Berdamai dengan Masa Lalu

dhea prayitno
Aug 31, 2018 · 2 min read

Baiklah, untuk topik ini mungkin terlihat sungguh sangat mainstream.

Berdamai dengan masa lalu.

Ada apa dengan masa lalu?

Sesulit itukah berdamai dengannya?

Jawabannya, IYA.

Sulit sekali sampai hidup dibuat berantakan olehnya.

source: pinterest.com

Berdamai versiku disini adalah tidak lagi merisaukannya, tidak mendendam atasnya, atau singkatnya legowo atas yang telah ada di masa itu. Harapannya, ketika diketemukan dengan sumber sakit masa lalu tidak ada lagi rasa yang sama.

Untuk mencapai itu? Perlu waktu berhari-hari, sampai menyentuh bulan maupun tahun. Nggak jauh berbeda dengan patah hati, masa lalu yang tidak menyenangkan atau sengaja tidak diberi kesan menyenangkan memang bandel banget buat disembuhkan.

Aku menulis ini bukan berarti aku telah sakses melewati fase perdamaian itu. Nggak sama sekali. Aku masih digeluti dengan masa lalu yang sungguh sangat membingungkan itu. Menganggap dia selalu istimewa karena tanpa disadari kehadirannya selalu membuatku bahagia.

Mungkin hal yang selalu luput dari penafsiranku soal berdamai adalah tentang menaruh masa itu kedalam ruang paling khusus di memori. Yang jika dibuka kapan saja bisa mengaktifkan respons bahagia dan sakit yang bersamaan.

Mungkin ruang yang aku siapkan khusus itu dibuat terlalu lebar, disetel musik yang terlalu sendu. Sehingga resikonya sangat besar walau hanya ditengok sesekali.

Mungkin seharusnya ruangan itu dibuat sama lebarnya dengan kenangan-kenangan indah lainnya. Yang tidak perlu ditaruh persis didepan pintu atau berjajar dengan ruangan lain di lantai satu.

Mungkin seharusnya ruangan itu ditaruh di lantai 7 atau 8. Dimana sejajar dengan ruangan lain yang sama pentingnya namun bukan prioritas. Diberikan alunan musik yang bahagia dan berdendang diri dibuatnya.

Mungkin..

Semoga ruangan itu tidak dipasang bom waktu. Yang mana bisa meledak sewaktu-waktu tanpa bisa dikendalikan. Membuat hancur berantakan, tatanannya tidak terbaca lagi. Hingga untuk menafsirkan apakah itu meja atau kursi menjadi bias dikarenakan sudah tak terbentuk.

Semoga ruangan itu tidak dibuat dari karet. Yang mana mau dibuat hancur berantakan isinya pun tidak mengubah bentuk ruangannya. Si empunya juga bisa kapanpun merakit kembali perabotan di ruangan itu. Dimana tanpa sadar ikut menyelipkan kembali bom waktu di bawah kursi yang baru.

Terus menerus..

Terulang dan terulang kembali..

Sampai saat ini si empunya mungkin harus lebih bersabar untuk memindahkan ruangan tersebut ke lantai lebih atas, memastikan dindingnya kokoh dan tak terbuat dari karet, dan mengecek kembali semoga bom waktu tidak terpasang disana.

Semoga si empunya berhasil.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade