Bisu

Ku lihat ibu pertiwi, 
tangannya mengepal geram,
kesal melihat kelakuan si sulung yang begitu rakus merebut gabah dari si buyung.

Aduhai, matanya isyaratkan amarah tertahan.

“Itu persediaan gabah terakhir di rumah kita, jika kau habiskan, ibu harus mencari kemana? Tetangga kita tak se-derma Tuhanmu!”, teriakannya hampir memecah gendang telingaku.

Namun, hal itu tak membuat si sulung berhenti, gabah itu terus dilahapnya, tak pedulikan tangisan si buyung yang semakin menjadi.

“Anak seperti kau, harusnya sudah kutelan saja sedari dulu. Andai kakiku masih kuat berdiri, tak kan kubiarkan gabah nampak dari pandanganmu!”, ujarnya sembari terisak.

Aku hanya tertegun. Diam membisu adalah senjata terbaik sembari hati terus memanjat pinta. Bukan tak ingin aku berbicara, andai saja kau tahu, batinku terus menjerit sembari terus menjejak pena.

Meskipun ini rumahku, aku sudah tak bisa merasa nyaman dan aman (lagi). Jangankan bersuara menyampaikan kata, karena alasan berkedip saja, diriku sudah bisa masuk bui. Aneh memang, tapi begitulah faktanya.

*PM*

Like what you read? Give Dewi K. Mujahidah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.