Loyalitas Berorganisasi

sejak mulai menjadi mahasiswa beberapa tahun lalu, saya telah mengikuti beberapa organisasi laboratorium mahasiswa. dimulai menjadi anggota biasa hingga pengurus dan asisten. ketika mendaftar sebagai anggota rasanya benar-benar perjuangan untuk mengerjakan tugas yang diberikan demi diterima. satu hingga dua minggu pasca lolos seleksi, seperti diagendakan pengurus organisasi dengan mengikuti pembinaan dan pelatihan yang ditawarkan, semua mengikuti dengan tertib, semua hadir dengan baik sesuai dengan ekspektasi. Namun semua berubah ketika negara api menyerang, hmm, maksudnya ketika penyakit ketidakloyalan menyerang, apa ya, bukan tentang keloyalan sih. yang jelas, seperti berkali-kali saya alami, pasca 2 minggu itu maka dimulailah tragedi dimana sedikit demi sedikit orang-orang baru yang barusan direkrut ini(seolah) semakin menghilang ditelan bumi. tersisa saya dan beberapa orang lain who only care about materi pelatihan dan pembinaan dari pengurus itu. dan akhirnya pada hari terakhir dimana yang hadir cuma hitungan jari satu tangan aja, yeah, maksudnya 5 orang termasuk pengurusnya, dia memutuskan untuk mengakhiri tragedi ini hahaha.(IARD, 2013–2014)

kejadian sama muncul ketika bergabung ke UKM, harapannya mungkin kalau beda jenis organisasi mungkin beda kali yaa? namun ternyata sama saja. beberapa waktu lalu ketika masih bertahan dalam organisasi ini, ada teman dekat, ya lumayan agak dekat ketika itu sering banget ngobrol ketika kami segerombol dalam acara UKM ini. mulai dari sekedar pelatihan biasa hingga waktu kumpul ke acara penting banget. lagi — lagi, masing-masing dari kami mulai berguguran. menariknya, di awal ketika ngobrol bareng sama ketuanya langsung terkait dengan masalah ini, dia bilang “udah biasa, tunggu antara seminggu sampai dua minggu, nanti juga kena seleksi alam”. oh jadi namanya seleksi alam. (SEC, 2013–2014).

Sama seperti di laboratorium yang baru, dan ketika bergabung di lab riset ini, semua berjalan normal seperti biasanya. sedikit berbeda dengan organisasi sebelumnya, sepertinya kharisma pemimpin ikut berpengaruh terhadap durasi keloyalan anggota baru untuk tetap setia mengikuti seluruh kegiatan lab. ketika itu saya melihat selama pemimpin saat itu, didukung oleh beberapa dosen pembina kelihatannya lancar jaya dalam mengelola organisasi, terbukti selama sekian lama anggota tetap bertahan bahkan lebih dari sebulan. nah faktor yang saya temukan waktu itu karena sebagian senior yang berada di situ tergolong loyal dan suka membantu junior, terlebih ketika praktikum online hahaha. selain ketika praktikum online pun, dengan pengawasan dari dosen yang kebetulan lumayan aktif karena tidak terlalu sibuk mungkin ya, akhirnya selama sekian waktu para anggota baru berhasil bertahan dalam jangka waktu lama.(ECIA, 2013–2017).

Masih tetap dalam laboratorium riset, beberapa faktor seperti dalam cerita organisasi yang sebelumnya sama saja dengan ini, skenario tidak berbeda jauh. kekurangan sih masih tetap sama seperti sebelumnya, tapi pendekatan dari pengurus kepada anggota baru memang perlu ditekankan, tidak hanya tergantung kepada kharisma pemimpin atau bimbingan dari dosen, melainkan kedekatan dan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan oleh senior kepada juniornya. pernah mengamati tentang UKM lain yang jumlah anggotanya bertahan sekian banyak, waktu itu saya menemukan fakta lain bahwa keterlibatan aktif juga dibutuhkan, membuat setiap anggota didalam organisasi melebur menjadi satu dalam aksi bersama dan semuanya merasa menjadi bagian penting dan benar-benar dibutuhkan adalah faktor penting dalam mempertahankan loyalitas semua orang. jangan sampai ada anggota tipe gampang kabur terlanjut gabut sebelum berhasil didekati. tugas siapa yang mendekati mereka? seluruh anggota organisasi, tentu saja. hilangkan ego karena merasa senior, “ya mereka harusnya junior tanya sesuatu ke kami”, ini yang banyak terjadi dan berakhir tragis bagi organisasi, pada akhirnya yang bertahan cuma senior itu-itu saja.(RPL, 2014–2017).