Keledai & Pohon

Cerita Pendek

Disebuah peternakan, ada seekor keledai yang bosan menyantap jerami, “Aku benci memakan jerami-jerami ini, mereka melukai gusiku setiap waktunya, aku tidak akan memakan mereka lagi jika mereka selalu melukaiku”. Lalu keledai itu pergi dari peternakannya untuk mencari santapan yang baru.

Sang keledai sudah berjalan cukup jauh meninggalkan peternakannya, dan matahari pun sudah hampir berada di puncak singgasananya. Beberapa saat setelah sang keledai berjalan, ia melihat sebuah kebun yang ada banyak buah-buahannya. “waw buah-buahan ini berkilau sekali, sepertinya lezat. Apakah kalian bersedia menjadi makananku ?”. Sang keledai menatap buah-buahan itu dengan tatapan dungunya. “Ah! mimpi apa aku jika bisa memakan buah-buahan yang menawan ini, jelas jelas aku tidak pantas untuk memakan mereka”. Lalu pergilah sang keledai dari perkebunan itu melanjutkan perjalanannya.

Bermenit-menit sudah sang keledai melanjutkan perjalanannya dari kebun buah-buahan yang ia datangi. Lalu sang keledai sampai di sebuah padang rumput. “Hai rumput, aku penasaran kenapa kalian selalu menunduk? apa kalian bersedih karena hidup kalian akan berakhir menjadi makanan para herbivora ?”. Rumput-rumput itu hanya bergoyang-goyang ditiup angin seakan tak mempedulikan sang keledai. “aku kelaparan rumput, bolehkan aku memakanmu?”. Rumput-rumput itu hanya kembali bergoyang ditiup angin. “Hmmm.. aku lupa, kalian kan sudah di injak-injak oleh siapapun yang memiliki kaki. Aku rasa jemari di peternakanku lebih baik rasanya dibandingkan dengan kalian”. Lalu sang keledai melihat sebuah pohon yang berdiri sendirian tak jauh dari padang rumput tersebut. Sang keledai kelelahan berjalan cukup jauh, lalu ia menghampiri pohon tersebut untuk berteduh. Sang keledai berbaring dibawah pohon itu sambil memikirkan apa santapan yang tepat untuknya. Lalu tak sengaja ia melihat sebuah daun yang berada dipuncak daun tersebut. “waw, daun itu hijau sekali, lebih hijau dari daun-daun yang berada disekitarnya. Sepertinya lezat. Pohon yang baik hati, pasti kamu tidak keberatan kan jika aku memakan daunmu yang cantik itu”. Tetapi daun itu berada di ranting yang paling tinggi dan sang keledai bingung bagaimana caranya untuk meraih daun tersebut. “Hmmm mungkin aku harus berlagak seperti kucing, ya! Kucing-kan lihai memanjat pohon.” Tapi berkali-kali keledai tersebut mencoba memanjat pohon itu, ia selalu gagal. “Seingatku tupai pandai melompat-lompat dipohon, mungkin aku harus mencoba melompat-lompat juga.” Sang keledai berfikir dengan mencoba melompat ia bisa meraih daun yang ia inginkan, atau setidaknya meraih dahan yang paling dekat dengan dirinya, tapi kakinya yang pendek hanya membuat dirinya terlihat bodoh.

Saat sang keledai masih mencoba meraih daun dipohon tersebut, hujan datang tiba tiba. “Ah hujan, mungkin jika aku berusaha lebih keras, pohon akan berfikir aku pantang menyerah dan iba kepadaku”. Tapi tetesan hujan yang melekat dibatang pohon itu hanya membuat sang keledai semakin kesuliatan memanjat karena licin. Sang keledai kembali berbaring dibawah pohon tersebut sambil menatapi dedaunan yang bergoyang seakan menertawainya.

Tak lama setelah itu hujan reda, lalu datanglah se-ekor singa menghampiri sang keledai. “Hai keledai, lama tak jumpa. Apa yang sedang kau lakukan ? kau terlihat berantakan”. Lalu sang keledai menceritakan masalahnya yang bosan memakan jerami dan ingin meraih daun cantik yang berada dipuncak pohon. “Oh jadi begitu, kau sungguh ingin mendapatkan daun itu keledai ? kau tau, aku baru bangun tidur dan lapar, aku kasihan melihatmu tersiksa dengan upaya bodohmu, mungkin aku harus memakanmu sekarang”. Lalu singa itu menggeram dan bersiap menerkam sang keledai. Keledai yang panik itu langsung memanjat pohon tersebut dahan demi dahannya hingga ia bergantung pada dahan yang rantingnya sudah patah dan hanya menyisakan sedikit sejarah. “Nah. Lihatlah keledai, kau hanya butuh sedikit dorongan untuk memotivasi dirimu, kurasa kau sudah cukup tinggi untuk meraih daun idamanmu itu, selebihnya berusaha sendiri ya, aku pergi”. Singa itu pergi menjelajahi sore. “Terima kasih singa yang baik hati”. Sang keledai sudah semakin dekat dengan daunnya, ia beristirahat sejenak bergantung pada dahan patah itu sambil menatap daun idamannya. “Sedikit lagi aku akan mendapatkanmu!” Daun itu bergoyang seakan menggoda sang keledai untuk segara menghampirinya.

Matahari semakin memudar memanggil malam untuk segera menggantikannya. Tak lama gelap sudah tiba, tapi bintang dan bulan tak kunjung menunjukan dirinya, awan yang kelabu menyembunyikan mereka. Ya, angin bertiup sangat kencang malam itu, sang keledai menjadi bingung apakah ia harus tetap berusaha meraih daun idamannya. Sekali lagi sang keledai menatap daun idamannya itu. “YaTuhan, kamu daun yang sangat cantik, hijaumu sangat berbeda dari daun-daun yang mengelilingimu. Demi Tuhan aku sangat ingin meraihmu.” Tak tahan dengan kecantikan daun tersebut, sang keledai kembali memanjat pohon itu. Malam semakin dingin dan angin bertiup dengan kencangnya. Sangat sulit untuk sang keledai memanjat sebuah pohon, tapi tekadnya sudah bulat, ia akan tetap meraih daunnya, sedikit demi sedikit, dahan demi dahan.

Angin yang tajam menusuk-nusuk tulang sang keledai hingga pilu, tapi ia tak menghiraukannya dan terus memanjat. Tak habis akal, angin bertiup lebih kencang hingga menerbangkan ranting ranting kecil yang menggores kulit sang keledai hingga terluka. Daun-daun yang hijau pucat tak ingin ketinggalan, mereka juga bergoyang kesana kemari hingga menyambar wajah sang keledai hingga matanya perih, tapi sang keledai sudah hampir sampai, ia tak mau menyerah. Darahnya menetes pelan-pelan, air matanya berjatuhan disibak daun-daun yang iri, kakinya lemas meraih dahan dahan yang lebih tinggi, giginya sakit mengigit dahan jikalau kaki kecilnya tak sampai meraih dahan yang lebih tinggi. Sesekali terlintas fikiran untuk menyerah dan jatuh ke rumput-rumput yang murahan. Tapi hasrat yang menggebu-gebu untuk meraih daunnya itu membuat sang keledai terus memanjat.

Sedikit lagi hampir sampai, sambil menahan rasa sakit, sang keledai terus memanjat. Akhirnya keledai gigih itu sampai di dahan pohon tertinggi, singgasana daun cantik tersebut. Tapi sang keledai hanya terdiam, diam yang sangat lama, matanya kosong, tatapannya jauh, air matanya melukai dada beserta segala isinya. Daun yang luar biasa cantik itu ternyata sudah pergi, angin menerbangkannya entah kemana. Kenapa ? tiada yang tau. Mungkin sang keledai terlalu lama memanjat pohon itu, atau mungkin juga daun itu pergi karena tau sang keledai ingin menghampirinya, Entahlah yang pasti daun itu sudah sangat jauh dari sang keledai.

Keledai yang malang itu hanya bisa diam mematung di dahan pohon itu, tidak tau apa yang harus dilakukannya. “Haha sial, apa yang keledai lakukan di atas pohon. Bodoh dasar, seharusnya aku tau diri, daun itu terlalu tinggi di atasku. Bodoh benar aku ini.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.