Tuntas

Rakhmat menggeleng-gelengkan kepala dan mengepalkan tangannya sekuat tenaga sebagai usaha memprotes keadaan. Entah keaadaan yang ia protes itu sadar bahwa ia sedang diprotes atau tidak, ia tidak peduli. Ia berjalan di tengah jalanan pasar, menembus ramainya lalu lalang pedagang dan pembeli. Ia tahu betul tempat yang sedang ia tuju. Jembatan itu. Jembatan yang tingginya sekitar puncak rumah susun 16 lantai di atas pasar itu. Sewaktu jaman kejayaannya, jembatan itu sering dilalui truk-truk dan mobil pengangkut barang untuk distribusi barang-barang dagangan pasar. Sebelum akhirnya jembatan itu entah kenapa hanya diabaikan begitu saja hingga disarangi pengemis-pengemis dan perompak pasar.

Dibalik sempitnya jalan hingga ia harus memusuhi punggung orang-orang pasar, Rakhmat melamun. Diingatnya Lastri, istrinya, yang sedang meneteki lelaki berkumis yang sama sekali tidak ia kenal. Ia mengingat kembali betapa malu dan betapa ia mengutuk dirinya. Istrinya, yang ia cintai dan ia perjuangkan mati-matian supaya ia tetap bisa makan nasi dan lauk tiap hari, mengkhianatinya. Ia selalu mengutuk dirinya sendiri karena masih belum mampu memberi istrinya itu seorang keturunan. Ia malu sekali dan ia benar-benar terkuras energinya, hingga meninggalkan istrinya dan lelaki berkumis itu untuk melanjutkan permainannya.

Dalam perjalanannya ke jembatan itu ia melamun, “aku ini sedang bernapas. Kapan terakhir kali aku merasakan nimatnya menghirup napasku sendiri? Aku lupa kalau menghirup napas itu sangat nikmat. Aku lupa ajaran guruku bahwa saat kita menghirup napas, kita menghirup energi semesta. Saat kita membuang napas, kita membuang energi negatif yang ada di seluruh tubuh kita”. Ia teringat kembali pada alamarhum gurunya yang sangat ia hormati. “Bagus kalau kamu pernah mengutuk diri sendiri, menjadikan dirimu sebagai segumpal kotoran hewan. Bagus kalau kamu sudah pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. Itu berarti kamu pernah menistakan hidup sehingga memiliki kesempatan untuk benar-benar menghargai hidup. Banyak orang takut akan kematian, tapi sedikit orang yang benar-benar mencintai kehidupan.”

Dan benar saja, di bibir jembatan itu ia benar-benar menangkap gelombang gurunya. Ia sangat percaya bahwa gurunya yang telah menjadi gelombang itu mengunjungi pikirannya, dan benar-benar kebetulan yang sungguh kebetulan pikirannya berfungsi menangkap gelombang itu. Ia melihat jari kakinya dan orang-orang dibawahnya, lalu mengurungkan niatnya untuk meloncat ke kerumunan orang-orang itu.

Rakhmat benar-benar menikmati hirupan dan hembusan napasnya. Sangat nikmat rasanya. Ia turun kembali ke bahu jembatan, dan di kepalanya hanya ada dua skenario: pertama, tidak pulang ke rumah dan pergi ke tempat yang sama sekali baru; atau kedua, mengambil samurai di balik pintu rumah dan menghunuskannya tepat ke wajah pria berkumis itu.

Tangerang, 11 Februari 2015

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.