Hujan dan Ratu Dalam Satu Waktu

Saya sudah tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya serius memelototi televisi setelah membukanya dengan tangan saya sendiri. Jika belakangan saya seperti menyengajakan diri terlempar dan terdampar di satu atau beberapa chanel televisi, itu saya pikir karena saya tidak yakin ada hal lain yang bisa saya lakukan selain memandang benda keramat itu.

Saya hanya ingin membunuh waktu, menghabiskan waktu sambil menunggu berpindah kembali kepada kegiatan yang sebelumnya sedang saya lakukan namun dipaksa diputus karenatitah sang ratu di rumah ini.

Sang ratu saya yakin betul bisa melakukan titah itu. Dia menyuruh saya melakukannya hanya semata agar saya mau meninggalkan kegiatan yang menurutnya membuang-buang waktu. Sesuatu yang kalau sudah dirasa, dilihat membuang waktu tentulah bukan sesuatu yang bermanfaat, berarti, berguna.

Dan entah kenapa, tiap kali mendengar kalimat itu dari bibirnya seketika saya merasa tersihir dan tring menjadi apa yang selama ini didaraskannya, meski bukan dalam bentuk doa-doa panjang di ujung malam yang dingin dan pekat.

Kadang, saya sungguh ingin menunjuk hidungnya atas apa yang telah menimpa saya (seperti apa yang sering diucapkannya), namun kemudian saya merasa menjadi tak berdaya karena saya tidak ingin disumpah dan berubah menjadi batu, kodok, atau yang sebagainya.

Kalau menjadi presiden atau gubernur, mungkin masih lumayan. Tapi menjadi perempuan yang bekerja di pinggir jalan pada malam hari, menjajakan diri, mengumpankan diri pada lelaki hidung belang (ya, dia memang pernah melontarkan kalimat tidak enak itu), tentu itu bukan hal yang menyenangkan untuk dilihat, apalagi dilakukan.

Setidaknya, saya tidak melihat itu sebagai sebuah pilihan hidup. Jika ada perempuan lain di luar sana yang memilih jalan itu, saya berharap pikirkanlah kembali bila hal tersebut dialami oleh orang-orang yang kaucintai, seperti anak perempuanmu, ibumu, atau siapapun yang pernah menyentuh jiwamu dan tidak pernah ingin sekalipun kausakiti. Itupun jika ada. Jika tidak, berdoalah agarTuhan dapat melembutkan hatimu untuk dikucurkannya kehidupan yang lebih baik hidupmu yang sekarang.

Hujan baru saja turun. Rintik, tipis, namun baunya terus mengingatkan saya pada akan kenangan-kenangan masa silam. Dan, ah. Mungkin saat ini saya terdengar sedikit sentimentil karena kedatangan sang hujan (yang kadang kita laknat kedatangannya).

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.