Generasi sulit konsentrasi.

Apakah kamu termasuk Generasi ini?

Setuju kah bila media social adalah tempat informasi yang paling menarik dan paling mudah dijangkau saat ini?

Jika iya, maka artikel ini sependapat dengan Anda.

Sosial media merupakan salah satu tempat berbagai macam jenis informasi. Aliran informasi yang cepat dengan konten yang diisi oleh pengguna untuk pengguna lainnya, sama seperti konsep web 2.0. Ada juga yang berpendapat seperti marketing mix 3.0, yang melahirkan advocate dari pelanggan kepada pelanggan lain. Atau ZMOT, Zero Moment of Truth, calon pelanggan mencari advokasi dari pelanggan sebelumnya sebanyak – banyaknya sebelum membeli suatu produk.

Update status, re-share, notification, upload photo, membuat video dan bahkan membuat caption yang lucu. Semua ini adalah jenis informasi yang sering diunggah oleh pengguna media sosial. Dan lainnya yang berkaitan kegiatan teman – teman anda, teman dari teman anda dan kegiatan antar pertemanan lainnya.

Octalysis Facebook ( https://en.wikipedia.org/wiki/Octalysis )

Kegiatan pertemanan di social media sedikit lebih unik. Menurut Yu-Kai Chou; penemu human-focused gamification design framework, memiliki sisi White Hat Core Drive (WhiteHatCD) dan Black Hat Core Drive (BlakcHatCD). WhiteHatCD adalah factor yang membawa pengguna merasa menang, berkuasa dan penuh kepuasan. Jika pengguna men-share hal bermanfaat dan membuahkan hasil, maka akan puas dan merasa menang. Contoh crowdfunding, merupakan kegiatan pengumpulan dana atau dukungan yang lebih mudah dilakukan melalui sosial media. Crowdfunding sangat membantu kegiatan sosial independen yang tidak mengandalkan pemerintah.

Lalu apa perlu membahas negatif dari sosial media?

Perlu. Pernah merasa diri sendiri yang sulit fokus? Mudah termakan gosip atau berita-singkat media? Merasa kesepian padahal memiliki banyak teman? Merasa iri atau marah ketika postingan teman yang lain berkumpul, selfie sedangkan kita tidak ikut hadir. Apalagi yang paling sulit disadari adalah mudahnya konsentrasi terpecah pada informasi yang tersebar.

Mengapa itu terjadi?

Salah satu penyebab terjadinya adalah faktor social pressure yang didukung dengan faktor meaning. Envy, social prod, touting (faktor Social Pressure) berkolaborasi dengan stalking, elitism dan staying touch with friend (faktor meaning). Alhasil, semakin banyak orang yang terdorong untuk melakukan sesuatu atas dasar melihat orang lain atau untuk mendapatkan apresiasi orang lain. Tidak salah. Hanya jika tidak dibatasi, bisa menjadi distraksi kegiatan dan tujuan seseorang.

Perilaku tersebut berkembang menjadi beberapa gangguan psikis seperti syndrome F.O.M.O dan istilah Slacktivism. Dua gangguan ini memiliki kesamaan ciri, sama sama menciptakan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih oleh sesuatu hal. Slacktivism adalah sindrom yang mengharapkan post, share untuk mendapat apresiasi seperti like dan perhatian. Sedangkan F.O.M.O., takut akan kehilangan atau ketinggalan hal hal baru.

Ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran berlebih ini memicu keinginan lebih untuk terus mencari hal-hal baru. Agar tidak ketinggalan dengan teman lainnya. Nah, ini yang menyebabkan sulitnya generasi sosial media untuk konsentrasi. Pikiran selalu mudah terganggu. Sedikit mengerjakan tugas, lama menonton video streaming. Baca buku sebentar, cek handphone. Saat jam kerja, sibuk terbagi dengan melihat sosial media. Sekali lagi tidak salah, cuma harus dibatasi.

Berbagai konten kreatif tersebar begitu masif dan cepat di sosial media. Musim bisnis, fashion sangat cepat berganti, berdampak pada penggunanya yang selalu menginginkan hal instan dan cepat pula. Contoh pengguna kamera, yang menghasilkan foto tajam dan benar secara teknis dengan mudah meng-klaim diri sebagai fotografer. Tidak perlu penjiwaan dalam fotografi. Padahal, pendalaman foto ada berbagai bidang seperti teknis menggunakan alat bantu pencahayaan, capturing-moment, pemahaman emosi pada foto, pemahaman kegunaan lensa dan sebagainya.

Jangan sampai sosial media mengatur hidup. Aturlah hidup dalam bersosial media.

Nowadays, everyone could be anyone. But, learn how love what you NEED to do, to do what you NEED to love.