Understanding the true self of yours.

Dharma Suta
Sep 1, 2018 · 5 min read

Mungkin akan terlihat sedikit amateur, dikarenakan ini pertama kalinya saya membuat hal seperti ini. Awal mula saya tertarik untuk belajar menulis dimulai pada saat kemarin. Kemarin? Iya, kemarin. Tak butuh segala macam persiapan untuk menjadi ya bisa dikatakan seorang penulis. Penulis ya karena anda suka menulis dengan bercerita segala yang terjadi dalam hidup. Pernakah and merasa bahwa segala yang telah capai selama ini bahwa hanyalah kepuasan semu saja? Semu, hanya sementara saja. Selalu yang dirasakan ada yang kurang. Sementara banyak yang mengatakan bahwa anda kurang bersyukur. Tentu saja, tiada hal yang sebahagia saat ini dan tentunya saya bersyukur. Saya bersyukur masih diberikan kesehatan, perlindungan, kebahagiaan, keluarga, pacar, dan teman yang sayang dengan saya. Namun entah mengapa, bersyukur tanpa melakukan sesuatu itu masih terasa belum cukup bagi saya.

Singkat cerita, setelah berkumpul dengan teman-teman saya, saling sharing tentang hal apa saja yang telah terjadi dalam hidup masing-masing kemarin. Seketika saya merasa hampa dan sedikit khawatir karena merasa diri amat sangat tak berguna.

“Setelah euforia, datanglah rasa kekhawatiran”

Khawatir dan takut menyesal adalah apa yang saya rasakan sekarang, khawatir akan resiko yang akan saya dapatkan dan menyesal jika saya membiarkan waktu terbuang sia-sia. Setelahnya saya menyelesaikan sekolah kedokteran saya, berhadapanlah saya dengan ujian kompetensi akhir saya untuk menjadi seorang dokter (walaupun proses sebenarnya masih panjang), entah keberuntungan atau apa, saya berhasil lulus dan menjadikannya sebagai hadiah kepada orang tua saya. Bahagia yang tak terhingga saya sempat rasakan, tetapi bagaimana setelahnya? Pada bagian berikutnya, saya dihadapkan dengan kebahagiaan segala umat, namun bagi saya berupa ujian hidup yang justru lebih berat yaitu libur panjang. Kenapa dengan libur panjang? Iya dengan libur yang sangat panjang bahkan lebih dari 6 bulan.

“A nightmare dressed like a daydream.”

Terkesan hiperbola? Boleh, silahkan itu opini anda masing-masing. Tak akan menjudge atau bagaimana, karena itu hak anda. Pada dasarnya apapun yang berlebihan membuat anda terasa “penuh” sampai anda merasa “okay, I am so done with this.” Intinya itu tidak baik. Di setiap tahap kehidupan ada baiknya kita rehat sejenak. Ya disinilah mulai suatu proses yang baru, proses penghargaan diri, penentuan jati diri, dan terakhir jalur hidup baru atau lanjutan. Ketiga proses tersebut tidak saya dapatkan dari literatur di perpustakan ataupun jurnal melainkan dari pengalaman hidup saya sendiri. Apa itu proses penghargaan diri? Seperti dari kosa katanya, yaitu berupa bagaimana cara kita untuk menyayangi diri kita sendiri sebagaimana kita menyayangi orang lain. Pada kasus saya, saya mengaplikasikannya dengan berjalan-jalan, berbelanja, dan tentu saja makan. Intinya melakukan hal yang membuat kita senang tanpa harus memikirkan suatu hal yang dapat membuat anda khawatir. Sempat muncul kekhawatiran sampai kapan saya akan mampu melakukan semacam penghargaan ini. Tak disangka dan tak semudah yang banyak orang perkirakan hingga sampai di titik habisnya bagaimana penghargaan diri dan bingung dengan cara yang harus dilakukan lagi. Pada tahap ini munculah perasaan yang menjadikan saya bertanya apakah perlu kita melakukan selebrasi tersebut? Ya mungkin terdengar agak tidak waras, tapi saya yakin sebagian besar anda pasti menjawab perlu, karena ya memang perlu. Tetapi balik lagi apapun yang berlebihan akan memberikan dampak muak dalam hidup. Setelah dirasa “puas” mulailah saya belajar untuk mengenal diri sendiri saya sendiri, akan kemana saya berjalan, berlari, mengarah kemana, dan sampai dimana. Selama hampir 6 bulan saya “menganggur” dari rutinitas saya sebelumnya, diperlunya izin untuk saya melakukan pekerjaan saya membuat saya harus berdiam dan tak menentu harus bagaimana. Sampai di titik inilah mulai muncul banyak ide-ide yang diluar zona nyaman saya. Walaupun begitu tetap muncul rasa takut akan mengambil resiko akan hal yang saya coba nanti. Tak selamanya belanja itu menyenangkan, tak selamanya jalan-jalan atau nongkrong itu menyenangkan, jika semua itu terjadi secara repetitive. Sempat mampir rasa tidak berguna, kekecewaan terhadap diri sendiri, kegelisahan, takut, dan rasa bertanya-tanya yang terus menerus ada di kepala saya. Berhenti atau keluar dari rutinitas yang sebelumnya padat dan sekarang menjadi hampa membuat saya dan diri saya sempat “berperang”. Isi kepala saya berperang satu sama lain, jika kalian pernah menonton film kartun yang dimana ada sisi iblis dan malaikat seperti itulah yang ada di pikiran saya. Akan tetapi sisi ini lebih kepada saya dan diri saya sendiri. Anda bingung? Ya itu tujuan saya. Entah harus bagaimana saya berterima kasih kepada Tuhan dimana saya diberikan keluarga, pacar, dan sahabat-sahabat yang selalu mendengarkan dan ada untuk saya (walaupun sahabat cuma beberapa). Melalui pacar saya, munculah keinginan untuk menuangkan apa yang saya rasakan melalui seperti cerita atau diary. Dear Meisa, if you’re reading this, you know that I love you. Thanks for the caring, listening, understanding and of course the love you give to me.” Trust me, I’ve nevet met a person like her. Through so many ups and downs, she always put her faith in me and so do I. Couldn’t be more grateful. So yeah she’s always with me in every kind of situation that we both sometimes almost gave up yet we still believe that we both will fight for our love. I know it sounds so tacky but whateves. Dan saya setuju, it gets better. Terasa seperti bercerita walaupun tak ada respon namun amat sangat lega.

“Am I gonna start all over or just continue the path?”

“Keputusan ada di tangan anda.” Seperti pernyataan yang selalu muncul di dalam kehidupan kita dimana kita dihadapkan pada suatu situasi dan dengan cepat semua keputusan ada di tangan kita sendiri. “Hidup itu adalah pilihan.” kata mereka yang berpengalaman. Pilihan datang dari keputusan kita sendiri, apakah kita akan lurus saja atau belok ke kanan atau kiri. Mencoba suatu hal yang baru keluar dari zona nyaman membuat kita terkadang berpikir kembali apakah ini tepat? apakah ini jalan saya yang sebenarnya?. Jawabannya ada pada anda masing-masing. Tak ada salahnya mencoba hal baru yang dirasa cocok dan tak ada salahnya tetap berada di zona nyaman. Tak bisa menyalahkan kepada orang yang memilih jalan hidupnya yang baru ataupun tetap “flat” lurus dan berasa aman. Semuanya akan terhubung yang namanya kebebasan. Kebebasan bekerja, berbicara, menentukan pilihan, dan semuanya. Pada dasarnya kita lahir di dunia ini dengan hak kita untuk kebebasan, tak dapat dipungkiri itu memang benar. Namun prakteknya, banyak yang memanfaatkan kebebasan tersebut pada hal yang salah. Kebalikannya, ada yang menggunakannya dengan benar namun sama sekali tidak dihargai bahkan dibantah mentah-mentah kebebasannya. Disitu saya merasa putus asa, sedih, dan kecewa. Apakah masih ada kebebasan di dunia ini, apabila kita selalu dibayang-bayangi dengan “balas budi” ? Jujur memang saya sudah tenggelam amat sangat dalam pada profesi saya yang akan dijalani berikutnya. Namun tak ada salahnya jika mengembangkan minat dengan kebebasan tanpa adanya rasa terkekang (but still in a good way). Ditujukan kepada orang tua, semoga dengan cerita saya ini akan lebih terbuka bagaimana cara berpikir, berpendapat dan saling menghargai. Kewajiban memang untuk merawat, jangan disalahkan karena itu sudah keputusan. Kalimat penutup, perjuangkan kebebasan kalian (padahal sendirinya masih belum mampu). DANKE SCHON.

what you need to be in this life. source: pinterest

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade