Kisah yang Terulang

Dewi K. Mujahidah
Jul 22, 2017 · 2 min read

Sebelum ini, aku pun pernah merasakan kehilangan dengan alasan yang sama: kehadiran orang baru. Tak mudah untuk sampai pada kata merelakan. Hari-hari dilalui dengan air mata dan penyesalan.

Mengapa dulu kuizinkan hatiku untuk merasa nyaman saat bersama kalian. Mengapa dulu kuizinkan rasaku begitu larut hingga ku merasa tak bisa hidup tanpa kalian. Mengapa diriku begitu mudah mengikatkan banyak harapan agar bisa terus bersama kalian. Mengapa seperti ini, mengapa seperti itu.

Waktuku habis hanya sekedar untuk menyalahkan diri sendiri dengan pertanyaan semacam itu.

Sampai pada suatu hari, aku tersadar akan sesuatu.

Datang dan pergi merupakan sebuah kemestian. Bukan kuasa kita untuk menahan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan untuk pergi.

Bukankah kebersamaan yang pernah kita jalani berawal dari sebuah pertemuan juga?

Pun, kedatangan orang baru bukan sesuatu yang harus disesalkan ternyata. Aku bisa belajar untuk banyak hal. Walaupun, ketika kutelusuri setiap jejak pertemuan dan diantaranya tak ada kesalahan berarti yang pernah kuperbuat.

Ah, mungkinkah alasan bosan?

Tapi, pada akhirnya aku menyadari, Tuhan menitipkan sebuah pelajaran lewat episode ini. Hanya Dia saja yang berhak dijadikan sandaran dalam hal apapun.

Tentu akan ada hal asing yang kemudian terjadi. Keadaan akan terasa berbeda dalam hal kebersamaan. Kadar mesra dalam sapa akan mulai berkurang. Kehangatan dalam canda tawa pun mulai terkikis. Dan, hal sederhana lainnya yang tak bisa diungkap oleh kata akan semakin terasa samar.

Aku pun mendapat kesimpulan, sepertinya kehilangan merupakan akibat dari perasaan rindu.

Namun, bukan keputusan yang baik pula untuk tetap tinggal. Jika hati dirasa tak sanggup untuk bertahan. Diri akan tersiksa karena dipaksa. Maka, mundur perlahan menjadi solusi.

Aku merindu, hanya itu. Namun, kalian tak tahu. Itu saja masalahnya, sederhana bukan?

Menjelaskan pada kepala tak bertelinga seperti memberi cinta pada hati yang tak bisa merasa peka: percuma.

Kemudian, tanpa meminta izin, aku pun melangkah pergi dalam sunyi. Tanpa peduli apakah kalian akan mencari atau tidak. Terpenting, aku mendapatkan pelajaran berarti bahwa pengabaian sangat berpotensi terjadinya perpisahan.

Atas alasan itu, aku bertekad tak akan mengabaikan siapapun yang sudah rela untuk tetap tinggal, menjadi sahabat.

Aku pun tak ingin menjadi orang baru yang hadir diantara mereka yang sudah hidup lama bersama-sama, dalam ikatan apapun.

Hanya tak ingin, kisah ini kembali terulang, pada siapapun.

*PM*

    Dewi K. Mujahidah

    Written by

    Aku puisi untuk setiap senja yang kucumbui dalam kata