Hari ini sebetulnya saya tidak ingat kalau saya masih punya jatah makan gratis di thay alley. Terima kasih berkat kuis majalah Kartini, saya jadi bisa merasakan kembali rasanya resah dan gelisah.

Perasaan yang entah sudah berapa lama tak lagi saya rasakan, atau mungkin tidak saya rasa-rasakan. Sesungguhnya, saya benci dihinggapi perasaan semacam ini, namun tadi pagi menjelang jam makan siang, saya masih dapat tersenyum, bahkan tertawa dalam kegelisahan yang mendera.

Saya dapat merasakan jantung ini berdebar demikian kencang, makin cepat ketika kaki saya makin mendekati thay alley. Jika kau tidak tahu apa itu thay alley, tempat ini semacam warung tegal ala thailand. Iya, semacam makanan yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Bedanya, ini di dalam mall para bangsawan.

Di tempat ini hampir seluruh menu makanannya tidak saya mengerti jika tidak ada bahasa londonya. Bapuk, ndeso saja pakai acara makan di sini kamu, wi!

Saya tertunduk sejenak sebelum akhirnya menunjuk satu makanan juga minuman dengan harga paling rendah yang bisa mata saya tangkap. Setidaknya saya membutuhkan 30 menit sebelum akhirnya mengeluarkan suara memanggil pelayan restoran yang tentu saja terlihat sama khawatirnya dengan saya begitu mengetahui saya akan membayar makanan yang saya pesan dengan voucher hadiah dari kuis.

Mampus kau wi kalau makanan yang kau pesan offside, mau bayar pakai apa karena di kantongmu hanya tersisa si merah yang kemarin baru kau ambil di di Senayan City.

Ada untungnya juga rupanya redaksi koran itu telat ngirim honor karena kalau tepat waktu, mungkin saya tidak akan pernah bernyali makan di thay alley. Tidak, bahkan hanya untuk mengikuti kuisnya saja saya mungkin harus berpikir berulang kali.

Thay alley thay alley, sampai bertemu kembali.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.