanya terjadi pada Tumblr tetapi juga Vimeo, Reddit, dan Netflix, saya rasa KEMENKOMINFO belum terbiasa dengan situs-situs yang membebaskan penggunanya untuk memilih mau atau tidak melihat konten dewasa. Jadi, mungkin mereka tidak mau ambil pusing sehingga mengambil jalan pintas dengan memblokir situs tersebut. Padahal, memilih menjadi makanan sehari-hari para pengguna internet.

Mempermasalahkan konten pornografi, saya rasa social networking yang lebih populer lainnya di Indonesia juga melakukannya. Instagram kerap “kecolongan” dan ada saja penggunanya yang mengunduh gambar yang terlampau seksi dan video porno berdurasi 15 detik. Facebook tidak menutup kemungkinan menjadi tempat para predator pedofilia mencari mangsa. Twitter bisa saja memberikan link ke situs porno. Google pun sebagai search engine dapat melakukan hal yang sama.

Saya rasa KEMENKOMINFO tahu bahwa netizen selalu memiliki cara untuk mengakses kembali situs-situs yang telah diblokir tersebut lewat cara bypass. Dan itu menandakan bahwa memblokir situs porno tidak akan menyelesaikan masalah pelecehan seksual, pemerkosaan, penyebaran penyakit seksual menular, HIV/AIDS, kehamilan remaja, seks bebas, hingga keinginan banyak pihak untuk “menyembuhkan” LGBT.

Bahwa yang dibutuhkan bangsa ini bukan blokir memblokir situs, tetapi pendidikan seks. Tidak hanya persoalan fungsi organ seksual pria dan perempuan tetapi juga soal hubungan seks itu sendiri, seksualitas, identitas seksual, kesehatan reproduksi, hak reproduksi, hingga safe sex. Bahwa sudah bukan waktunya lagi menganggap tabu seks dan seksualitas. Kini, kami dalam posisi ingin tahu — satu hal yang sangat manusiawi, dan internet menjadi satu-satunya sumber yang kami miliki.

Pendidikan seks yang terbuka dan vulgar adalah jawaban untuk mengatasi berbagai masalah yang telah saya sebutkan sebelumnya. Karena Anda tidak akan bisa membendung pornografi di internet. Faktanya mereka akan selalu ada dan tidak akan pernah pergi. Justru keberadaan pornografi di internet menjadi alasan kuat untuk membehani pendidikan seks (http://www.telegraph.co.uk/comment/11056891/Sex-education-is-more-important-than-ever.html).

Prestasi Anda di KEMENKOMINFO bukan terhitung dari banyaknya Anda memblokir situs porno. Namun, dari bagaimana Anda dapat memudahkan kami, para netizen Indonesia, untuk mengakses informasi.