Merah = Titik macet

Mengurai Ruwetnya Jalan Terban Yogyakarta

Ruwetnya Jl Terban terjadi setelah penataan jalan satu arah di Jl. C. Simanjuntak. Terutama ketika sore hari dimana waktunya pulang kantor.

Biasanya para pekerja yang kantornya terletah pada Jogja ‘bawah’ untuk menuju kawasan pemukiman Jogja atas (arah Palagan dan Kaliurang) bisa menempuh antara lain Jl. Magelang, Jl. A. Sangaji, Jl. Cik Ditiro, Jl. Prof Herman Yohanes, Jl. Gejayan dan Jl. C. Simanjuntak.

Nah beberapa waktu lalu C. Simanjuntak dirubah menjadi satu arah dari arah utara ke selatan. Penataan ini memang membantu jalan C. Simanjuntak yang sudah padat bila dua arah. Namun masalah terjadi ketika sore hari. Dengan berkurang nya satu alternatif maka terjadi penumpukan arus (buangan) yang biasa melalui C. Simanjuntak ke jalan A. Sangaji dan Cik Ditiro. Untuk ke A. Sangaji tidak begitu masalah namun terjadi masalah di jalan Cik Ditiro.

Bundaran UGM (dekat Panti Rapih) merupakan pertemuan arus dari arah Gejayan dan dari arah Sudirman. Sedangkan jalan pertemuan itu Jl. Terban merupakan jalan dua jalur yang sempit. Satu jalur hanya terdiri dari dua lajur, karena lajur kiri merupakan lajur untuk yang menuju Jl. C. Simanjuntak, maka untuk ke arah utara yaitu jalan Kaliurang hanya satu lajur. Terjadilah penumpukan disitu.

Kalau bisa saran dengan perubahan jalan manjadi satu arah harus nya membentuk lingkaran dengan jalan lainnya. Sehingga Jl. Terban menjadi satu arah menuju ke barat. Sehingga terjadi lingkaran arus antara C Simanjuntak — Sudirman — Cik Ditiro — Terban

Putaran Satu Arah

Memang untuk arus yang dari Sardjito ingin menuju Gejayan harus memutar melalui Jl. Jend Sudirman, namun alternatif lain juga bisa melalui Jl. Agro.

Semoga ada yang mendengar.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.