Hakikat Mencinta
Perihal mencintai itu memang banyak ragamnya. Dulu waktu masih kecil, aku cuma tahu kalau cinta itu terbagi jadi lima jenis. Satu, cinta kepada Allah. Dua, cinta kepada Rasulullah. Tiga, cinta kepada kedua orangtua. Empat, cinta kepada kakak. Lima, cinta kepada saudara seiman.

Sekarang lingkupnya terasa semakin melebar.
Cinta bukan melulu soal mencari pacar lalu menikahinya. Aku merasa kalau konsep mencintai yang diajarkan sedari dulu adalah konsep yang terlalu mengotak-ngotakan. Cinta yang aku rasakan beberapa periode kebelakang membuktikan bahwa cinta bisa tak terbatas. Bisa terjadi kepada siapa saja hati kita ingin berlabuh.
Aku cinta kelima aspek yang aku sebutkan sebelumnya. Tapi sekarang aku cinta pada hal-hal diluar itu. Aku cinta hewan peliharaanku yang bernama lingling. Aku cinta teman-temanku di Bali. Aku cinta soulmate ku. Terkhusus, aku sangat jatuh cinta pada orang-orang yang mendukung keberadaanku. Mereka yang tidak hitung-hitung urusan memberikan perhatian dan dukungan penuh baik di kuatku maupun di lemahku.
Aku menambatkan hatiku kepada mereka yang rela menemaniku sehari semalam untuk menyelesaikan perkara yang nggak bisa aku tangani sendiri. Bahkan aku secinta itu dengan lingling yang tanpa perlu memberikan saran apapun, dia mau disana. Rela aku belai dan aku peluk-peluk untuk mendengarkan segala gundah gulana. Yang justru sangat susah aku sampaikan bahkan kepada kedua orangtuaku.
Ada satu kutipan yang benar-benar related dengan yang aku rasakan perihal hakikat mencinta ini.
Menikah itu nasib..
Mencintai itu takdir..
Kau dapat berencana menikahi siapa..
Tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa..
-Sujiwo Tejo
Mbah Tejo benar-benar bisa membuatku bulat meyakini bahwa kita tidak bisa berencana khususnya soal cinta. Terlebih perihal mengapa bisa mencintainya.
Aku mencintai lingling karena justru karena dia tidak berkomentar, aku bisa dengan nyamannya misuh dan nangis-nangis soal masalah yang nggak bisa aku ceritakan ke siapapun. Aku mencintai teman-temanku di Bali, karena justru dengan perkataan mereka yang blak-blakan, tanpa menghakimi bisa membuat aku sadar kalau hidup itu nggak melulu soal bahagianya. Banyak juga sampah-sampah berserakan yang menimpali kita baik dari perkataan maupun perbuatan. Atau malah kondisi. Aku mencintai soulmateku karena mau berapa kali pun aku berkelahi sampai jambak-jambakan, ketika aku rindu nggak ada yang bisa membendungnya lagi. Dia nggak pernah mengatur. Cuma memperhatikan dan sesekali mengingatkan. Tanpa komentar sumpah serapah yang membuat jatuh. Dia bisa mengerti dimana titik aku mampu dan tidak mampu. Dia bukan cuman bisa, tapi juga mau.
Justru aku malah kewalahan dengan orang-orang yang super dekat, yang justru mereka dengan mudahnya membuat aku merasa nggak percaya diri dan menyerah. Aku jadi suka bingung. Cintakah aku dengan mereka? Justru bukankah mereka yang seharusnya aku cinta?
Balik lagi soal Mbah Tejo. Penekanan “kau dapat berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencakanan cintamu untuk siapa”. Benar-benar membuktikan bahwa status itu bisa dibuat kapanpun dan direncanakan selagi kita mau. Tapi ketulusan dari status itu yang justru sulit sekali didapat.
Mencinta itu butuh ketulusan. Sama sekali tanpa paksaan. Bukan sesepele aku butuh dia karena uangnya, raganya, jiwanya. Tapi justru karena tak butuh balasan apa-apa dari mereka. Keberadaannya saja sudah memuaskan hati yang mendamba. Kehilangannya membuat semua gundah gulana karut marut seketika.
Serta cinta itu perihal bersyukur.
Bersyukur dengan keberadaan mereka yang membuat kita makin bersyukur dengan segala yang kita punya.
