Saya sungguh ingin menulis. Menulis sesuatu, atau apa saja yang mungkin bisa menarik perhatian banyak orang. Saya kerap melakukannya di akun sosial media, dan, yah, harus saya bilang kalau saya gagal melakukannya.

Saya benci perasaan yang diiringi kata harus di dalamnya karena itu kadang membuat saya tertekan. Sejujurnya, dulu saya paling benci menulis di sekolah.

Catatan yang diambil guru dari buku cetak, pr, atau menulis di papan tulis dengan iringan tatapan teman-teman sekelas yang senang tidak harus maju ke depan kelas. Dan sesudahnya, saya malah berakhir menulis cerita pendek.

Sebetulnya, mungkin saya tidak betul-betul tidak menyukai kegiatan menulis. Mengenai menjadi penulis itu dikatakan juga sebagai sebuah profesi atau pekerjaan, ibu saya tidak pernah ambil pusing.

Jadi, saya mulai menumpahkan apa yang tidak dapat saya suarakan di rumah ke atas kertas putih yang selalu setia menjadi teman yang baik. Saya menyebutnya diary pribadi.

Tidak sampai digembok memang, tapi saya ingat saya menyimpan buku dengan sampul berwarna serupa pelangi itu seperti menyimpan harta karun.

Saya bisa melihat kesamaan diri saya pada raja serakah di the hobbit unexpected journey, meski bukan harta yang saya dekap erat-erat.

Saya harus pergi sebentar lagi. Ada yang lebih penting yang harus saya lakukan dibanding hanya duduk, menulis, atau membaca. Ah, ya, saya lupa kalau sudah lama saya tidak melakukannya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated riani’s story.