Dia dan Aurora

Dewi K. Mujahidah
Jul 20, 2017 · 3 min read

Sudah dua musim, aku tak melihat jejak langkahmu di kota ini. Sejak pertemuan itu, aku memutuskan untuk tidak menyapa dirimu lagi, meski dalam ingatan. Entah, sebenarnya aku sangat membenci kata perpisahan. Namun, keputusan itu akhirnya kumantapkan, seolah dibuat sepihak tanpa menunggu persetujuan darimu. Ya, kurasa percuma juga jika kusampaikan pun, jangankan untuk mengerti, berusaha mendengar apa yang kukatakan pun tidak.

Dunia kita memang sudah terbiasa tanpa suara. Isyarat menjadi pengganti kata, namun seringkali ku dibuat tidak mengerti ketika kau berusaha mengungkap rasa. Pernah suatu hari, gelas kaca menjadi salah satu benda sasaran ketika kau merasa kesal karena diriku tak kunjung juga mengerti tentang apa inginmu.

Aku sungguh terkejut dan merasa semakin takut. Pecahannya menggoreskan luka di tanganmu, hingga kepanikanku semakin menjadi ketika darah mengalir deras dari sana. Ku ambil apapun yang sekiranya bisa menutup dan mengobati lukamu. Sementara kau terus meraung dan meronta. Memukul apapun yang bisa kau raih, termasuk rambutku. Jambakanmu semakin hari semakin kuat saja. Pun, memar di wajah serta bagian tubuhku yang lain adalah jejak emosi yang kau sisakan.

Andai kau tahu, hatiku lebih tergores. Aku tentu tak akan pernah sanggup untuk membencimu karena aku terlanjur mencintaimu. Seringkali nafasku terasa sesak karena menahan tangis.

Dua tahun bukan waktu sebentar, batinku sudah cukup tersiksa melihat tingkahmu. Namun, aku berusaha untuk mengerti dan memahamimu meskipun tak kunjung berhasil.

Kadangkala, dalam sepi, aku akan berubah menjadi sosok pencaci yang ulung dalam hal menyalahkan takdir. Mengapa Tuhan mengambil kebahagiaan dalam waktu yang tidak tepat.

Semua ini terjadi setelah kau mengalami kecelakaan dan menderita luka serius di bagian kepala. Padahal, keesokan harinya tepat hari dimana kita akan sama-sama mengantar Aurora, buah hati kesayangan kita ke sekolah.

Salahku memang, mengapa malamnya kuizinkan kau pergi untuk pergi mencarikan sepatu yang diinginkan Aurora. Padahal, anak kita sudah mengatakan tak mengapa dibelikan sepatu dengan warna yang berbeda dengan keinginannya. Tapi, sikap keras kepalamu memang satu hal yang tak bisa kutangani, kau pun pergi dan berjanji segera kembali dengan membawa sepatu sekolah warna biru impian Aurora.

Namun, kembalimu ternyata membuatku terluka. Aku mendengar kabar tentangmu dari tetangga kita.

Kalau ku tahu kepergianmu akan kembali sembari membawa berita duka, saat itu tak akan kuizinkan kau pergi meskipun kau memaksa.

Hari-hari kulalui dengan penuh harap, syukur terpanjat karena ternyata nyawamu masih bisa terselamatkan. Aku terus menyelipkan asa di setiap do’a, berharap kau segera bangun dari tidur yang cukup panjang, kau mengalami koma selama 3 bulan lamanya.

Andai kau tahu, aku begitu merindukanmu!

Kabar membahagiakan pun datang, kau akhirnya tersadar dan kupastikan hidupku akan kembali bahagia karena kau kembali.

Namun, setelah bangun dari koma, aku sangat merasa terpukul karena ingatanmu seolah terhapus dan sikapmu menjadi sangat emosional. Menurut penjelasan dokter, kau mengalami gangguan syaraf. Aku, Aurora dan kedua orangtuamu semakin putus asa ketika harus menerima kenyataan bahwa harapan kau untuk bisa sembuh dan kembali normal seperti sediakala hanya 10 persen saja.

Mengandalkan rasa cinta dan sayang yang sudah kuikatkan dalam ikrar pernikahan, menjadi bekal kekuatanku untuk tetap setia mendampingimu. Menerima keadaanmu dalam kondisi apapun menjadi sebuah keharusan bagiku.

Namun, pada akhirnya, aku pun harus pergi meninggalkanmu. Tentu bukan inginku, keputusan untuk tidak menyapa merupakan tuntutan dari kedua orangtuamu.

Hari itu menjadi hari terkelam yang pernah ada. Tak hanya aku, kedua orangtuaku dan kedua orangtuamu pun menangis. Ya, atas alasan kasihan melihatku selalu di siksa dan menjadi sasaran emosionalmu, akhirnya keputusan puncak itu dibuat oleh kedua belah pihak. Tentunya, tanpa menunggu persetujuanku, pun dirimu.

Ya, semacam dipaksa. Aku harus mengucap salam perpisahan dan menghianati janji suci yang pernah diikrarkan bersama. Mereka membuat keputusan yang membuatku resmi menjadi seorang single parent untuk Aurora. Mereka memohon padaku untuk menandatangani surat perceraian dan memintaku pergi dari kehidupanmu, pun mengikhlaskanmu.

Kau pun tahu, aku sangat membenci perpisahan. Maka, atas alasan itulah aku masih terus menyimpan harap. Aku masih menunggumu dan setia atas perasaan cinta ini.

Dalam sendiri, kusadari bahwa ikhlas bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Sedang keadaan memaksa untuk itu.

Apakabar? Sebuah pertanyaan yang seringkali kulontarkan sembari melipat kembali semua harapan. Aku ingin bertemu, pun anakmu. Sebenarnya, lebih baik aku tersakiti karena tindakan emosionalmu daripada karena jauh darimu seperti ini.

“Aku sangat yakin, kita akan kembali bertemu”, bisikku pada semilir angin.

“Tentu, kita akan bertemu!”, ujar seseorang. Suara itu tak asing untuk didengar. Namun, apakah mungkin itu dia? Perlahan aku memalingkan muka ke arah datangnya suara. Entah perasaan apa ini, bahagia bercampur haru. Tuhan, benarkah, dia kembali? Mataku tak lepas dari menatapnya, memperhatikan setiap senti bagian wajahnya. Angin berhembus, menyejukkan. Dia menatapku, tersenyum dan perlahan duduk dihadapanku.

“Aku kembali, untukmu dan Aurora!”

*PM*

)

    Dewi K. Mujahidah

    Written by

    Aku puisi untuk setiap senja yang kucumbui dalam kata