Inner Soul of Knight : konflik pertama

Hari ini bukan seperti sebagai kali pertama memulai kerja seperti dialami oleh kebanyakan orang pada umumnya. kondisi dimana keceriaan menjalani pekerjaan sebagai pencari berita, berkeliling untuk menemui masalah sekitar kota atau desa terpencil. sedari awal justru, Aku lah! masalah tersebut, dan ini tidak main-main. tapi sesuatu yang agak mencurigakan juga membuat takjub beberapa orang yaitu, menyaksikan bagaimana cara pikir atasan kami dalam menghadapi orang baru. Seharusnya sejak mengetahui ada sesuatu tidak beres maka dengan mudah dia menyatakan pecat, sebagai kelanjutan dari sikap untuk tidak menerima permintaan dari kepolisian khusus berylium.

Dengan tindakannya terkesan biasa saja, memerintahkan ricky, aku, dan beberapa wartawan lainnya untuk segera melaksanakan tugas pertama kami, yaitu melakukan penelusuran terlebih dulu tentang adanya berita di suatu tempat diluar kota ini, sebuah desa yang dikenal akan tingkat kriminalitas tinggi. Begitu disampaikan informan ke kantor untuk segera melakukan cek lapangan. kami bergegas untuk mengambil beberapa perlengkapan dan juga mobil kantor salah seorang pergi ke tempat parkir, yang lain bersiap menunggu didepan gerbang utama bangunan megah ini.

Kami melakukan perjalanan jauh sekitar dua jam dari kantor, melewati beberapa fasilitas besar kota ini seperti kereta cepat dan bandara, juga kawasan kumuh berisi para penduduk strata bawah dalam pengaruh dan kekuasaan preman kampung. kawasan kumuh ini lumayan menyita waktu perjalanan karena jalanan yang sangat buruk jika dibanding dengan wilayah lain. Berbeda dengan wilayah sebelumnya, mereka semua menatap dengan raut muka penuh dendam dan amarah terhadap segala jenis kendaraan yang lewat, kecuali anak-anak dan wanita dengan tatapan sedih mereka setiap saat.

setelah menunggu sekian lama dalam kendaraan, akhirnya kami sampai juga di tempat yang dimaksud, dengan lokasi agak jauh dari kawasan kumuh tadi, tapi dengan kondisi lingkungan nyaris sama saja dengan sebelumnya. di suatu tempat lapang jalan raya yang tidak terpakai, disampingnya terdapat flyover megah namun terlihat tidak terurus, tepat ditengah-tengah lokasi terdapat garis polisi setempat untuk menandakan siapapun dilarang masuk ke sana. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan kami sambil memastikan atribut kantor bahwa itu dari pihak wartawan kota, laki-laki dengan postur tubuh tegap, dan gaya pakaian bebas anak muda, sepetinya berusia sekitar 30 tahun. “Selamat malam, dan selamat atas tugas pertama kalian untuk peliputan berita kali ini, saya bagian dari informan terpercaya perusahaan kalian”. dia menjabat tangan kami masing-masing namun tidak serta mengenalkan nama “jadi ini adalah liputan pertama kalian tentang kasus agak aneh sebenarnya, sebuah kejadian entah semacam pembunuhan disertai penculikan mungkin, dan sepertinya merupakan perbuatan bukan orang biasa.” dia menambahkan “maksudku merupakan bagian dari rencana jahat pemberontak. Oya, di sebelah sana ada dua orang yang bisa kamu wawancarai lebih jelas karena yang saat itu paling dekat dengan waktu peristiwa terjadi”.

Seseorang lagi yang sama-sama berjalan dari arah informan ini, namun dengan geliat tubuh ketakutan dan khawatir akan ancaman entah dari mana, berjalan pelan mendekati kami, dia perempuan, pakaiannya rapi dan lengkap seperti seorang pebisnis menggunakan jas dan dasi hitam, namun pakaiannya sendiri terlihat kotor. Saking pelannya, ricky berjalan menghampiri dan menarik tangan orang itu menuju kerumunan kami. “jadi, informasi apa yang dapat kami peroleh darimu?” Dia terlihat semakin ketakutan, tiba-tiba, hp di saku celananya bergetar, dia meminta izin untuk melihat pesan didalam ponselnya. Aku walau agak dekat dengannya tidak sempat membaca tulisan didalam pesan tersebut ketika itu dia langsung lari menjauh dari kami.

Kami semua, ricky, juru kamera, beberapa asisten, dan informan, ricky turut memberikan sinyal kepada dua orang prajurit pengaman ikut bersama kami. Dibalik tirai besi sebuah proyek perbaikan fasilitas publik yang belum selesai, wanita tadi sudah terlihat bercucuran air mata, disekitarnya terdapat kumpulan pemberontak mengelilinginya, tepat di tengah-tengah kerumunan kriminal ini terdapat seseorang laki-laki tua dengan badan besar atletis seperti binaragawan sedang mencekik perempuan tadi sambil mengangkat tubuhnya melalui cekikan yang semakin keras dan tinggi. Sambil menangis perempuan tersebut berkata “ampuni saya, saya belum mengatakan apapun dan kepada siapapun tentang kejadian tadi, sungguh”. Aku melihat diantara kelompokku semua terpana akan kejadian tersebut, aku mengira bahwa dua orang prajurit pengaman dapat bersikap lebih tegas dan tidak terkalahkan oleh tatapan mengerikan gerombolan pemberontak ini, namun ternyata sama saja. Justru, mereka terlebih dulu menyatakan bahwa ini adalah suatu ancaman yang tidak dapat mereka atasi hanya berdua, bahkan mungkin kami semua sekalipun.