Sudah berapa kali saya bilang kalau orang dewasa itu absurd, Jun. Absurd. Dan mungkin karena dianggap bukan atau belum dewasa, sebuah perusahaan menolakku hanya karena aku suka dengan anak-anak.

Kedengarannya tidak masuk akal kan Jun, maksudku aku memang menyukai anak-anak, dan aku pernah bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah pre school di daerah Kelapa Gading. Dan mereka, tentu saja kebalikan dari perusahaan yang menolakku itu.

Oh, Jun. Aku lelah melamar. Sudah hampir 2 tahun aku menyandang status sebagai pengacara, dan ibu sungguh tidak senang terhadap kenyataan ini.

Sebetulnya, aku tidak benar-benar menganggur. Walau tidak bekerja mulai pukul 9 hingga 5, aku punya sesuatu untuk dikerjakan, Jun. Kau tahu itu kan. Tapi ibu, dan juga kurasa orang-orang di rumah tidak mau mengerti itu. Dan aku lelah karenanya.

Entahlah, Jun. Kurasa aku hanya butuh jalan. Jalan-jalan, melakukan perjalanan jauh seperti yang kulakukan di tahun-tahun yang lalu. Kurasa aku merindukan saat-saat itu, Jun.

Menatapi rumah-rumah darurat, pohon-pohon, atau awan yang berlalu ke belakang kereta atau kapal terbang yang kunaiki dan kukagumi. Kadang, aku membayangkan aku yang berada dibalik kemudi kendaraan-kendaraan itu, Jun.

Kuyakin rasanya pasti luar biasa meski aku tidak ingin lantas terlibat dalam kecelakaan atau kasus narkoba seperti yang dialami beberapa petugas kereta atau kru pesawat yang pemberitaannya tidak seheboh kasus penghilangan nyawa oleh racun sianida.

Doakan ya, Jun. Saat ini aku sedang melakukan perjalanan menuju, mungkin masa depan yang jauh lebih baik. Minimal sesuai dengan apa yang diinginkan ibu, Jun.

Kurasa itu cukup.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated riani’s story.