Untuk Apa Gelar Kalian?
"Jurusan apa bro?"
"** Informatika mas"
"wah, ngodingnya pasti jago ya?"
"maaf, saya tidak bisa ngoding mas"
Belajar bertahun-tahun jurusan infomatika tapi tidak bisa ngoding itu mengecewakan, kamu mengabaikan kemampuan utama sebagai kebanggaan lulusan S.Kom atau Amd.Kom.
Sering merasa kecewa saat berinteraksi kepada entah siapapun, banyak yang menghindar giliran ngobrol tentang pemrograman ketika latar belakang mereka sendiri adalah sebagai mahasiswa komputer. Saya tidak tau di jurusan informatika itu kelasnya bagaimana, kalau jurusan seperti saya sih(sistem informasi, pertemuan antara pemrograman dan manajemen bisnis), mahasiswanya sebagian besar melarikan diri dari kelas pilihan(opsional/buka kelas wajib) pemrograman, namun masih tidak wajar juga, kan sistem informasi itu gelar ketika lulus juga S.Kom. Nah ini informatika loh, sama seperti jika jurusan kedokteran, tentu saja ada kelas/praktikum menyuntik atau semacamnya sebagai kompetensi wajib bagi calon lulusan dokter. Bisa dibayangkan ketika mahasiswa kedokteran menghindarkan diri dari kemampuan menyuntik, kira-kira bakal ditertawakan seluruh penjuru dunia tidak?
Sebagian mahasiswa mengesampingkan tanggungjawabnya terhadap gelar yang mereka raih semata-mata demi sebuah nama atau pajangan pendidikan terakhir saja. Banyak yang seperti ini? perkiraan saya banyak, berdasarkan diskusi di forum-forum selama ini. Nah kalau sudah begini bagaimana?
Masih lebih baik jika misalkan mahasiswa model ini mampu menempa diri menjadi seorang professional diluar tanggungjawab jurusannya. Contohnya seperti Min Liang Tan, dia mahasiswa jurusan hukum yang sukses mendirikan perusahaan teknologi bernama Razer
walaupun diluar ketrampilan wajibnya, namun ia mampu untuk membuat usaha sendiri dan pastinya menyerap tenaga kerja.
Bagaimana dengan mahasiswa lain? beberapa waktu lalu saya ketemu dengan seorang lulusan sarjana S.Kom, bekerja seadanya(serabutan, diluar pekerjaan pemrograman), kemudian main protes menyebarkan kebencian kepada pemerintah, menyatakan pemerintah telah gagal dalam menciptakan lapangan kerja sesuai janjinya, di sisi lain dia sendiri gagal memenuhi kewajibannya menjadi tenaga kerja professional sesuai gelarnya.
Kalau coba kita bahas mengenai supply and demand terhadap tenaga kerja dengan contoh kebutuhan tenaga medis yaitu lulusan kedokteran, ribuan jumlahnya, pemerintah mengetahui akan hal ini.
Sengaja saya ambil contoh dokter, karena profesi ini menurut saya merupakan yang paling dipahami oleh masyarakat luas.
Baiklah sesuai janjinya mengenai lowongan kerja, pemerintah kemudian mendirikan infrastruktur kesehatan berupa rumah sakit dan puskesmas, tersebar di seluruh negeri. Tujuannya tak lain yaitu dua hal. Pertama
memenuhi kebutuhan layanan kesehatan warganya, kedua memenuhi janji lapangan kerja, dengan menyasar kebutuhan tenaga kesehatan. Bisa dibayangkan kalau lulusan kedokteran dalam negeri yang awalnya diharapkan oleh negara mampu mengisi posisi professional sebagai dokter justru tidak bisa menyuntik, mengidentifikasi penyakit pasien, dan merawat pasien. Nah jika begini bagaimana solusinya? Sudah terlanjur bangun rumah sakit eh tenaga medisnya tidak kompeten, akhirnya terpaksa merekrut tenaga kerja luar negeri, sementara itu, kesempatan oposisi menyerang pemerintahan katanya pro asing, lengkap dengan pasukan sekumpulan sarjana tukang protes semacam ini. Mau bagaimana lagi, tenaga kerja dalam negeri tidak memenuhi kompetensi, ketika mau dibutuhkan justru tidak sesuai harapan.